RI Harus Makin Intensif Lawan Kampanye Hitam Sawit

JAKARTA – Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (Paspi) menyarankan semua pelaku kepentingan di subsektor perkelapasawitan di Indonesia harus makin intensif melawan kampanye hitam (black campaign) atas sawit yang digaungkan pasar internasional, terutama Eropa dan Amerika Serikat (AS).

Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah melakukan pembalikan opini (counter issue) dengan menyajikan informasi yang akurat tentang sawit sehingga konsumen internasional mendapatkan edukasi dengan baik tentang komoditas perkebunan tersebut.

Direktur Eksektutif Paspi Tungkot Sipayung menjelaskan, tahun ini kampanye hitam atas sawit akan makin marak karena keunggulan yang dimiliki komoditas tersebut, produksi sawit tahun ini akan makin meningkat terutama oleh Indonesia dan Malaysia. Kondisi tersebut tentu mendesak keberadaan minyak nabati dari biji rapa (rapeseed), bunga matahari, dan kedelai. Bila ditelusuri lebih jauh, kampanye hitam atas sawit dibiayai oleh produsen minyak nabati selain kedelai.

“Sawit jauh lebih murah, minyak nabati lain kalah saing, kalau melawan menggunakan pasar normal akan kalah, karena itu dilakukan dengan membangun persepsi jelek akan sawit, misalnya karena murah maka tidak sehat. Tahun ini pasti makin parah, karena itu semua stakeholder sawit harus makin intensif melawannya,” kata dia kepada Investor Daily di Jakarta, kemarin.

Dia mengatakan, saat ini pembangunan persepsi jelek atas sawit tidak hanya dilakukan melalui media massa, namun juga melalui media sosial dengan menyasar anak-anak dan generasi muda. Media animasi, karikatur, maupun permainan (games) pun telah disisipi persepsi jelek tentang sawit dan hal ini menyebar ke seluruh dunia. Apalagi, saat ini generasi mudah atau kaum milenial hingga 60% menggunakan fasilitas medsos.

“Memang belum ada kajian yang menyatakan bahwa kinerja ekspor terpengaruh oleh kampanye sawit. Tapi kampanye hitam ini mempengaruhi persepsi, value, dampaknya tidak sekarang tapi nanti bisa jadi tiba-tiba konsumsi sawit dunia turun. Bukannya melawan yang tidak kelihatan itu memang susah,” jelas dia.

Menurut Tungkot Sipayung, upaya pemerintah sudah relatif baik dalam melawan kampanye hitam atas sawit, bahkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam beberapa kesempatan siap pasang badan untuk sawit. Namun hal tersebut belumlah cukup, upaya yang ada pun terasa masih kurang intensif.

Untuk mempengaruhi persepsi masyarakat atau konsumen dunia tidak cukup dengan pasang badan, namun harus dengan melakukan counter issue yakni menyajikan informasi fakta sawit secara komprehensif sehingga memberikan edukasi baik tentang sawit. Bila perlu, Indonesia mengundang masyarakat dunia ke Indonesia untuk mengetahui proses produksi sawit. (tl)

Investor Daily | Sabtu, 20 Januari 2018