Tumpang Sari Budidaya Kelapa Sawit & Pisang Dalam Satu Lahan

PELAIHARI – Metode tumpang sari dalam berkebun digarap Anton Kuswoyo, dosen aktif pada Politeknik Negeri Tanahlaut ini mengaku membudidayakan pisang dan kelapa sawit sekaligus dalam satu lahan yang sama.

Unik memang, itu karena umumnya orang menanam pisang dan kelapa sawit tidak dalam satu lahan yang sama. Alasannya sederhana, ini dilakukan Anton agar dalam satu lahan bisa panen dua jenis tanaman.

Wakil Direktur Bidang Kemahasiswaan ini sebelum membudidayakan tumpang sari pisang-sawit, mengaku sudah membuat analisis usaha penghasilan dari metode tumpang sari tersebut.

Umumnya hasil panen sawit Rp 3 juta per bulan untuk tiap hektare. Jika tumpang sari dengan komoditas pisang, diperkirakan dalam satu hektare tertanami sekitar 700 batang pisang.

“Jika panen dengan harga terendah 50.000 per tandan buah pisang maka diperoleh hasil 35 juta tiap kali panen. Panen berikutnya dalam waktu kurang lebih 2 bulan sekali, sehingga hasil pisang sebesar 17,5 juta per bulan. Artinya hasil kebun meningkat berkali-kali lipat dibandingkan jika hanya menanam sawit saja,” katanya.

Saat ini Anton menanam pisang jenis Kepok Manurun dan Pisang Ambon sebanyak 1.000 batang di kebun sawit miliknya di Desa Ujungbatu, Kecamatan Pelaihari. Waktu panen tiba, hasil yang diperoleh Anton, kemungkinan mencapai Rp 50 juta lebih per bulannya.

Guna menyuburkan pohon pisang dan pohon sawit miliknya, Anton memanfaatkan pupuk organik dari kotoran ayam dan sapi. Pupuk organik itu sangat mudah didapat karena Tanahlaut sentra peternakan ayam potong dan sapi. Hasilnya tanaman pun tumbuh subur.

Ditanya bagaimana dirinya mengatur waktu mengajar di kampus dengan berkebun. Dirinya menjawab bahwa berkebun dilakukan setiap sabtu minggu saat libur mengajar di kampus Politala. Artinya diluar jam kampus.

Selain itu dirinya juga memberdayakan masyarakat desa Ujungbatu yang ada di sekitar kebunnya. Umumnya masyarakat senang dengan adanya perkebunan pisang-sawit ini, karena menambah lapangan pekerjaan bagi mereka.

Menurut Anton, diperlukan ketekunan yang tinggi dan terus belajar dari banyak sumber agar sukses dalam mengelola perkebunan pisang-sawit tersebut. “Karena tak ada hasil yang diperoleh dengan cara instan. Semua butuh proses,” ujarnya. (Banjarmasinpost.co.id/Mukhtar Wahid)

Source : banjarmasin.tribunnews.com