GAPKI optimis CPO akhir tahun 2017 akan capai target 36,5 juta ton

Didukung cuaca baik, Gapki optimis produksi CPO sampai akhir tahun 2017 akan mencapai target yakni sebesar 36,5 juta ton

JAKARTA. Kinerja industri perkebunan kelapa sawit sampai tahun 2017 ini diprediksi melaju lebih kencang dibandingkan tahun 2016. Di proyeksikan sampai akhir tahun ini produksi Crude Palm Oil, (CPO) bisa mencapai 36,5 juta ton, meningkat sekitar 15,8% dibandingkan produksi CPO tahun 2016 yang sebesar 31,5 juta ton.

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono mengatakan, pihaknya optimis produksi CPO pada tahun ini mencapai target karena cuaca yang baik. Selain itu, produksi CPO juta tidak terpengaruh gencarnya kampanye negatif produk kelapa sawit dari Uni Eropa (UE) dan Amerika Serikat (AS).

“Kampanye negatif yang dilakukan itu hanya untuk memperebutkan pangsa pasar saja,” ujar Joko kepada KONTAN, Senin (11/12). Gapki menilai permintaan terhadap CPO di pasar global justru terus meningkat. Karena itu, meskipun kerap dihadang kampanye negatif, tapi Indonesia tetap dapat mempertahankan pangsa pasar CPO di pasar global.

Salah satu langkah yang dilakukan adalah dengan melakukan kampanye masif untuk men-kontra isu negatif yang dilontarkan UE dan AS. “Jadi kita melakukan kampanye juga supaya pasar tidak terpengaruh,” bebernya. Selain itu, Joko bilang, Indonesia juga sudah memetakan mana pasar tujuan ekspor yang masih berpotensial seperti India, Pakistan, serta China.

Pemetaan dilakukan sambil fokus mempertahankan pasar. Indonesia juga tengah berupaya membuktikan bahwa produksi minyak sawitnya sejalan dengan aspek keberlanjutan lingkungan. Hal ini dilakukan dengan melakukan berbagai sertifikasi sistem berkelanjutan. Sertifikasi perkebunan berkelanjutan menjadi bukti bahwa Indonesia mematuhi aspek lingkungan.

“Bagi Indonesia, kita perlu wajah dan martabat kalau produk kita memiliki aspek keberlanjutan.” katanya.

Penyumbang terbesar

Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian (Kemtan) Bambang mengatakan, sampai saat ini produk perkebunan merupakan penyumbang produk domestik bruto (PDB) terbesar, yakni Rp 429 triliun pada tahun 2016.

Dari 15 komoditas perkebunan yang menyumbang devisa, sawit merupakan yang terbesar yakni Rp 260 triliun. Ia optimis tahun ini devisa yang sumbang jauh lebih besar lagi. “Dalam kondisi yang belum terurus dengan baik, perkebunan dapat memberikan kontribusi besar terhadap penerimaan negara,” terangnya.

Menurutnya, menjadi tugas pemerintah meningkatan produktivitas sawit milik petani yang produksinya baru sekitar 2 ton per ha, jauh di bawah produksi perusahan yang mencapai 8 – 10 ton per ha.

Untuk itu pemerintah konsisten melawan kampanye negatif terhadap sawit. Sebab pemerintah menyadari ada banyak yang tidak senang kalau perkebunan sawit Indonsia tidak maju.

Ketua Komisi IV DPR Edhy Prabowo menilai, lndonesia tidak gentar dengan resolusi sawit Uni Eropa, karena pasar ekspor sawit ke Uni Eropa hanya 15% dari total volume nasional. “Apabila kita hentikan ekspor minyak sawit ke Eropa, saya yakin mereka akan kewalahan. Meskipun mereka mengakui impor sawit Indonesia terus meningkat hingga US$ 2 miliar,” katanya.

Direktur Eksekutif Dewan Minyak Sawit Indonesia Iskandar Andi Nuhung juga memperkirakan produksi minyak sawit akan meningkat hingga tahun depan. Di tahun mendatang Indonesia menargetkan produksi minyak sawit bisa mencapai 42 juta hingga 43 juta ton. “Harga tandan buah segar (TBS) sawit di petani juga naik menjadi sebesar Rp 2.000 per kg,” ujarnya.

Source : Kontan.co.id