Ramadan Bakal Picu Permintaan CPO

JAKARTA – Permintaan minyak kelapa sawit atau crude palm oil pada periode April 2018 diperkirakan menguat menjelang bulan Ramadan yang akan dimulai pada Mei. Sementara itu, stok CPO Malaysia bakal jatuh ke level terendah sejak Oktober karena kenaikan ekspor.

Analis Malaysian Industrial Development Finance (MIDF) Amanah Investment Bank Bhd Alan Lim menuturkan, konsumsi CPO biasanya naik selama musim perayaan karena pemanfaatannya untuk minyak goreng akan meningkat.

“India, Pakistan, dan Timur Tengah akan melanjutkan pembelian CPO lebih tinggi pada April menjelang festival muslim,” ujar Lim, seperti dilansir Bloomberg, Kamis (5/4).

Berdasarkan data dari SGS Malaysia, perusahaan penyedia layanan bisnis, ekspor CPO Malaysia ke India meningkat 78% pada Maret 2018 dibandingkan periode Februari 2018. Pada periode yang sama, pengiriman CPO ke Pakistan juga meroket 116%.

“Ekspor telah melesat hingga 244% pada Maret ke wilayah Timur Tengah, tidak termasuk di dalamnya Iran, Arab Saudi, dan Turki,” ungkap laporan SGS.

Volume ekspor CPO Malaysia diperkirakan bisa mencapai antara 1,43 juta ton hingga 1,58 juta ton dengan prediksi untuk stok antara 2,17 juta ton hingga 2,37 juta ton.

Impor Malaysia diperkirakan mencapai 40.000 ton pada Maret, lebih rendah dari periode bulan sebelumnya sebanyak 67.165 ton. Sementara itu, taksiran untuk kosumsi domestik berkisar antara 210.000 ton–280.000 ton.

Sementara itu, stok CPO Malaysia kemungkinan menipis seiring dengan kenaikan tingkat ekspor yang selanjutnya akan mendorong penguatan pada harga kontrak berjangka.

Menurut survei Bloomberg yang dilakukan terhadap sejumlah pekebun, pedagang, dan analis, persediaan CPO pada periode Maret menjadi 2,28 juta ton dengan penurunan 8,1% dari bulan sebelumnya.

Sebelumnya, survei oleh Dewan Minyak Sawit Malaysia menyatakan bahwa ekspor mengalami kenaikan 17% menjadi 1,53 juta ton. Angka tersebut merupakan peningkatan terbesar sejak Mei 2017.

Adapun, produksi naik 11% menjadi 1,49 juta ton, kenaikan pertama sejak Oktober tahun lalu. Dewan selanjutnya akan merilis data resmi pada 10 April mendatang.

“Penurunan stok memberi dampak positif bagi harga CPO karena menunjukkan bahwa permintaan melebihi pasokan pada periode Maret, terlepas dari semua berita negatif terkait kenaikan pajak impor dari India,” kata Alan Lim.

Harga CPO tercatat telah menurun 5% pada periode Maret setelah India menaikkan pajak impor untuk minyak nabati itu di tengah kekhawatiran pasar tentang perang dagang antara AS dan China.

Terkereknya ekspor juga mendorong para importir untuk menyetok lebih banyak CPO sebelum Ramadan menjelang pemberlakuan kembali pajak ekspor Malaysia. Pekan ini merupakan pekan terakhir penangguhan pajak ekspor itu oleh Negeri Jiran sejak awal 2018.

Analis CIMB Investment Bank Bhd Ivy Ng memproyeksikan harga CPO akan bergerak di kisaran level 2.400–2.600 ringgit per ton pada April 2018.

Pada penutupan perdagangan Rabu (4/4), harga CPO kontrak teraktif Juni 2018 ditutup rebound 18 poin atau 0,74% menjadi 2.454 ringgit per ton. Pada perdagangan Kamis (5/4), harga menguat 21 poin atau 0,86% menjadi 2.475 ringgit (US$640) per ton. Secara penghitungan tahunan (ytd), harga mengalami pelemahan 2,02%. (Bloomberg)

Bisnis Indonesia | Jumat, 6 April 2018