Devisa Sawit, Bikin Mendag Enggar Stress & Deg-degan

Jakarta – Sampai akhir tahun ini devisa negara dari  ekspor sawit menduduki nomor satu, baru setelah itu sektor pariwisata, “Namun secara jujur saya harus katakan bahwa komposisi ini tidak sehat bagi perekonomian kita. sawit menjadi tumpuhan pertmbuhan perekonomian Indonesia.

Kita pernah bonanza dari sektor migas, dan ada waktu itu kita tidak banyak yang bisa kita perbuat dari hasil itu dan kita terlena,” kata Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita ketika menjadi narasumber dalam Munas X Gabungan Pengusaha Sawit Indonsia (GAPKI) di Hotel Fairmont di Jakarta, Rabu (14/3).

“Saya melapor ke Bapak Presiden bahwa saya takut Pak! Bahwa dua komoditi ini memberikan kontribusi yang besar. Ada kebahagiaan tapi juga ada kekhawatiran kalau komoditi dan manufaktur dan segala hasil turunannya tidak segera terangkat untuk memberikan keseimbangan,” tuturnya.

Jika, terjadi sesuatu, maka akan mengganggu perekonomian negara. Bukan berarti kelapa sawit akan dinomor dua-kan atau dianaktirikan atau bahkan diabaikan, “Yang menjadi persoalan adalah bagaimana kita bisa mengangkat sektor-sektor komoditi lainnnya,” tutur Enggar.

Dalam situasi itulah, menurut Enggar, setiap denyut yang terjadi di kelapa sawit menyebabkan dirinya terganggu, “Saya stress! Terakhir dari Norwegia. Saya sudah minta kepada Kemenlu, menyangkut soal tata niaga ikan,” kata Menteri Perdagangan. Pertertengahan  2017 lalu, Norwegia melakukan larangan impor CPO dari Indonesia.

Enggar menambahkan secara tegas akan melakukan band (larangan) ekspor ikan ke Norwegia, “Karena selama ini ekspor ikan bebas merdeka tanpa aturan. Saya coba akan band dulu, kita atur tidak bebas. Saya lapor ke Presiden, saya akan atur tata niaga ekspor ikan, kalau sudah baik akan saya lepas kembali,” katanya disambut tepuk tangan.

Menurut Enggar tanpa cara ini, tidak ada alat untuk menaikkan posisi tawar Indonesia demikian juga EU (Uni Eropa), “Dalam Pertemuan di Singapura, saya sudah katakan bahwa Anda (Uni Eropa-red) yang melakukan. Kami juga bisa melakukan hal yang serupa.

“Meskipun kemudian EU mengatakan bahwa ekspor Indonesia meningkat. Tetapi saya tegaskan bahwa ini menyangut edukasi. Mereka mengatakan bahwa sawit itu tidak sehat. Generasi muda mereka meyakini itu. Oleh karena itu saya akan buat edukasi bahwa jika naik pesawat terbang, jangan naik Airbus! Karena naik Airbus bisa bikin kanker,” katanya, lagi-lagi mendapat tepuk tangan menggema di ballroom Fairmont.

Enggar mengaku jengkel dan capai menangkal isu bahwa sawit tidak sehat,”Kalau memang sawit tidak sehat buktikan saja. Saya ini selama hidup saya makan gorengan terus. Jadi hidup saya sehat. Jadi setiap langkah dan tindakan pemerintah sangat peka dan sangat sensitif terhadap persoalan sawit,” tuturnya.

Saat ini, kata dia, atase perdagangan Indonesia sedang mengalami persoalan hukum di negara Sierra Leon, “Karena kita sedang mempromosikan bahwa sawit itu sehat. Sekarang ini ahli hukum kia dan jajaran eselon satu saya minta ke sana untuk menghadapi hukum Sierra Leon. Kita bekerja sama dengan GAPKI untuk memberikan dukungan itu,” tegas Enggar.

Enggar akan mengundang Duta Besar Perancis, “Saya akan bilang bahwa saya mempuyai kemampuan dan kelebihan tertentu yaitu mencari kesalahan orang. Kalau saf saya diganggu, maka saya juga akan bisa menganggu kalian,” kata Enggar yang mendapat applause keras itu, bahwa dia menggunakan bahasa-bahasa ringan saja untuk menyamaikan pendapatnya itu.

Untuk itulah dia berharap GAPKI bisa menyatukan langkah dan sikap yang sama, karena pada dasarnya pemerintah memberikan dukungan dan fasilitas itu. Dalam menghadapi kasus tidak bisa berjalan sendiri sendiri.

Untuk itulah, Enggar berharap akan Munas GAPKI bsa menghasikan pengurus baru dan sejumlah rekomendasi yang bida memberikan peluang agar sawit semakin kuta dan kokoh, sekaligus mampu menumbuhkan sektor-sektor turunan lebih banyak bagi pertumbuhan perekonomian Indonesia. (ps)

Source : Kaltim.tribunnews.com