Supermarket Inggris Stop Penjualan Produk Mengandung Sawit

Dewan Negara-negara Produsen Minyak Sawit kirim tanggapan. Kampanye stop minyak sawit justru dinilai bakal memicu 10-20 kali konversi lahan baru yang lebih besar.

Iceland Foods Ltd, perusahaan retail makanan di Inggris, merencanakan menghentikan penjualan seluruh produk yang memiliki kandungan minyak sawit di seluruh jaringan supermarketnya. Saat ini, perusahaan itu mengklaim telah menghentikan 50 persen produk mengandung minyak sawit. Targetnya, penjualan semua produk mengandung minyak sawit akan dihentikan di akhir 2018.

Iceland Foods Ltd adalah perusahaan retail makanan dan bahan makanan yang memiliki 900 jaringan supermarket di Inggris. Selain itu, Iceland Foods Ltd juga memiliki 40 supermarket di Eropa, baik yang yang sifatnya waralaba maupun yang dimiliki sendiri.

Sikap perusahaan Iceland Foods Ltd ini diumumkan oleh Direktur Pelaksana  Iceland Foods Ltd, Richard Walker, dalam situs resmi perusahaan per 10 April 2018. Alasan utama Walker adalah bahwa industri minyak sawit menyebabkan deforestasi yang masif.

”Dalam periode yang singkat setelah anda membaca blog ini, hutan seluas 12 kali lapangan sepakbola di Indonesia, akan dibakar dan dibuldoser untuk menanam kelapa sawit. Ini menghancurkan habitat berharga untuk sejumlah satwa dunia yang terancam punah.” Demikian kalimat pembuka Richard dalam situs resmi Iceland Foods Ltd.

Dalam tulisan tersebut, Walker melanjutkan, deforestasi tersebut sama dengan deforestasi seluas 146 kali lapangan sepakbola per jam atau 3.500 kali lapangan sepakbola per hari. Namum itu hanya tingkat deforestasi hari ini. Sementara permintaan global terhadap minyak sawit akan meningkat dua kali lipat pada 2050.

”Situasinya tidak berkelanjutan dan mendesak. Itulah sebabnya Iceland mengumumkan bahwa kami akan menjadi supermarket Inggris pertama yang menghentikan penggunakan minyak sawit sebagai bahan di semua produk label kami sendiri pada akhir 2018,” kata Walker.

Walker mengklaim, saat ini kebijakan tersebut sudah mencakup 50 persen dari produk yang menggunakan bahan minyak sawit. Namun ini tidak mudah karena minyak sawit menjadi bahan yang terkandung hingga di 50 persen seluruh produk yang dijual di supermarket, dari mulai es krim, biskuit, hingga lipstik.

Sebagai respon, Direktur Eksekutif Dewan Negara-Negara Produsen Minyak Sawit (Council of Palm Oil Producing Countries-CPOPC), Mahendra Siregar, langsung melayangkan surat tanggapan kepada Richard Walker pada 13 April melalui surat elektronik. Surat tersebut juga disampaikan langsung ke Iceland Foods Ltd melalui Kedutaan Besar Republik Indonesia di London di tanggal yang sama.

”Sikap diskriminatif berbagai pihak di Uni Eropa terhadap minyak sawit dibandingkan minyak nabati lainnya seperti yang dilakukan oleh perusahaan ini memperlihatkan bahwa banyak pihak ingin menarik keuntungan dari kondisi itu,” kata Mahendra di Jakarta, Minggu (15/4/2018).

Berkelanjutan

Padahal di lain pihak, Mahendra melanjutkan, CPOPC siap bekerjasama dengan pihak-pihak yang benar-benar ingin mendukung pembangunan berkelanjutan di Indonesia dan seluruh produsen sawit lainnya. Namun hal itu tidak berarti negara-negara produsen sawit dapat menerima begitu saja pihak-pihak yang memberikan keterangan salah dan memutarbalikkan fakta seperti Iceland Foods Ltd.

Surat resmi CPOPC tersebut terdiri atas tiga halaman yang dilengkapi dengan satu halaman berisi tabel. Dalam tanggapannya, Mahendra menyebutkan, minyak kelapa sawit memiliki produktivitas tertinggi di antara jenis minyak nabati lainnya. Hal ini menjadikannya sebagai minyak nabati paling berkelanjutan sekaligus kunci penting untuk mengkonservasi lahan ketika permintaan minyak nabati dunia terus meningkat.

Itulah sebabnya, menurut Mahendra, kampanye Iceland untuk menghentikan minyak sawit hanya akan menyebabkan 10-20 kali konversi lahan baru yang lebih besar ketimbang lahan sawit untuk menggantikan produksi sawit yang ada sekarang. Ini mustahil mengingat tak ada lahan seluas itu yang tersedia, terutama di Eropa sendiri.

Kompas | Senin, 16 April 2018