Pengembangan Biodiesel di Malaysia

Malaysia merupakan negara produsen CPO terbesar di dunia. Dengan ketersediaan CPO sebagai bahan baku bagi industri biodiesel, maka Malaysia tidak hanya untuk memenuhi konsumsi domestik tetapi juga memiliki potensi yang sangat besar menjadi negara produsen biodiesel serta mampu menjadi pelaku aktif dalam pasar biodiesel global, khususnya dalam memenuhi permintaan biodiesel dunia yang terus bertumbuh.

Pengembangan biodiesel juga memiliki makna strategis untuk memecahkan masalah widening gap antara pertumbuhan (growth) konsumsi yang lebih besar dibandingkan dengan pertumbuhan produksi yang sekaligus menunjukkan adanya global excess demand pada pasar biodiesel dunia. Tujuan tulisan ini adalah untuk menganalisis sejauh mana potensi Malaysia dalam industri biodiesel dunia di masa mendatang.

Industri biofuel di Malaysia memiliki kontribusi penting dalam memenuhi kebutuhan energi terbarukan di Malaysia, dengan menyediakan bahan bakar bersih lingkungan di dalam negeri. Mengingat potensi yang dimiliki saat ini, kebijakan supply side merupakan kebijakan yang tepat bagi Malaysia, dan mendorong Malaysia berperan dalam memenuhi global excess demand pasar biodiesel dunia, yakni dengan pengembangan mandatori B20.

PENDAHULUAN

Isu renewable energy (energi terbarukan) merupakan salah satu isu sentral dunia saat ini. Keberadaan sumber energi fossil yang semakin menipis dan dampak negatif lingkungan yang dihasilkan telah mendorong negara negara di dunia untuk beralih ke sumber energi terbarukan dan mengurangi ketergantungan pada konsumsi sumber energi fossil. Hal ini melandasi sejumlah lembaga-lembaga dunia membuat keputusan untuk menggunakan energi ramah lingkungan. Malaysia merupakan negara produsen CPO terbesar di dunia.

Dengan ketersediaan CPO sebagai bahan baku bagi industri biodiesel, maka Malaysia tidak hanya untuk memenuhi konsumsi domestik tetapi juga memiliki potensi yang sangat besar menjadi negara produsen biodiesel serta mampu menjadi pelaku aktif dalam pasar biodiesel global, khususnya dalam memenuhi permintaan biodiesel dunia yang terus bertumbuh. Tahun 2010, produksi biodiesel dunia mencapai 20,29 juta kl, dan tahun 2016 telah meningkat 64% menjadi 33,25 juta kl. Dengan rata-rata kenaikan 3,86 persen per tahun, maka tahun 2025, diproyeksikan produksi biodiesel dunia akan mencapai 41,38 juta kl atau 2 kali lipat dibandingkan produksi tahun 2010.

Beberapa negara besar dunia yang memiliki tingkat konsumsi energi yang sangat tinggi seperti Amerika Serikat, Negara-negara Uni Eropa (terutama Jerman dan Spanyol), China, dan negara lainnya Pengembangan biodiesel juga memiliki makna strategis untuk memecahkan masalah widening gap antara pertumbuhan (growth) konsumsi yang lebih besar dibandingkan dengan pertumbuhan produksi yang sekaligus menunjukkan adanya global excess demand pada pasar biodiesel dunia. Tulisan ini secara khusus mengkaji pengembangan biodiesel di Malaysia, dan ingin menganalisis sejauh mana potensi Malaysia dalam industri biodiesel dunia di masa mendatang.

KEBIJAKAN BIODIESEL DI MALAYSIA

Berdasarkan Kebijakan Biofuel Nasional yang dilepaskan pada tanggal 21 Maret 2006, tujuan Pemerintah Malaysia adalah menggunakan sumber energi ramah lingkungan dan berkelanjutan untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan untuk menstabilkan dan meningkatkan harga minyak kelapa sawit. Berdasarkan rencana ini, biofuel akan diproduksi untuk transportasi, industri, dan ekspor, dan GOM akan mengembangkan teknologi biofuel rumahan dan biofuel generasi kedua.

Pada tahun 2007, Parlemen mengeluarkan Undang-undang Industri Biofuel, yang mencakup ketentuan untuk Kementerian Industri dan Komoditas Perkebunan untuk menerapkan mandatori biodiesel. Implementasi penuh campuran B7, meningkatkan konsumsi biodiesel menjadi 525 juta liter pada tahun 2015. Mandat B10 yang seyogyanya dilaksanakan pada tanggal 1 Juli 2016, untuk sektor transportasi konsumen (yang mencakup transportasi darat dan laut) terealisasi pada triwulan I 2017. Implementasi penuh B10 secara eksklusif untuk sektor jalan dan B7 untuk sektor industri akan menyebabkan konsumsi biodiesel meningkat menjadi 770,7 juta liter. Implementasi B10 secara eksklusif untuk sektor angkutan on-road dan laut komersial dan B7 untuk sektor industri dipandang tepat karena implementasi kebijakan ini berhasil memperkuat harga CPO.

Data di atas menunjukkan bahwa kebijakan pengembangan biodiesel Malaysia relatif lebih awal dibandingkan dengan Indonesia dan Thailand, namun keberhasilan biodiesel Malaysia relatif tertinggal dan mandatori biodiesel Malaysia tidak berjalan sesuai rencana. Di Malaysia terdapat 20 perusahaan biorefineries dan memiliki kemampuan menghasilkan 2.880 juta liter per tahun. Namun kapasitas terpasang Industri Biodiesel di Malaysia pada kurun waktu 2008-2012 hanya tercapai kurang dari 10%, dan mulai meningkat hingga tahun 2015, namun masih 20%. Hal ini menunjukkan potensi pengembangan biodiesel Malaysia cukup tinggi namun implementasi kebijakan ini hingga 80% belum termanfaatkan dengan maksimal.

SUPPLY DEMAND BIODIESEL MALAYSIA

Supply demand biodiesel Malaysia disajikan pada Tabel 1 berikut :

PRODUKSI BIODIESEL

Dari data di atas, dapat dilihat perkembangan produksi biodiesel Malaysia. Pada tahun 2008, produksi biodiesel Malaysia adalah 186 juta liter. Pada tahun 2013 meningkat dua kali lipat lebih menjadi 513 juta liter. Kemudian pada tahun 2017, naik 87 persen menjadi 960 juta liter. Secara umum, pada periode 2008-2017 perkembangan produksi biodiesel Malaysia bersifat fluktuatif, namun memiliki trend yang positif. Yakni dengan pertumbuhan (growth) 29.6 persen per tahun.

KONSUMSI BIODIESEL

Pada kurun waktu 2008-2017, perkembangan konsumsi biodiesel Malaysia, sbb.: (1) Pada tahun 2008-2010 konsumsi bodiesel Malaysia adalah 0; (2) tahun 20112013, rata-rata konsumsi sebesar 113 juta liter, dan (3) pada tahun 2014-2017, ratarata konsumsi biodiesel Malaysia meningkat tajam sebesar 549 juta liter per tahun. Hal ini menunjukkan informasi penting, dimana pada 3 tahun pertama, kebijakan Malaysia lebih berorientasi ekspor, dan sejak tahun 2011 mulai berorientasi domestik.

Tabel 2. Perkembangan Blend Rate Biodiesel Malaysia 2008-2017

Bila tingkat konsumsi di atas dibandingkan penggunaan diesel secara keseluruhan (on road diesel use), maka terlihat, pada tahun 2011 penggunaan biodiesel adalah 85 juta liter, sedangkan penggunaan diesel secara keseluruhan mencapai 6.330 juta liter.

Hal ini menunjukkan tingkat blending baru mencapai 1.3 persen. Demikian tahun tahun berikutnya, terdapat perkembangan blending rate yang semakin meningkat (Tabel 2) hingga mencapai B10 pada tahun 2017. Kondisi inilah yang mendorong Malaysia mengalami keterbatasan untuk melakukan ekspor dalam jumlah yang besar, karena pemenuhan konsumsi yang lebih urgent.

Dari 960 juta liter produksi biodiesel Malaysia pada tahun 2017, sebanyak 80 % digunakan untuk kepentingan domestik, dan hanya 20 persen yang dapat diekspor.

WIDENING GAP

Dalam jangka panjang, juga terlhat fenomena widening gap antara penggunaan energi fossil (gasoline) dengan ketersediaan biodiesel. Pada tahun 2026, total penggunaan gasoline di Malaysia akan mencapai 22.115 juta liter, dan konsumsi diesel akan mencapai 13.580 juta liter.

Dengan data historis saat ini, dapat diproyeksikan estimasi produksi biodiesel Malaysia adalah 1.901 juta liter atau hanya mampu mencapai blending rate B14. (Gambar 2), dan hal ini tidak mengubah posisi Malaysia dan tetap hanya berperan besar untuk memenuhi konsumsi domestiknya atau bukan sebagai pengekspor biodiesel dunia.

PROYEKSI B15 DAN B20 DI MALAYSIA

Kesenjangan yang semakin melebar di atas dapat diatasi jika Kebijakan Nasional Malaysia beralih ke orientasi ekspor dan melakukan kebijakan supply side. Disamping ketersedian bahan baku, juga kapasitas terpasang industri biodiesel Malaysia saat pada tahun 2017 masih mencapai 33 persen.

Produksi saat ini (960 juta liter) masih dapat dimaksimumkan ke level 2880 juta liter. Disamping itu, jumlah industri yang aktif saat ini adalah 20 dari 34 industri yang ada. Permasalahan selama ini adalah Mandatori biodiesel Malaysia selalu jauh dibawah target yang direncanakan. Skenario produksi dengan blending rate B10 (business as usual) dibandingkan dengan proyeksi B15 dan B-20 disajikan di bawah ini. (Gambar 3).

Produksi as business usual akan mendorong konsumsi domestik sebesar 770 juta liter pada tahun 2017 menjadi 950,6 juta liter pada tahun 2026 (naik 23%). Dengan B-15, tingkat konsumsi biodiesel on road pada tahun 2026 akan mencapai 1.425.9 juta liter atau naik 85 persen. Dan dengan kebijakan B20, akan meningkat 2,5 kali lipat dibandinkan dengan kondisi saat ini, yakni dengan tingkat konsumsi 1.901,2 juta liter. Dengan kebijakan B20, Malaysia akan memiliki peran yang lebih besar menjadi negara eksportir biodiesel di pasar dunia.

KESIMPULAN

Industri biofuel di Malaysia memiliki kontribusi penting dalam memenuhi kebutuhan energi terbarukan di Malaysia, dengan menyediakan bahan bakar bersih lingkungan di dalam negeri. Mengingat potensi yang dimiliki saat ini, kebijakan supply side merupakan kebijakan yang tepat bagi Malaysia, dan mendorong Malaysia berperan dalam memenuhi global excess demand pasar biodiesel dunia, yakni dengan pengembangan mandatori B20.

Tim Riset PASPI | Monitor Vol. III. No. 42