Pendapatannya Melebihi Sektor Migas : Industri Sawit Sumbang Rp 260 Triliun

INDUSTRI perkebunan merupakan kekuatan dan penopang ekonomi nasional. Pada 2016 memberikan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional sebesar Rp 429 triliun.

Pendapatan sektor perkebunan ini telah melebihi sektor minyak dan gas (migas) yang nilainya hanya Rp 365 triliun. Dari 127 komoditas perkebunan, hanya 15 komoditas saja yang menghasilkan devisa.

“Dari 15 komoditas tersebut, sumbangan terbesar berasal dari kelapa sawit yang mencapai Rp 260 triliun,” ujar Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan) Bambang di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, perkebunan memberikan peran yang sangat penting bagi fundamental ekonomi bangsa Indonesia. “Dalam kondisi yang belum terurus dengan baik, perkebunan dapat memberikan kontribusi besar terhadap penerimaan negara,” terangnya.

Dia menyebutkan, produktivitas kelapa sawit rata-rata nasional baru sekitar 2 ton per hektare (ha), padahal perusahaan sudah mencapai 8-10 ton per ha.

“Pemerintah berkomitmen meningkatkan daya saing perkebunan nusantara. Karena dari kondisi yang belum baik saja sudah memberi andil terbesar terhadap ekonomi, apalagi kalau mampu memperkuat dan memperbaikinya,” jelasnya.

Oleh karena itu, Bambang mengajak, semua komponen bangsa untuk ikut memperkuat komoditas perkebunan nasional di mata dunia. Sebab, banyak negara yang tidak menghendaki perkebunan di Indonesia maju. “Untuk itu, kita harus siap mengawal perkebunan Indonesia agar bebas dari tekanan luar negeri,” ungkap Bambang.

Dia menambahkan berbagai isu negatif menerpa komoditas sawit. Padahal sawit penyelamat hutan tropis dunia dan mengusahakan sawit dapat menghasilkan pangan maupun energi.

Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian Kementerian Koordinator Perekonomian Musdhalifah Machmud mengatakan. Perkebunan berperan sebagai sumber kemakmuran dan pemacu pembangunan wilayah terpencil. “Daerah terpencil atau remote area mulai terbangun dari perkebunan. Sebab yang dapat membangun infrastruktur, komunitas sosial dan ekonomi baru berasal dari pengembangan tanaman perkebunan,” ujar Musdalifah.

Dia menuturkan, perkebunan juga menjadi sumber perekat bangsa karena merekatkan anggota masyarakat yang hidup di wilayah jauh dari perkotaan ataupun pedesaan. Rektor Institut Pertanian Stiper (Instiper) Yogyakarta Purwadi menuturkan, perkebunan menjadi sumber kemakmuran.

Hal ini dibuktikan masyarakat bisa sejahtera. Ini lantaran mereka sudah mampu merubah cara pandang dari sumber eksploitasi menjadi teknik budidaya dengan baik.

Untuk itu, katanya, masyarakat harus mengubah cara pandang (mindset) seolah-olah perkebunan tempat orang miskin. “Kita juga sering mengesankan pakebunan itu kumuh dan kotor. Padahal, perkebunan itu akan baik apabila menggunakan teknologi,” katanya.

Ketua Komisi IV DPR Edhy Prabowo menambahkan, Indonesia tidak gentar dengan resolusi sawit Uni Eropa, karena pasar ekspor sawit ke Uni Eropa hanya 15 persen dari total volume nasional. ASI

Rakyat Merdeka | Selasa, 12 Desember 2017