GAPKI SUMSEL : Prioritaskan 3 Program Kerja 2018

Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Sumsel pada 2018 memprioritaskan tiga program kerja.

Tiga program kerja yakni pencegahan kebakaran lahan dalam upaya mendukung event Asian Games 2018, peningkatan kerja sama dan pembinaan petani plasma, swadaya dan swadaya, serta pemenuhan kriteria kebun dalam mendapatkan sertifikat berkelanjutan (Indonesian Sustainable Palm Oil/ISPO).

Harry Hartanto Ketua Gapki Sumsel mengatakan, tiga program itu tahun sebeum sudah dicanangkan tinggal pada 2018 ini terus berlanjut, terlebih program pencegahan kebakaran lahan, hal itu sangat penting dilakukan.

“Sudah menjadi komitmen kami, yang tergabung di Gapki untuk terus menjaga lahan agar tidak terjadi kebakaran, dan itu sudah disampaikan kepada Gubernur Sumsel dan kepala daerah lainnya,” ungkapnya saat dihubungi Warta Ekonomi, Rabu (3/1/2018).

Menurutnya hingga kini, Gapki terus menerjunkan pesonilnya untuk memantau lahan, karena mereka yang bertugas memantau tersebut merupakan personil yang terlatih.

“Kami sudah melatih 171 orang untuk menjadi instruktur pemadam kebakaran melalui 6 angkatan sejak 2016-2017 lalu,” paparnya.

Para petugas itu, terangnya sudah tersebar diseluruh kabupaten di Sumsel yang ada perusahaan perkebunan sawit serta melibatkan masyarakat setempat.

Selain itu, lanjutnya menyediakan posko yang saat ini telah berdiri 135 posko pencegahan dan pemadaman dengan dilengkapi peralatan pemadam sesuai standar.

“Dengan Polda dan TNI kami selalu koordinasi dengan membangun juga kanal blocking,” tambahnya.

Sedangkan terang Harry terkait program meningkatan petani plasma, pihaknya terus melanjutkan program tersebut sebab menurut data dinas perkebunan plasma kemitraan yang ada saat ini kurang lebih 150.000 kemitraan plasma sehingga akan terus digarap.

Sementara soal ISPO pihaknya mendoron seluruh perusahaan perkebunan untuk bersertifikasi ISPO sehingga dapat meningkatkan daya sing di pasar internasional.

Ia mengatakan pemerintah melalui lembaga sertifikasi ISPO terus mendorong kepemilikan sertifikat ini mengingat baru tercapai sekitar 30% dari total perusahaan sawit di Indonesia, berjumlah di atas 1.000 perusahaan.

Hal ini terkait juga dengan posisi Indonesia sebagai negara produksi CPO terbesar di dunia dengan produksi 33,5 juta ton pada 2016. Indonesia berkeinginan menjaga keberlangsungan sektor perkebunan dan industri ini yang diperkirakan bakal berkembang pesat di masa datang seiring dengan peningkatan kebutuhan minyak nabati dunia.

Source : Wartaekonomi.co.id