MITOS 2-05 : Rapeseed atau bunga matahari lebih hemat GHG dibandingkan dengan biodiesel berbahan baku minyak sawit

Untuk pengganti diesel, biodiesel berbahan baku minyak nabati kedelai, rapeseed atau bunga matahari lebih tinggi menghemat emisi GHG dibandingkan dengan biodiesel berbahan baku minyak sawit – MITOS 2-05 

FAKTA – Berbagai penelitian baik di Indonesia maupun di Eropa, menunjukkan bahwa dengan menggunakan Life Cycle Analysis penggantian bahan bakar diesel/solar dengan biodiesel sawit akan mengurangi emisi gas rumah kaca dari mesin diesel sekitar 50-60 persen.

Bahkan menurut European Commission, apabila biodiesel sawit yang dihasilkan dari PKS dengan methane capture pengurangan emisi GHG dapat mencapai 62 persen (Gambar 2.4). Hasil penelitian Mathews and Ardyanto (2015), juga mendukung temuan Uni Eropa tersebut bahwa penggunaan biodiesel sawit sebagai pengganti diesel dapat menurunkan GHG di atas 60 persen.

Gambar 2.4. Pengurangan Emisi CO2 dari Berbagai Jenis Bahan Baku Biodiesel dibandingkan dengan Emisi Diesel (European Commission Joint Research Centre)

Penghematan emisi GHG akibat penggunaan biodiesel berbahan baku sawit tersebut, lebih tinggi dibandingkan dengan penghematan emisi yang diperoleh dari biodiesel berbahan baku minyak rapeseed, minyak kedelai maupun minyak bunga matahari. Dengan kata lain, penggunaan biodiesel minyak sawit sebagai pengganti diesel dapat menurunkan emisi GHG yang lebih besar dibandingkan dengan jika digunakan biodiesel berbahan baku kacang kedelai, rapeseed maupun minyak bunga matahari.

MITOS & FAKTA