Satukan Kekuatan Acuhkan Pasar Eropa, Maksimalkan Pasar Domestik

Produsen biodiesel dalam negeri mulai mengembangkan pasar ekspor baru non-eropa dan memaksimalkan pasar domestik

JAKARTA – Pemerintah dan produsen biodiesel Indonesia tengah bersatu. Mereka berupaya menggagalkan niat parlemen Uni Eropa yang ingin mencoret biodiesel dari kelapa sawit sebagai bahan bakar nabati mulai tahun 2021.

Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (Aprobi) Paulus Tjakrawan mengatakan, usulan parlemen Eropa ini akan dibicarakan dan diputuskan bersama European Council dan European Commission dalam waktu dekat.

Memlutnya, upaya tersebut dilakukan semua pihak Mulai dari Kementerian Luar Negeri, Kementerian Perdagangan, presiden, dan pelaku usaha. “Kami tetap berupaya agar usulan ini tidak disetujui European Council dan European Commision,” ujar Paulus kepada KONTAN, Rabu (7/2).

Paulus berharap langkah Indonesia tersebut juga di dukung oleh negara-negara Eropa lain. Namun, hal itu tergantung dari situasi dan hubungan politik Indonesia dengan masing-masing negara Eropa.

Indonesia memang sangat berkepentingan untuk mengagalkan rencana tersebut. Sebab, jika kemudian rencana itu disetujui maka hambatan ekspor biodiesel Indonesia ke Uni Eropa akan semakin besar. Sebagai produsen kelapa sawit dan biodiesel terbesar dunia, kondisi itu tentu membuat prospek bisnis biodiesel di pasar ekspor melemah.

Apalagi, Januari 2018, Indonesia telah memenangkan gugatan ke World Trade Organization atau Organisasi Perdagangan Dunia terkait pengenaan bea masuk anti dumping (BMAD) biodiesel. Alhasil, bea masuk biodiesel dari Indonesia yang masuk Eropa bisa ditekan.

Pasar alternatif

Seperti diketahui, Uni Eropa merupakan pasar ekspor terbesar kedua produk CPO dan turunannya setelah India. Uni Eropa juga merupakan pasar ekspor utama biodiesel sebelum tahun 2015 dengan pangsa pasar mencapai 42,5% dari total ekspor biodiesel.

Namun seiring dengan pengenaan Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) oleh Uni Eropa pada tahun 2015, ekspor biodiesel Indonesia ke negara itu tersendat. Terakhir kali Indonesia mengekspor biodiesel ke Benua Biru pada tahun 2014 sebelum Uni Eropa menerapkan bea masuk produk biodiesel hingga sebesar 23,3%. Tarif bea masuk yang tinggi membuat daya saing biodiesel melemah.

Direktur Eksekutif Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) Iskandar Andi Nuhrulg Mengatakan, upaya menjegal usulan penghapusan biodiesel minyak sawit dari BBN pada tahun 2021 bisa berhasil jika Indonesia memperbaiki hubungan bilateral dengan sejumlah jumlah negara anggota Uni Eropa. Upaya itu jadi jalur diplomasi utama agar tuntutan Indonesia lebih didengar.

Namun, menurut Iskandar, bila upaya negosiasi gagal dan kebijakan itu benar-benar diterapkan, para produsen biodiesel Indonesia tak perlu khawatir. Mereka tetap bisa melakukan ekspor biodiesel ke banyak negara lain. Beberapa negara potensial ekspor biodiesel adalah China, India, dan Pakistan. Negara-negara itu bisa menjadi pasar alternatif atas kebijakan diskriminatif Uni Eropa terhadap minyak sawit.

China juga semakin gencar mengimpor biodiesel dari Indonesia karena tengah menjalankan program bioenergi di negaranya. Selain itu produk minyak sawit, termasuk biodiesel Indonesia juga dipromosikan ke negara lain seperti Rusia dan negara Timur Tengah.

Paulus maupun Iskandar juga menyatakan, produk biodiesel Indonesia masih diserap oleh pasar domestik. Dengan pengembangan pasar ekspor baru dan konsumsi domestik, Aprobi memperkirakan, produksi biodiesel tahun 2018 bisa mencapai 3,5 juta kiloliter (kI). Jumlah ini naik dibanding dengan tahun 2017 yang 3,1 jula kl.

Kontan | Jumat, 9 Februari 2018