MITOS 3-02 : Industri minyak sawit Indonesia sektor ekonomi yang ekstraktif

Industri minyak sawit Indonesia sektor ekonomi yang ekstraktif. (MITOS 3-02)

FAKTA – Suatu sektor ekonomi disebut ekstraktif jika hanya mengambil atau memanen yang tersedia di alam. Hal ini termasuk berburu, memancing, logging dan pertambangan. Berbeda dengan kegiatan tersebut, perkebunan kelapa sawit merupakan kegiatan ekonomi non ekstraktif karena produksi CPO diperoleh dengan cara membudidayakan kelapa sawit serta melakukan pengolahan lebih lanjut, dengan menggunakan manajemen dan ilmu pengetahuan/teknologi modern.

Peningkatan produksi CPO bersumber dari kombinasi peningkatan luas areal dan peningkatan produktivitas minyak per hektar. Sumbangan produktivitas dalam produksi minyak sawit Indonesia sampai dengan tahun 2016 secara umum mengalami peningkatan dari tahun ke tahun (Gambar 3.1).

Jika selama periode 1970-1990 kontribusi produktivitas masih sekitar 39 persen meningkat menjadi 44 persen dalam periode 1991-2000 dan menjadi 45 persen dalam periode 20002016. Dengan kata lain, peningkatan produksi CPO Indonesia tidak hanya disumbang oleh peningkatan luas areal tetapi juga dari peningkatan produktivitas.

Ke depan, kontribusi produktivitas diharapkan makin besar dan menjadi sumber pertumbuhan produksi minyak sawit nasional. Pertumbuhan produksi CPO yang disebabkan oleh peningkatan produktivitas lebih sustainable dibandingkan dari perluasan areal.

Pada acara 100 tahun perkebunan sawit Indonesia tahun 2011 telah disepakati untuk mencapai produktivitas jangka panjang yakni 35 ton TBS per hektar dan dengan rendemen 26 persen atau setara dengan sekitar 9 ton minyak per hektar.

MITOS FAKTA