Tingkat Suku Bunga Kredit, Replanting / Produktivitas & Penggunaan Dana Sawit

Arah pengembangan perkebunan kelapa sawit nasional saat ini adalah peningkatan produktivitas sawit. Dengan “target 35-26” yakni peningkatan produktivitas Tandan Buah Segar (TBS) sebesar 35 ton TBS per hektar dengan rendemen minyak 26 persen, Indonesia bisa mencapai produktivitas 9 ton/ha.

Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis produktivitas perkebunan sawit Indonesia, kebijakan replanting dan kendala suku bunga yang tinggi dan menjadi salah satu kendala dalam kebijakan replanting di Indonesia. Sebagian besar perkebunan rakyat sudah melewati usia produktif 25 tahun, dan sudah saatnya untuk diremajakan. Masalahnya di Indonesia saat ini tingkat suku bunga (biaya modal) begitu tinggi dan tidak kompetetif dibandingkan dengan di negara lain.

Sementara hasil studi empiris menujukkan penurunan tingkat suku bunga kredit di Indonesia sangat siginifikan meningkatkan produktivitas kebun sawit di Indonesia dan berdampak positif bagi pengembangan industri hulu dan hilir Industri sawit Indonesia. Kebijakan yang diperlukan untuk masa depan industri strategis ini ialah dukungan pemerintah melalui pengelolaan Dana Sawit, yakni dengan memberikan subsidi bunga kepada investasi sawit, khususnya petani maupun industri hilir sawit.

PENDAHULUAN

Pada hari Jumat, 13 Oktober 2017, Presiden Jokowi menghadiri Penanaman Perdana Program Peremajaan Kebun Kelapa Sawit dan Penyerahan Sertifikat Tanah untuk Rakyat di Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatra Selatan. Kegiatan ini merupakan sebuah milestone baru dalam perjalanan industri kelapa sawit Indonesia, dimana negara hadir dan memberikan dukungan positif dalam pengembangan industri ini. Peristiwa ini diberikan kepada petani sawit dan menjadi sesuatu yang sangat strategis di masa mendatang, pertama: moment ini sekaligus akan menggeser (shift) tingkat produktivitas CPO perkebunan rakyat, dari 4 ton CPO/ha menuju 6 ton/ha.

Sementra perkebunan swasta ada yang sudah mendapai 8 ton per ha; kedua: moment ini bersinergi dengan perayaan 100 tahun perkebunan kelapa sawit Indonesia tahun 2011 di Medan, yang mencanangkan arah masa depan pengembangan produktivitas perkebunan kelapa sawit nasional. Arah yang dimaksud adalah mengejar produktivitas Tandan Buah Segar (TBS) sebesar 35 ton TBS per hektar dengan rendemen minyak 26 persen (dikenal sebagai target 35-26) sehingga di masa mendatang bisa dicapai sekitar 9 ton minyak sawit untuk setiap hektar, Ketiga: Dukungan ini sekaligus akan mengubah arah perjalanan industri kelapa sawit Indonesia, dimana pada tahun 2017 ini luas perkebunan sawit rakyat telah mencapai 53 persen dan pada tahun 2030 diperkirakan akan mencapai 60%, yang sekaligus mengukuhkan bahwa industri sawit Indonesia di masa depan berada di tangan rakyat (small holder).

Dengan target 35-26 tersebut para pelaku perkebunan kelapa sawit yang kini berkembang pada 190 kabupaten di Indonesia telah menyadari bahwa dalam memasuki abad kedua perkebunan kelapa sawit nasional, sumber pertumbuhan minyak sawit secara evolusioner akan beralih dari sumber pertumbuhan tradisional yakni dari perluasan kebun (ekstensikasi) kepada sumber pertumbuhan modern yakni peningkatan produktivitas (intensifikasi).

Sumber pertumbuhan dari produktivitas lebih sustainable karena selain lebih ekonomis dan menghemat lahan yang makin langka, juga makin memperbesar fungsi ekologis. Dengan ini, maka posisi Indonesia akan semakin kuat di pasar global, sebagai produsen utama dan eksportir utama CPO dunia, sekaligus salah satu sumber minyak nabati terbesar di pasar global. Peningkatan produktivitas 35-26 di atas tidak tercapai dengan sendirinya atau “jatuh sendiri dari langit”.

Sasaran ini akan dicapai melalui serangkaian perbaikan (by design) terstruktur, sistematis dan massif pada seluruh aspek perkebunan kelapa sawit. Memerlukan perubahan strategi dan dukungan kebijakan pemerintah yang kondusif serta gerakan bersama seluruh pemangku amanah (stake holder) perkebunan kelapa sawit nasional. Ilmu ekonomi dapat membantu untuk merumuskan cara dan tahapan perbaikan (stages of improvement) serta jalur (roadmap) yang dapat ditempuh untuk tiba (suatu saat) pada target produktivitas 9 ton minyak per hektar tersebut. Dari sudut ekonomi ada dua cara untuk menaikkan produktivitas saat ini menuju target produktivitas tersebut.

Cara pertama adalah melalui peningkatan produktivitas parsial (partial factor productivity) kebun sawit (termasuk PKS) pada tanaman menghasilkan (TM) yang ada yakni menggeser kurva produktivitas (Gambar 1) kebun sawit saat ini (P0) ke kurva produktivitas baru (P1). Dalam prakteknya, cara pertama ini dilakukan melalui perbaikan kultur teknis (best manajemen practices) kebun TM yang ada.

Gambar 1. Peningkatan Produktivitas Akibat Perbaikan Kultur Teknis (P1) dan Total Faktor Productivity (P2)

Cara kedua adalah melalui penggunaan benih yang lebih unggul pada saat replanting (tentu relevan bagi kebun-kebun yang sudah saatnya untuk direplanting). Sampai saat ini sebagian varietas benih yang dihasilkan perusahaan perbenihan sawit telah memiliki potensi produktivitas sekitar 35 ton TBS dan rendemen 26 persen atau dapat menghasilkan sekitar 9 ton minyak per hektar.

Agar komposisi tanaman yang ideal, norma standar replanting setiap tahun adalah rata-rata 4 persen dari luas kebun. Sehingga secara nasional dengan luas areal 10 juta hektar, diharapkan akan ada sekitar 400 ribu hektar replanting setiap tahun. Melalui cara kedua ini akan menggeser kurva produktivitas dari P0 ke P2. Kombinasi dari kedua cara tersebut yakni perbaikan kultur teknis TM dan replanting dengan menggunakan bibit unggul, akan menghasilkan peningkatan produktivitas total (total factor productivity) secara berkesenimbungan. Kombinasi cara ini akan menggeser kurva produktivitas dari P0 ke P2 dan seterusnya.

Hasil proyeksi PASPI (2014) menunjukkan bahwa cara kombinasi tersebut akan menaikkan produktivitas sawit nasional menjadi 4.4 ton minyak/hektar tahun 2020 Jika kombinasi tersebut dilakukan secara konsisten setiap tahun produktivitas akan naik menjadi 7.42 ton per hektar tahun 2050. Produktivitas sawit rakyat akan meningkat menjadi 3.39 ton / hektar (2020) dan 6.38 ton/hektar (2050). Sementara produktivitas sawit negara menjadi 4.93 ton/ hektar (2020) dan 8.32 ton / hektar (2050). Sedangkan produktivitas sawit swasta menjadi 4.16 ton/hektar (2020) dan 7.3 ton/hektar (2050).

RESPON INDUSTRI MINYAK SAWIT PADA SUKU BUNGA

Salah satu dukungan kebijakan yang diperlukan adalah kebijakan investasi, baik di sektor hulu maupun hilir. Urgensi investasi di sektor hulu adalah kegiatan replanting, dimana sebagian besar perkebunan rakyat sudah melewati usia produktif 25 tahun, dan sudah saatnya untuk diremajakan, dan sekaligus mengganti bibit yang unggul yang memiliki tingkat produktivitas tinggi.

Mengamati replanting di Musi Banyu Asin di atas,seluas 4400 ha, maka diperkirakan, setiap tahun kebutuhan investasi akan mencapai rata-rata 5000 ha per tahun, untuk mengejar ketertinggalan selama 5 tahun terakhir ini. Sedangkan di sektor hilir, investasi juga diperlukan pada industri hilir, dimana saat ini Indonesia masih relatif tertinggal dibandingkan dengan Malaysia.

Salah satu hasil kajian tentang dampak penurunan suku bunga terhadap industri kelapa sawit Indonesia disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Persentase Perubahan Nilai Rata-rata Simulasi Kebijakan Suku Bunga sebesar 10 Persen

Penurun suku bunga berdampak pada peningkatan areal produktif sawit (harvested area), permintaan CPO Indonesia, harga CPO domestik, harga CPO dunia, ekspor CPO, dampaknya pada pengembangan industri hilir. Jika pemerintah melakukan kebijakan penurunan suku bunga, maka areal produktif sawit Indonesia akan meningkat 12.94 persen. Penurunan suku bunga akan merangsang pengusaha untuk melakukan investasi. Hal ini menunjukkan bahwa suku bunga memiliki peran yang cukup penting dalam investasi perkebunan kelapa sawit di Indonesia, khususnya oleh swasta maupun rakyat.

Peningkatan areal produktif sawit juga dipengaruhi peningkatan harga CPO domestik 9.45 persen, serta meningkatkan produksi CPO. Dengan meningkatnya produksi atau ketersediaan CPO domestik, permintaan CPO oleh sektor industri hilir juga naik 5.93 persen. Peningkatan produksi juga mendorong peningkatan ekspor CPO Indonesia sebesa 0.989 persen. Berdasarkan keterkaitan antar variabel tersebut di atas, diperoleh gambaran bahwa kebijakan penurunan suku bunga merupakan kebijakan investasi yang memiliki dampak cukup luas dalam negeri.

Selain mendorong industri kelapa sawit di bagian hulu (areal produktif sawit dan produksi CPO) juga mendorong industri sawit di bagian hilir. Dampak simulasi penurunan suku bunga terhadap pengembanan industri hilir domestic, terlihat pada peningkatan produksi hilir sebesar 3.527 persen. Hal ini sejalan dengan semakin meningkatnya ketersediaan CPO di pasar CPO domestik, akibat peningkatan areal produktif dan peningkatan produksi. Berdasarkan uraian di atas, kebijakan penurunan suku bunga dapat dinyatakan sebagai kebijakan investasi yang berdampak positif bagi pengembangan industri hulu dan hilir Industri sawit Indonesia.

PERBANDINGAN SUKU BUNGA KREDIT

Tingkat suku bunga kredit (lending rate) di Indonesia selama ini merupakan tertinggi di kawasan Asia (Tabel 2). Ratarata tingkat suku bunga kredit di Indonesia dalam periode tahun 20082016 mencapai sekitar 12.7 persen per tahun. Sementara di negara Malaysia yang merupakan pesaing utama Indonesia dalam industri minyak sawit dunia hanya sekitar 4.9 persen per tahun.

Demikian juga di Thailand yang juga merupakan produsen minyak sawit terbesar ketiga dunia, rataan tingkat suku bunga kredit hanya 6.6 persen. Dengan tingkat suku bunga kredit yang lebih tinggi di Indonesia tersebut berarti pelaku industri minyak sawit di Indonesia membayar bunga modal yang lebih tinggi dibandingkan biaya modal yang dibayar pelaku sawit di Malaysia dan Thailand. Hal ini berarti juga biaya barang-barang modal yang digunakan untuk peningkatan produktivitas minyak sawit di Indonesia lebih mahal dibandingkan di negara Malaysia dan Thailand.

Sehingga wajar saja tingkat produktivitas minyak sawit di Malaysia lebih tinggi dibandingkan di Indonesia. Produktivitas minyak sawit di Malaysia saat ini telah mencapai rata-rata 5.00 ton per hektar sementara di Indonesia masih sekitar 3.60 ton per hektar. Berbagai studi (Manurung, 1993; Susila, 2004; Purba, 2011; Joni, 2012, PASPI, 2015) menunjukkan bahwa penurunan tingkat suku bunga kredit di Indonesia sangat siginifikan meningkatkan produktivitas kebun sawit di Indonesia.

Bahkan peningkatan produktivitas kebun sawit akibat dampak penurunan suku bunga kredit, dapat mengkompensasi dampak pajak ekspor minyak sawit yang dilakukan pemerintah. Barangkali mengapa pelaku kebun sawit di Indonesia lebih cenderung menempuh perluasan areal kebun (ekstensifikasi) dari pada peningkatan produktivitas (intensifikasi) untuk meningkatkan produksi minyak sawit, juga terkait dengan mahalnya biaya modal tersebut.

Demikian juga mengapa sawit rakyat kesulitan membangun PKS dan bahkan replanting kebun juga terkait dengan suku bunga kredit yang mahal tersebut. Industri hilir merupakan teknologi padat modal baik pada level pabrik maupun pada level kawasan industri. Sesuai dengan teori keunggulan komparatif (comparative advantages) maka industri padat modal akan berkembang pada negara dimana biaya modal lebih murah.

Tingkat suku bunga kredit di Indonesia juga lebih tinggi dibandingkan tingkat suku bunga kredit di negaranegara tujuan ekspor minyak sawit Indonesia seperti China dan India. China sebagai salah satu negara tujuan eskpor minyak sawit Indonesia, tingkat suku bunga kredit hanya sekitar 5.5 persen per tahun. Demikian juga di India yang juga negara tujuan ekspor minyak sawit Indonesia, tingkat suku bunga kredit sekitar 10.5 persen.

Tabel 2. Tingkat Suku Bunga Kredit (lending rate) Indonesia Dibandingkan Negara Tetangga

SUBSIDI BUNGA KREDIT DARI DANA SAWIT

Peningkatan produktivitas baik melalui perbaikan kultur teknis (partially factor productivity) maupun melalui perbaikan varietas tanaman (total factor productivity) merupakan kegiatan ekonomi padat modal (capital intensive) dan padat pengetahuan (knowledge intensive) yang memerlukan modal/kapital yang besar. Masalahnya di Indonesia saat ini biaya modal (tingkat suku bunga) begitu tinggi dan tidak kompetetif dibandingkan dengan di negara lain (Tabel 2).

Tingkat suku bunga kredit di Indonesia masih di atas 10 persen, sementara di Negaranegara Asean lainnya sudah di bawah 10 persen. Bahkan, suku bunga kredit di Malaysia yang merupakan pesaing utama minyak sawit Indonesia suku bunga kredit sudah di bawah 5 persen. Dengan mengkaitkan strategi pembangunan industri sawit Indonesia yang berkelanjutan, khususnya kebijakan replanting yang sudah memasuki tahap urgent saat ini, maka salah satu kebijakan yang diperlukan saat ini adalah kebijakan pemerintah dalam merangsang investasi sawit baik di sektor hulu maupun hilir.

Suku bunga Indonesia relatif paling tinggi dan merupakan salah satu kendala dalam investasi sawit. Kebijakan penting yang dapat dilakukan untuk mengatasi kendala ini ialah dengan mensinergikan dana sawit (BPDP) untuk membangun masa depan industri persawitan Indinesia. Salah satu keberhasilan BPDP saat ini adalah dalam pengembangan industri hilir, khususnya biodiesel, dan Indonesia sukses mencapai mandatori biodiesel B20, dan Indonesia akan melangkah ke level yang lebih tinggi ke mandatori B30.

Sejalan dengan keberhasilan tersebut, maka pemerintah melalui pengelolaan Dana Sawit juga dapat merumuskan kebijakan pembangunan investasi sawit, khususnya replanting yang saat urgent saat ini, yakni dengan memberikan subsidi bunga, yang secara teknis dapat dirumuskan dengan pihak perbankan.

KESIMPULAN

Arah pengembangan perkebunan kelapa sawit nasional saat ini dan di masa mendatang adalah mengejar produktivitas Tandan Buah Segar (TBS) sebesar 35 ton TBS per hektar dengan rendemen minyak 26 persen (dikenal sebagai target 35-26) sehingga di masa mendatang bisa dicapai sekitar 9 ton minyak sawit untuk setiap hektar. Memerlukan perubahan strategi dan dukungan kebijakan pemerintah yang kondusif serta gerakan bersama seluruh pemangku amanah (stake holder) perkebunan kelapa sawit nasional.

Cara pertama adalah melalui peningkatan produktivitas parsial (partial factor productivity) kebun sawit (termasuk PKS) pada tanaman menghasilkan, Cara kedua adalah melalui penggunaan benih yang lebih unggul pada saat replanting. Salah satu dukungan kebijakan yang diperlukan adalah kebijakan investasi, baik di sektor hulu maupun hilir. Sebagian besar perkebunan rakyat sudah melewati usia produktif 25 tahun, dan sudah saatnya untuk diremajakan.

Masalahnya di Indonesia saat ini tingkat suku bunga (biaya modal) begitu tinggi dan tidak kompetetif dibandingkan dengan di negara lain. Sementara hasil studi empiris menujukkan penurunan tingkat suku bunga kredit di Indonesia sangat siginifikan meningkatkan produktivitas kebun sawit di Indonesia dan berdampak positif bagi pengembangan industri hulu dan hilir industri sawit Indonesia. Kebijakan yang diperlukan untuk masa depan industri strategis ini ialah dukungan pemerintah melalui pengelolaan Dana Sawit, yakni dengan memberikan subsidi bunga kepadai nvestasi sawit, khususnya petani maupun industri hilir sawit.

Tim Riset PASPI | Monitor Vol. III. No. 45