Pemanfaatan Limbah Sawit : Hasilkan Biogas, Listrik & Pupuk

GUNUNG SUGIH, KOMPAS — Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bekerja sama dengan Universitas Lampung merintis pemanfaatan tandan kosong kelapa sawit menjadi biomassa untuk menghasilkan biogas, listrik, dan pupuk. Selain konservasi lingkungan, program ini juga memberi dampak ekonomi terhadap warga.

Direktur Penilaian Kinerja Pengelolaan Limbah B3 dan Limbah Non B3 Direktorat Jenderal Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Sinta Saptarina Soemiarno, Rabu (13/12), mengatakan, selama ini limbah kelapa sawit hanya dimanfaatkan sebagai pupuk atau dibuang ke tempat pembuangan akhir sampah.

“Untuk itu, kami berinisiatif membangun reaktor biomassa. Selain mengurangi volume sampah, pengolahan tandan kosong kelapa sawit juga menghasilkan biogas dan pupuk,” ungkap Sinta, Rabu (13/12), di sela-sela peresmian reaktor biomassa, di Desa Jatidatar Mataram, Kecamatan Bandar Mataram Lampung, Kabupaten Lampung Tengah, Lampung.

Uji coba pemanfaatan tandan kosong kelapa sawit sebagai biomassa diterapkan di Desa Jatidatar Mataram sejak satu tahun terakhir. Di desa tersebut, tim peneliti membangun reaktor biomassa berkapasitas 20 ton sampah yang mampu menghasilkan 61,6 kilogram biogas. Biogas dihasilkan setelah proses pembusukan selama dua bulan. Nilai investasi reaktor sekitar Rp 700 juta. Saat ini biogas dimanfaatkan 20 keluarga untuk keperluan memasak.

Sinta mengatakan, tandan kosong kelapa sawit juga berpotensi dikembangkan sebagai biomassa untuk menghasilkan energi listrik sekitar 50.000 megawatt (MW). Mengacu hasil kajian tim peneliti Universitas Lampung, limbah padat berupa tandan kosong kelapa sawit di Indonesia mencapai 5,17 juta ton pada 2011 dan terus meningkat setiap tahun.

Saat ini, menurut Sinta, pemanfaatan biomassa sebagai salah satu sumber energi terbarukan di Indonesia baru sekitar 4 persen. Pemerintah menargetkan, pada 2025, pengembangan energi terbarukan mencapai 23 persen.

Sinta mengatakan, uji coba di Lampung akan diterapkan di daerah lain. Pada 2018, bakal dibangun fasilitas pengolahan serupa di enam provinsi lain, yakni Sumatera Utara, Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Sulawesi Barat.

“Pemilihan lokasi mempertimbangkan jumlah timbunan limbah biomassa terbesar, kebutuhan energi, dan kebutuhan pangan bagi masyarakat setempat,” jelasnya.

Dia berharap, pemerintah daerah dan kalangan swasta mendukung upaya pemerintah mengembangkan energi terbarukan. Salah satunya dengan membantu pembangunan reaktor biomassa atau truk pengangkut limbah kelapa sawit.

Hasilkan pupuk

Sementara itu, Ketua Tim Peneliti Pemanfaatan Tandan Kosong Kelapa Sawit Sebagai Biomassa dari Universitas Lampung Udin Hasanuddin menjelaskan, pengolahan limbah kelapa sawit dilakukan secara anaerobik atau tanpa oksigen dengan memanfaatkan mikroorganisme untuk menghasilkan biogas. Produk utama biogas dapat dikonversi menjadi energi listrik. Adapun produk turunan yang dihasilkan pupuk cair dan kompos.

Penggunaan biogas di Desa Jatidatar Mataram, lanjut Udin, telah menekan biaya konsumsi penggunaan elpiji. Ke depan, warga diharapkan mendapatkan nilai tambah lain dari pemanfaatan pupuk. Pihaknya tidak melakukan konversi ke energi listrik karena desa itu sudah teraliri listrik PLN.

“Tandan kosong kelapa sawit juga dapat dimanfaatkan sebagai media budidaya jamur merang,” tambah Udin.

Kepala Desa Jatidatar Mataram Supriyono mengatakan, reaktor biomassa dikelola badan usaha milik desa (BUMDes). Saat ini BUMDes telah mengelola usaha pasar kampung. Pengurus juga akan mengelola sampah kelapa sawit dan limbah organik lainnya.

Bahan baku pengolahan biomassa, menurut dia, mudah didapat karena terdapat tiga pabrik pengolahan kelapa sawit di Kecamatan Bandar Mataram. Dari tiga pabrik itu, setiap hari dihasilkan 100-200 ton tandan kosong sawit.

“Nantinya, warga pengguna biogas juga diminta mengumpulkan sampah. Sampah itu dibeli oleh pengurus BUMDes lalu diolah menjadi biogas dan pupuk untuk selanjutnya dijual kembali kepada warga sekitar,” katanya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Lampung Tengah Genta Surimuda mengatakan, pemerintah kabupaten tertarik mengadopsi program tersebut di tempat lain. Pasalnya, selama ini limbah kelapa sawit menjadi salah satu persoalan lingkungan di daerah itu. Setiap tahun pengolahan kelapa sawit menyisakan limbah tandan kosong sekitar 6.600 ton yang belum termanfaatkan optimal. (VIO)

Kompas | Kamis, 14 Desember 2017