MITOS 4-05 – Tenaga kerja yang diperlukan/terserap perkebunan kelapa sawit tidak sesuai dengan kondisi tenaga kerja di daerah/pedesaan

Tenaga kerja yang diperlukan/terserap perkebunan kelapa sawit tidak sesuai dengan kondisi tenaga kerja di daerah/pedesaan. (MITOS 4-05)

FAKTA – Untuk mengurangi pengangguran di pedesaan perlu dikembangkan sektor-sektor ekonomi yang lebih banyak menyerap tenaga kerja yang sesuai dengan karakteristik/latar belakang tenaga kerja pedesaan. Perkebunan kelapa sawit merupakan sektor ekonomi dengan teknologi padat kerja (labor intensive). Tidak hanya padat kerja tetapi juga akomodatif terhadap keragaman mutu/skill tenaga kerja pedesaan.

Secara umum, struktur pendidikan penduduk di kawasan pedesaan sebagian besar merupakan tenaga kerja berpendidikan sekolah dasar ke bawah. Sekitar 49 persen usia kerja produktif di kawasan pedesaan berpendidikan SD ke bawah dan 49 persen berpendidikan SLTP sampai SLTA dan hanya 2 persen berpendidikan diploma/sarjana seperti disajikan pada Gambar 4.7 (BPS, 2002).

Komposisi rata-rata pendidikan tenaga kerja yang terserap di perkebunan kelapa sawit menurut PASPI (2014), sekitar 51 persen berpendidikan SD ke bawah, 16 persen berpendidikan SLTP, 30 persen berpendidikan SLTA dan sisanya 4 persen berpendidikan diploma/sarjana yang sangat mirip dengan komposisi tenaga kerja yang tersedia di pedesaan.

Dengan kata lain, perkebunan kelapa sawit secara umum lebih akomodatif terhadap latarbelakang tenaga kerja yang tersedia dikawasan pedesaan. Pandangan bahwa tenaga kerja yang terserap perkebunan kelapa sawit tidak sesuai dengan kualitas tenaga kerja di pedesaan adalah tidak didukung fakta.

Mitos & Fakta Sawit