Pasar Minyak Sawit Dunia Menuju 2050 Siap Menampung Hasil Replanting Sawit

Pasar dunia memerlukan tambahan minyak nabati setidaknya 125 juta ton dalam periode 2017 menuju tahun 2050. Karena itu, pasar dunia siap menampung peningkatan produksi minyak sawit hasil replanting kebun sawit Indonesia yang berkesinambungan

Selama ini, minyak nabati (termasuk minyak sawit) sekitar 80 persen dikonsumsi sebagai bahan pangan (oleofood). Sedangkan 20 persen sisanya untuk energi (biodiesel, pembangkit listrik) dan produk oleokimia (biosurfaktan, biolubrikan, dan lain-lain). Berdasarkan data OECD/FAO (2015) konsumsi minyak nabati untuk oleofood tahun 2012-2014 (rataan dunia) baru mencapai 19 Kg/Kapita. Konsumsi per kapita tertinggi adalah Amerika Serikat dan Kanada (38 Kg), EU (24 Kg), Cina (22 Kg), Indonesia (19 Kg), dan India (15 Kg). Jika konsumsi non-oleofood diperhitungkan maka rataan konsumsi minyak nabati dunia baru mencapai sekitar 24 Kg/kapita/tahun.

Berdasarkan proyeksi Badan-badan dunia, penduduk dunia tahun 2050 akan berjumlah sekitar 9.2 miliar orang. Jika konsumsi per kapita oleofood dunia meningkat dari 19 Kg (2014) menjadi 25 Kg (2050), maka kebutuhan minyak nabati dunia untuk oleofood tahun 2050 adalah sekitar 230 juta ton. Jika trend penggunaan minyak nabati untuk non-oleofood tetap 20 persen maka kebutuhan minyak nabati total (oleofood dan non oleofood) tahun 2050 adalah sebesar 287 juta ton. Hal ini belum memperhitungkan jika terjadi perubahan yang besar pada biodiesel dunia.

Dengan produksi 4 minyak nabati utama dunia tahun 2016 sebesar 162 juta ton, maka dengan proyeksi kebutuhan minyak nabati dunia tersebut berarti diperlukan tambahan produksi minyak nabati dunia sebesar 125 juta ton menuju tahun 2050. Untuk memenuhi tambahan kebutuhan minyak nabati tersebut, dari minyak rapeseed dan minyak bunga matahari tidak dapat lagi diharapkan. Sumber penyediaan minyak nabati dunia yang masih dapat diharapkan adalah dari minyak kedelai dan minyak sawit.

Jika tambahan kebutuhan minyak nabati dunia tersebut 50 persen saja dari minyak sawit, berarti ada tambahan pasar minyak sawit sekitar 65 juta ton menuju 2050. Hal ini berarti produksi minyak sawit dunia harus meningkat setidaknya dua kali lipat yakni dari 65.6 juta ton (2016) menjadi 130 juta ton menuju 2050.

Dengan kebutuhan minyak sawit dunia 2050 tersebut diperkirakan masih bisa menampung peningkatan produksi minyak sawit Indonesia hasil replanting yang dimulai tahun 2017 ini. Oleh karena itu, program replanting sawit yang sudah direncanakan setiap tahun, agar diupayakan keberhasilannya. Pasar minyak nabati dunia yang masih bertumbuh menuju tahun 2050 perlu dijadikan penyemangat untuk melakukan industrialisasi minyak sawit nasional termasuk replanting sawit yang berkesinambungan.

Source : Sawit.or.id