Sinergi Bertumbuh Sawit Rakyat – Korporasi

Penguatan Kemitraan sawit diyakini selain mampu meningkatkan produktivitas sawit rakyat menuju 6 ton minyak per hektar kedepan, juga menjadikan kebun sawit sehamparan menjadi kawasan pertumbuhan

Mungkin banyak yang belum tahu atau sudah lupa bagaimana sejarah perkembangan sawit rakyat dan sawit korporasi (swasta, BUMN) di Indonesia sehingga seperti saat ini. Berbeda dengan komoditas perkebunan lain dimana sejak awal petani (pekebun) sudah berkembang bahkan sebagai pioner, meskipun perkebunan sawit telah dimulai sejak tahun 1911 (pada masa kolonial) sampai tahun 1980, pelaku perkebunan sawit hanya dilakukan oleh  korporasi (swasta dan BUMN), tanpa mengikutsertakan petani sawit. Ahli-ahli sebelum tahun 1980-an beranggapan para petani tidak mungkin memasuki perkebunan sawit karena berbagai kendala yang waktu itu diluar jangkauan petani.

Sebagai negara dengan ideologi Pancasila yang memiliki salah satu nilai luhur yakni prinsip Gotong Royong (kerjasama), pemerintah menyamai benih gotong royong itu dalam bentuk kelembagaan kerjasama/sinergi pada akhir tahun 1970-an yang kemudian dikenal dengan Perkebunan Inti Rakyat (PIR). Melalui Kelembagaan sinergi PIR yakni kerjasama korporasi (inti) dengan rakyat (plasma) inilah menjadi pintu masuk petani dalam sektor sawit.

Kelembagaan PIR yang dimulai tahun 1980 dan kemudian dikembangkan dengan berbagai variasi kemitraan, berhasil menumbuh kembangkan sawit rakyat baik dalam pola kerjasama inti-plasma dan variasinya, maupun secara mandiri.

Setelah 37 tahun kemudian yakni tahun 2017 saat ini, sawit rakyat bukan hanya berkembang bahkan bertumbuh lebih cepat dari pertumbuhan sawit korporasi. Semula porsi sawit rakyat  ditargetkan 20 persen, pada tahun 2017  porsi sawit rakyat sudah mencapai 42 persen dari luas sawit nasional. Bahkan diproyeksikan tahun 2025, porsi sawit rakyat akan dapat mencapai 60 persen.

Pengalaman Indonesia dalam mengembangkan sawit rakyat selama periode 1980-2017 tersebut menunjukkan bahwa sinergi ekonomi rakyat dengan ekonomi korporasi, bukan hanya berhasil mengembangkan ekonomi rakyat saja, tetapi potensial menjadikan ekonomi rakyat lebih besar dari ekonomi korporasi. Kerjasama korporasi besar dengan petani yang sering dikhawatirkan para ahli akan mengkooptasi rakyat, tidak terbukti dalam industri sawit.

Kehandalan kemitraan sawit tersebut kini menghadapi tantangan baru yakni peningkatan produktivitas. Saat ini produktivitas sawit rakyat masih tertinggal dibandingkan produktivitas sawit korporasi. Penyebabnya selain mutu bibit yang digunakan banyak yang palsu juga kultur teknis yang dibawah standar.

Melihat perkembangan di daerah-daerah sentra sawit dimana petani sawit plasma, mandiri dan korporasi tumbuh secara bersama-sama, memerlukan penyesuaian dan penguatan kemitraan yakni Kemitraan Sawit Sehamparan (KSS). Berbeda dengan  kemitraan inti-plasma selama ini hanya dalam konteks input-output langsung, KSS ini lebih luas yakni mengelola kebun sawit sehamparan termasuk mengelola infrastruktur bersama (jalan-jalan kebun, jalan masuk-keluar), pengelolaan kawasan, dan lain-lain (seperti Kawasan ekonomi khusus) untuk memanfaatkan economic scale, economic size dan economic of scope.

Jika selama ini kemitraan sawit berhasil menumbuh-kembangkan sawit rakyat, maka kita meyakini dengan kelembagaan kemitraan yang ada (dengan penguatan) selain akan dapat menaikkan produktivitas sawit rakyat dari 3.2 menjadi 6 ton minyak per hektar kedepan, juga akan menjadikan KSS menjadi kawasan pertumbuhan ekonomi modern di kawasan pedesaan.

Source : Sawit.or.id