Jerman Apresiasi Kebijakan Zero Waste di Perkebunan Sawit Indonesia

JAKARTA – Pemerintah Jerman melalui kedutaan besarnya di Indonesia memberikan apresiasi yang tinggi terhadap perkebunan sawit di Indonesia yang menerapkan praktik berkelanjutan (Sustainability Practices). Jerman juga mendukung perlakuan yang adil dan nondiskriminasi bagi komoditas sawit terutama dari Indonesia di pasar Uni Eropa (UE).

Demikian disampaikan Ketua Bidang Otonomi Daerah Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Kacuk Sumarto menirukan pernyataan Michael Freiherr von Ungern-Sternberg, Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Federal Jerman untuk Republik Indonesia, Timor leste, dan Asean. Michael Freiherr melakukan kunjungan ke perkebunan sawit PT Paya Pinang di Desa Paya Pinang; Kabupaten Sergai, Sumatera Utara, baru-baru ini.

Kacuk Sumarto yang juga Presiden Direktur PT Paya Pinang menceritakan, Dubes Jerman beserta stafnya diajak berkeliling perkebunan karet dan sawit milik PT Paya Pinang. Di perkebunan sawit, Dubes Jerman melihat kegiatan pemanenan sawit. Ketika ada brondolan buah sawit di pohon, Kacuk membelah buah untuk mencicipinya bersama Dubes Michael Freiherr. “Rasanya tidak aneh dan biasa,” kata Dubes Michael seperti diceritakan Kacuk.

Menurut Kacuk, dirinya sengaja menyodorkan buah sawit yang dibelah tadi untuk menunjukkan sawit aman untuk dikonsumsi. Apalagi sawit punya kandungan nutrisi yang tinggi seperti betakaroten. Kunjungan Dubes Michael ke perkebunan sawit adalah yang pertamakali di Indonesia. Kedatangannya bertujuan menyerap informasi seputar industri kelapa sawit dan aspek positif di dalamnya. “Selain ke kebun, saya ajak Pak Dubes melihat kegiatan pengolahan buah menjadi minyak di pabrik sawit,” tuturnya.

Kacuk Sumarto didampingi Sabri Basyah (Gapki Aceh) dan Mino Lesmana (Gapki Sumut) juga berkesempatan melakukan makan malam dan berdiskusi dengan Dubes Michael Freiherr. Saat itu, Dubes Michael memberikan sikap positif terhadap pengembangan industri sawit yang telah berjalan di Indonesia. Dubes Michael mendukung perlakuan yang fair dan nondiskriminasi terutama hambatan kebijakan perdagangan yang bersifat tarif dan nontarif.

Terkait sertifikasi, dia juga menentang diskriminasi standar palm oil yang sebaiknya tidak berupa standar RSPO. “Dubes Michael juga meminta sawit diusahakan lebih berkeadilan, artinya ada sinergi antara petani dan pengusaha. Dia juga mendukung pelaksanaan ISPO untuk digunakan semua pelaku usaha,” ujar dia. Kacuk Sumarto menjelaskan bahwa dirinya menyampaikan empat aspek penting dalam pertemuan tersebut.

Pertama, sawit Indonesia tidak butuh perlakuan istimewa melainkan diberikan perlakuan fair dan adil. Kedua, sawit Indonesia berupaya memperbaiki tata kelolanya. Karena pelaku sawit sangat beragam, terdiri pelaku usaha dan petani, semuanya menuju perbaikan melalui standar ISPO. Dubes Jerman mendukung pelaksanaan ISPO karena bersifat wajib bagi semua pelaku usaha perkebunan. Apalagi ISPO ini merupakan praktik sustainability yang mengacu kepada aturan pemerintah. “Seharusnya, pelaku sawit yang menerapkan ISPO berhak atas harga premium juga,” kata Dubes Michael dalam pertemuan tersebut.

Ketiga, menurut Kacuk, perkebunan sawit dibangun di atas lahan terdegradasi bukan hutan primer. Saat di perkebunan, dirinya menjelaskan bahwa perkebunan sawitnya menggunakan pupuk organik sekitar 65%. “Saya jelaskan juga falsafah sustainability di perkebunan aan alasan memakai pupuk organik karena dari tanaman harus kembali kepada tanaman. Penggunaan limbah di kebun sawit merupakan bagian dari zero waste,” terangnya.

Mendengar penjelasan ini, Dubes Jerman merasa takjub dan mengapresiasi kebijakan zero waste di perkebunan sawit. Untuk itu, dia mengusulkan supaya Gapki menyampaikan praktik sustainability sawit tersebut kepada NGO (LSM) di Jerman. Langkah ini diambil untuk menghindari kampanye negatif yang gencar disuarakan NGO di Benua Eropa. Aspek keempat adalah perkebunan sawit dibangun untuk menyejahterakan masyarakat karena pemainnya merupakan smallholder dan komitrnen terhadap sustainable. (tl)

Investor Daily | Sabtu/Minggu, 17-18 Februari 2018