MITOS 6-01 : Global Warming disebabkan oleh Pembangunan Kebun Sawit

Pemanasan global (global warming) disebabkan oleh pembangunan perkebunan kelapa sawit. (MITOS 6-01)

Mitos dan Fakta : Indonesia dalam Isu Lingkungan Global

Pemanasan global (global warming) telah menjadi masalah dan perhatian bersama masyarakat internasional. Pemanasan global dan salah satu dampaknya yakni perubahan iklim global (global climate change) seperti pergeseran peta iklim secara global, anomali iklim, banjir, kekeringan, badai, naiknya permukaan laut, dan lain-lain, telah menimbulkan kerugian besar dan bahkan telah mengancam keberlanjutan kehidupan di planet bumi.

Masalah pemanasan global, jelas merupakan masalah sangat serius dan memerlukan solusi yang fundamental dan holistik. Mengingat masalah tersebut merupakan kemerosotan mutu ekosistem planet bumi, maka solusinya haruslah bersifat global. Setiap orang, setiap negara perlu menempatkan diri sebagai bagian dari solusi (problems solver). Untuk itu, diperlukan pemahaman yang sama, kesetaraan dan objektif tentang penyebab masalah pemanasan global sehingga solusinya dapat ditemukan secara objektifpula.

Sebaliknya, tradisi bersikap dan berpikir untuk mencari “kambing hitam” membangun mitos atau mengalihkan persoalan kepada pihak/negara lain tanpa dukungan fakta empiris yang dapat dipertanggungjawabkan, bukanlah bagian dari solusi melainkan bagian dari masalah (problem maker) dan menciptakan masalah baru. Pengalihan persoalan dengan cara membangun opini publik global dengan prinsip bahwa “kebohongan yang diulang-ulang jika diberitakan secara intensif dan luas maka suatu saat akan diterima sebagai kebenaran”, tidak akan membantu memecahkan masalah lingkungan global.

FAKTA – Pemanasan global bukan disebabkan oleh ekspansi perkebunan kelapa sawit melainkan akibat dari meningkatnya intensitas efek gas rumah kaca pada atmosfer bumi. Secara alamiah atmosfer bumi diisi gas-gas rumah kaca (greenhouse gas, GHG) terutama uap air (H2O), karbon dioksida (CO2), metane (CH4), dan nitrogen (N2) dengan konsentrasi alamiah tertentu. Fungsinya membentuk mekanisme efek rumah kaca (natural greenhouse effect) untuk melindungi dan memelihara temperatur atmosfer bumi agar nyaman untuk kehidupan. Melalui mekanisme efek gas rumah kaca alamiah tersebut, sebagian energi panas matahari diperangkap dalam atmosfer bumi dan sebagian lagi dipantulkan ke luar angkasa (Gambar 6.1). Tanpa efek rumah kaca alamiah tersebut, semua energi panas matahari di pantulkan ke luar angkasa sehingga temperatur atmosfer bumi akan sangat dingin (tidak nyaman untuk kehidupan).

Intensitas efek rumah kaca alamiah tersebut menjadi meningkat ketika konsentrasi gas-gas rumah kaca pada atmosfer bumi meningkat di atas konsentrasi alamiahnya. Penyebabnya adalah meningkatnya emisi GHG dari aktivitas kehidupan manusia di bumi dan munculnya gas-gas buatan manusia seperti golongan Chlorofluorocarbon (CFC) dan halogen (human enhanced greenhouse effect).

Dengan meningkatnya intensitas efek rumah kaca tersebut, radiasi/panas sinar matahari yang terperangkap pada atmosfer bumi menjadi lebih besar (Soemarwoto, 1992) dari alamiahnya sehingga memanaskan temperatur udara bumi. Peningkatan temperatur atmosfer bumi tersebut yang kita kenal sebagai pemanasan global (global warming) akibat dari meningkatnya intensitas efek Rumah Kaca (green house effect) pada atmosfer bumi.

Menurut Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC, 1991) dalam periode pre-industri (1800-an) sampai tahun 1990, konsentrasi CO2pada atmosfer bumi telah meningkat dari 280 menjadi 353 ppmv (part per million volume). Sementara CH4 meningkat dari 0.8 menjadi 1.72 ppmv; N2O meningkat dari 288 menjadi 310 ppbv (part perbillion volume). Dan konsentrasi CFC meningkat dari nol menjadi 280-484 pptv (part per trillion volume). Dan menurut data International Energy Agency konsentrasi CO2 atmosfer bumi pada tahun 2005 mencapai 379 ppmv meningkat menjadi 396 ppmv tahun 2013 dan menjadi 399 ppmv tahun 2015 (IEA, 2016).

Peningkatan konsentrasi GHG atmosfer bumi terkait dengan kegiatan masyarakat dunia sejak era pra-industri (tahun 1800-an) sampai sekarang. Menurut International Energy Agency (2016), sumber emisi GHG global berdasarkan jenis gas GHG, urutan terbesar (Gambar 6.2) berasal dari emisi CO2 (90 persen), kemudian disusul CH4 (9%) dan N2O (1%).

Mitos & Fakta (MITOS 6-01)