Prospek Industri Sawit 2018 Semakin Berkilau?

Industri minyak sawit Indonesia mengalami banyak dinamika baik di level global maupun di dalam negeri. Pada level global, industri sawit kita menghadapi ancaman Perancis yang merencanakan memberlakukan tarif impor super tinggi, tekanan resolusi Parlemen Uni Eropa dan tekanan Amerika Serikat tentang tuduhan dumping ekspor biodiesel Indonesia.

Tulisan ini bertujuan untuk mereview perkembangan industri sawit Indonesia 2017 dan memprediksi tahun 2018. Pada tahun 2017, pasar empat minyak nabati utama dunia mengalami kelebihan permintaan (excess demand). Hal inilah mendorong terjadinya perubahan harga CPO dunia dari pergerakan menurun (bottoming-in) sejak tahun 2011 kemudian bergerak naik (bottoming out) pada tahun 2016 dan 2017.

Diperkirakan tahun 2018 pergerakan harga masih meningkat melanjutkan trend 2017. Dengan demikian industri minyak sawit Indonesia tahun 2018 tampaknya lebih baik dibandingkan tahun 2017. Produksi CPO tahun 2018 akan lebih tinggi dari produksi CPO tahun 2017. Demikian juga dengan harga CPO di pasar global diperkirakan akan naik 5,42 persen dari USD 735/ton menjadi USD 775/ton atau lebih baik dibandingkan dengan tahun 2017.

PENDAHULUAN

Tahun 2017 akan segera berakhir dan akan memasuki tahun baru 2018. Selama tahun 2017, banyak dinamika yang mewarnai dinamika industri sawit nasional baik di level global maupun di dalam negeri. Pada level global sepanjang tahun 2017, industri sawit kita menghadapi tekanan perekonomian global dan jatuhnya harga minyak fosil yang menyebabkan pelemahan permintaan minyak sawit (juga minyak nabati) global.

Selain itu, industri sawit juga mengahadapi gerakan anti sawit diberbagai negara tujuan ekspor dan kebijakan impor yang kurang bersahabat. Ancaman Perancis yang merencanakan memberlakukan tarif impor super tinggi, meskipun tidak jadi dieksekusi sempat membuat gusar industri sawit kita. Disamping itu tekanan resolusi Parlemen Uni Eropa (Purba, 2017) mempengaruhi industri persawitan nasional ditambah tekanan Amerika Serikat tentang hambatan ekspor biodiesel dengan tuduhan dumping (PASPI, 2017).

Di dalam negeri juga tak kalah peliknya tekanan terhadap industri sawit, Gerakan anti sawit di daerahdaerah sentra sawit. PASPI (Palm Oil agribusiness Strategic Policy Institute) selama tahun 2017 telah intensif mengajak kampus-kampus di daerah sentra sawit untuk membangun kebersamaan melalui bedah buku Mitos Vs Fakta Industri Minyak sawit dalam isu sosial, ekonomi dan lingkungan global. Selain melalui diskusi lintas kampus, pencerahan industri sawit juga intensif dilakukan melalui media sosial. Kegiatan ini sudah berjalan sejak 2015 dan kumulatif berjumlah 26 kampus.

Industri persawitan nasional bisa merasakan langsung, dimana tekanan LSM dalam negeri yang selama ini anti sawit telah mereda. Dan bahkan dalam bentuk yang berbeda berhasil melihat keunggulan industri ini untuk pembangunan nasional, dan berbalik memberikan pandangan dan masukan masukan yang bermanfaat bagi persawitan Indonesia, dan sebagian mereka masuk dari sudut pandang sustainabilitas dan memberi dukungan positif terhadap kebijakan pemerintah tentang ISPO (Indonesian Sustainable Palm Oil). Tulisan ini bertujuan untuk mereview perkembangan industri sawit Indonesia 2017 dan memprediksi tahun 2018.

PROSPEK EKONOMI DUNIA 2018

Perkiraan ekonomi dunia tahun 2018 tampaknya akan lebih baik dari tahun 2017. Menurut perkiraan IMF (World Economic Outlook, Oktober 2017), perekonomian dunia tahun 2018 diproyeksikan meningkat dibandingkan tahun 2017 yakni menjadi 3.7 persen (Tabel 1). Lokomotif tradisional ekonomi dunia yakni negara-negara maju (advanced economies) bertumbuh dari 1.7 persen tahun 2016 menjadi 2.2 persen tahun 2017, dan tahun 2018 diproyeksikan menurun menjadi 2.0. Perekonomian USA diproyeksikan bertumbuh dari 2.2 persen (2017) menjadi 2.3 persen (2018). Sementara ekonomi EU diperkirakan sedikit mengalami penurunan dari 2.1 persen (2017) menjadi 1.9 persen (2018).

Tabel 1. Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Dunia 2018

Dipihak lain lokomotif baru perekonomian dunia yakni negaranegara berkembang Asia (Emerging and Developing Asia) pada tahun 2018 diproyeksikan akan stabil yakni 6.5 persen. Perlambatan ekonomi terjadi di Cina yakni dari 6.8 persen menjadi 6.5 persen. Sedangkan ekonomi India diproyeksikan naik yakni menjadi 7.4 persen. Kawasan Sub Saharan Afrika setelah mengalami perlambatan besar tahun 2016 kembali tumbuh (bottoming out) menjadi 2.6 persen (2017) dan kembali naik menjadi 3.4 persen tahun 2018.

Berbeda dengan ekonomi MEA diproyeksikan stabil di 5.2 persen. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2018 setelah tahun 2017 mengalami kenaikan. Namun berapa besar pertumbuhan tahun 2018 tampaknya masih bervariasi. Perkiraan IMF sendiri, ekonomi Indonesia tahun 2018 akan tumbuh 5.3 persen. Menurut perkiraan IMF harga minyak fosil dunia tahun 2018 diperkirakan mengalami penurunan menjadi USD 50.17 per barrel dari harga tahun 2017 yakni USD 50.28 per barrel.

Dengan catatan berbagai risiko global tersebut, tampaknya secara umum ekonomi global tahun 2018 mengalami perbaikan setidaknya masih lebih baik dari tahun 2017. Meskipun ekonomi Cina dan EU sedikit mengalami perlambatan, negara-negara/kawasan tujuan ekspor minyak sawit Indonesia (Cina, India, EU, USA, Afrika) umumnya bertumbuh lebih baik dari tahun 2017. Artinya negara-negara tujuan ekspor minyak sawit Indonesia tahun 2018 diperkirakan akan menikmati gairah baru pertumbuhan pendapatan yang lebih baik dari tahun sebelumnya, sehingga diperkirakan akan meningkatkan impor minyak sawit tahun 2018.

POYEKSI PASAR MINYAK NABATI DUNIA

Empat minyak nabati utama dunia yakni minyak sawit, minyak kedelai, minyak bunga matahari dan minyak rapeseed mencakup 85-90 persen konsumsi minyak nabati dan hewani global. Menurut data Oil World (2017) pangsa pasar terbesar dikuasai oleh minyak sawit yakni 39 persen, kemudian disusul minyak kedelai sebesar 33 persen dan pangsa minyak rapeseed yakni 17 persen serta pangsa minyak bunga matahari sebesar 10 persen. Oleh karena itu perubahan produksi dan konsumsi keempat minyak nabati tersebut sangat mempengaruhi pasar minyak nabati dunia.

Dalam kondisi normal berdasarkan Oil World 2000-2015 (Tabel 2), tambahan produksi dari keempat minyak nabati utama dunia mencapai 5,4 juta ton per tahun yang disumbang oleh minyak sawit (47,5 persen), minyak kedelai (31,2 persen), minyak bunga matahari (6,9 persen) serta minyak rapeseed (14,3 persen). Sementara itu untuk kebutuhan konsumsi edible oil global, tambahan konsumsi keempat minyak nabati tersebut sekitar 5,4 juta ton per tahun yakni tambahan konsumsi minyak sawit (2,3 juta ton), minyak kedelai (1,6 juta ton), minyak bunga matahari (0,4 juta ton) dan minyak rapeseed (0,9 juta ton).

Data ini memberikan arah perkembangan yang positif (positive sign). Dengan tambahan produksi tersebut maka dapat dihitung (diestimasi) produksi minyak nabati ke depan yang intinya CPO memiliki pertambahan yang paling besar dibandingkan dengan tiga sumber minyak nabati lainnya. Berdasarkan proyeksi data historis (Tabel 3), produksi CPO Indonesia tahun 2017 adalah 36,3 juta ton dan tahun 2018 diproyeksikan menjadi 37,9 juta ton. Menurut data PASPI (2017) produksi minyak sawit Indonesia tahun 2017 diperkirakan 35,4 juta ton dan tahun 2018 39 juta ton.

Proyeksi produksi minyak sawit 2017 dan 2018 tersebut, mempengaruhi produksi minyak nabati dunia. Menurut data PASPI, produksi minyak kedelai dunia meningkat dari 51,8 juta ton (2017) menjadi 54,65 juta ton (2018). Proyeksi tersebut tampaknya over estimates mengingat secara historis tambahan produksi minyak kedelai dunia hanya sekitar 1,7 juta ton per tahun.

Dengan demikian, proyeksi produksi dan konsumsi minyak nabati dunia untuk tahun 2017 dan 2018 disajikan pada Tabel 4 berikut. Pasar empat minyak nabati dunia dalam periode 2011-2015, menunjukkan bahwa produksi lebih besar dari konsumsi (excess supply). Hal ini lah penyebab mengapa harga CPO dunia mengelami penurunan sejak tahun 20112015. Selanjutanya tahun 2017 produksi minyak nabati dunia meningkat namun lebih kecil dibandingkan dengan kenaikan konsumsi, sehingga menciptakan kondisi kelebihan permintaan (excess demand) dan diperkirakan berlanjut ke 2018.

Kondisi excess demand CPO dunia yang mendorong kenaikan harga CPO cif Rotterdam pada tahun 2017 juga menarik kenaikan harga CPO fob Belawan (Gambar 1). Setelah mengalami penurunan sejak tahun 2011-2015, harga CPO cif dan fob mulai mengalami pembalikan (bottoming out) pada tahun 2017.

Diperkirakan kenaikan harga CPO dunia tersebut masih berlanjut ke tahun 2018. Apalagi pada tahun 2018 masih terjadi excess demand minyak nabati dunia. PASPI memperkirakan harga CPO cif Rotterdam tahun 2018 akan berada pada kisaran USD 775,86 per ton.

Dengan demikian industri minyak sawit Indonesia tahun 2018 akan lebih baik dibandingkan tahun 2017. Produksi CPO tahun 2018 akan lebih tinggi dari produksi CPO tahun 2017. Demikian juga harga CPO dunia akan lebih baik dibandingkan dengan tahun 2017. Dengan kata lain industri minyak sawit Indonesia tahun 2018 tampakya lebih berkilau dibanding tahun 2017.

KESIMPULAN

Perekonomian dunia tahun 2018 diperkirakan akan meningkat dan lebih baik dari tahun 2017. Kecuali ekonomi Cina dan EU yang sedikit melambat, hampir semua negara atau kawasan akan menikmati pertumbuhan ekonomi yang lebih baik pada tahun 2018.

Dampak El Nino tahun 2015 menurunkan produksi minyak sawit dunia dari Indonesia dan Malaysia yakni sebesar 3,6 juta ton (2015) dan 9,4 juta ton (2016). Akibatnya pasar empat minyak nabati utama dunia mengalami kekurangan pasokan atau kondisi kelebihan permintaan (excess demand) pada tahun 2017. Hal inilah mendorong terjadinya perubahan harga CPO dunia dari pergerakan menurun (bottoming-in) sejak tahun 2011 kemudian bergerak naik (bottoming out) pada tahun 2016 dan 2017.

Diperkirakan tahun 2018 pergerakan harga tampaknya masih meningkat melanjutkan trend 2017. Dengan demikian industri minyak sawit Indonesia tahun 2018 tampaknya lebih baik dibandingkan tahun 2017. Produksi CPO tahun 2018 akan lebih tinggi dari produksi CPO tahun 2017. Demikian juga harga CPO dunia akan lebih baik dibandingkan dengan tahun 2017. Dengan kata lain industri minyak sawit Indonesia tahun 2018 tampakya lebih berkilau dibanding tahun 2017.

Tim Riset PASPI | Monitor Vol. III. No. 44