Ketum GAPKI : Biodiesel Sawit Tak Akan Kalah dengan Minyak Nabati Lainnya

Targetnya, ekspor biodiesel ke Uni Eropa tahun ini bisa mencapai minimal 500.000 ton

JAKARTA. Pasca pencabutan penerapan bea masuk anti dumping (BMAD) untuk produk biodisel Indonesia pada 16 Maret 2018 lalu, prospek ekspor produk ini ke Uni Eropa (UE) kembali cerah. Saat ini, produsen biodiesel tengah menjajaki pasar ekspor biodiesel ke benua biru.

Paulus Tjakrawan, Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (Aprobi), menyatakan, penghapusan BMAD oleh UE merupakan peluang baru untuk meningkatkan ekspor ke negara-negara Eropa. Sebab, sejak penerapan BMAD dengan tarif sebesar 8,8%-23,3%, ekspor kita langsung anjlok.

Bahkan, sepanjang 2013-2016. ekspor biodiesel hanya US$ 68 juta. Nilai itu menukik tajam dibanding raihan, sebelum 2013 yang mencapai US$ 1,4 miliar. “Kami mengharapkan, ekspor biodiesel tahun ini ke UE minimum 500.000 ton,” ujar Paulus kepada KONTAN akhir pekan lalu.

Saat ini, Paulus mengatakan, semua produsen biodiesel Indonesia mulai melakukan penjajakan ekspor kembali ke UE. Nlereka akan menjalin lagi kerjasama dengan perusahaan-perusahaan yang dulu sempat jadi mitra sebelum biodiesel dari negara kita terkena BMAD.

Namun, Aprobi belum bisa memberikan target yang pasti unluk angka ekspor lahun ini. Soalnya, asosiasi juga masih mengantisipasi kemunculan hambatan lain yang dilakukan UE agar ekspor biodiesel Indonesia tidak mulus.

Salah satunya adalah usulan resolusi Uni Eropa yang mengeluarkan minyak kelapa sawit mentah (CPO) dari bahan baku minyak nabati untuk biodiesel. Jika resolusi itu nanti disepakati oleh Dewan Uni Eropa dan Komisi Uni Eropa, maka ekspor biodisel bakal kembali anjlok.

Informasi saja, UE tengah merancang kebijakan untuk tidak lagi menggunakan bahan baku minyak sawit untuk biodisel pada 2021. Alasannya, polusi yang dihasilkan biodiesel berbahan baku CPO tiga kali lebih besar ketimbang biodisel dengan bahan baku minyak nabati lainnya.

Peluang pasar lain

Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Joko Supriyono menyebutkan, pelaku usaha tetap waspada meskipun saat ini UE telah menghapus BMAD atas biodiesel Indonesia. “Biodiesel kita akan bersaing dengan biodiesel UE yang berbahan dasar rapeseed atau minyak nabati berbahan kedelai, kanola, dan bunga matahari,” ungkap Joko.

Kendati demikian, Joko bilang, biodiesel Indonesia yang berbahan baku minyak sawit bisa memenangkan persaingan melawan minyak nabati lainnya. Sebab, selain produksinya lebih murah, harga biodiesel dari CPO juga lebih kompetitif dibandingkan dengan minyak nabati lainnya.

Direktur Eksekutif Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) Iskandar Andi Nuhung menuturkan, potensi ekspor biodiesel ke UE tetap terbuka Iebar setelah penghapusan BMAD. Tapi, Uni Eropa sudah barang tentu tidak akan tinggal diam. Ke depan, bakal ada banyak hambatan ekspor biodiesel ke Eropa. “Meski menang, jangan bertepuk tangan dulu, pasti mereka mencari celah lain. Itu yang harus kita waspadai,” ucapnya.

Untuk itu, menurut Iskandar, para eksportir biodiesel juga bisa melihat peluang pasar yang lain. Sebut saja, China dan Jepang. Bila berhasil menembus tembok raksasa, maka ada potensi ekspor ke China sebanyak sembilan juta kiloliter (kl) khusus untuk produk B5 (5% biodiesel dan 95% petroleum diesel).

Demikian juga dengan pasar Jepang. Eksportir tengah menjajaki ekspor ke negeri matahari terbit. Sejauh ini mereka meminta agar harga biodiesel flat atau tetap selama 10 tahun. Kalau kesepakatan dengan China dan Jepang tercapai, Indonesia tentu tidak lagi tergantung Eropa.

Kontan | Senin, 26 Maret 2018