Oversupply Sawit RI : Happy Problems

Mukti Sardjono : Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki)

Saat ini, kelapa sawit menjadi komoditi yang sangat penting bagi Indonesia. Bagaimana tidak, ekspor produk kelapa sawit 2017 telah mencapai 31,05 juta ton dengan nilai US$22,97 miliar. Produk minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) mencatat nilai ekspor tertinggi dibandingkan dengan komoditas lainnya.

Minyak sawit saat ini telah merambah dan dikonsumsi lebih dari 160 negara di dunia. Tenaga kerja yang terserap dalam bisnis kelapa sawit diperkirakan mencapai lebih dari 17 juta orang, baik on farm maupun off farm.

Namun, memasuki 2018, harga produk minyak sawit tertekan sampai pertengahan tahun, demikian juga volurne ekspor mulai menurun, sementara produksi minyak kelapa sawit dalam negeri semakin meningkat. Bagaimana kita menyikapinya?

Produksi minyak sawit Indonesia pada semester pertama 2018 telah mencapai 22,32 iuta ton atau meningkat 23% dibandingkan dengan produksi periode yang sama sebelumnya yang sebesar 18,15 juta ton. Meningkatan produksi ini terjadi karena tata kelola pertanaman yang semakin baik yang didukung faktor cuaca dan pengaruh El Nino pada tahun sebelumnya yang sudah mulai hilang.

Di pasar dunia, produksi minyak nabati pada semester I juga meningkat, terutama minyak kedelai di Brasil dan Amerika Serikat, serta rapeseed dan bunga matahari di Eropa dan Amerika Utara. Ditambah lagi, perang dagang antara Amerika Serikat dan China menyebabkan terhambatnya ekspor kedelai ke China, yang mengakibatkan semakin membanjirnya kedelai ke pasar non-China.

Tingginya suplai komoditas penghasil minyak nabati inilah yang menekan harga minyak nabati termasuk produk minyak kelapa sawit. Melimpahnya produksi minyak nabati dunia menyebabkan harga juga tertekan. Harga CPO sepanjang semester I/2018 bergerak di kisaran US$605-US$695 per metrik ton. Harga CPO global terus tertekan sejak awal Desember 2017 yang sampai semester I/2018 tidak pernah menembus US$700 per metrik ton.

Kondisi pasar minyak nabati dunia tersebut telah menyebabkan kinerja ekspor minyak sawit Indonesia semester l/2018 tertekan. Volume ekspor minyak sawit Indonesia (CPO PKO, dan turunannya termasuk oleochemical dan biodiesel) tercatat hanya mampu mencapai 15,30 juta ton atau turun 2% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar 15,62 juta ton.

Adapun, volume ekspor khusus untuk CPO, PKO dan turunannva (tidak termasuk oleochemical dan biodiesel) pada semester/I 2018, turun 6% dari 15,04 juta ton menjadi 14,16 juta ton. Akibat terus tertekannya ekpor minyak sawit, Gapki mencatat pada Juni 2018 stok minyak sawit dalam negeri mencapai 4,85 juta ton. Ini merupakan stok tertinggi selama Semester I/20l8.

Penyebab menurunnya eskpor pada Semester I/2018 terutama adalah menurunnya impor dari India, Uni Eropa, dan Afrika. Ekspor semester I ke India merosot signifikan sebesar 34% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, dari 3,74 juta ton menjadi 2,50 juta ton. Tergerusnya pasar India terutama karena tingginya bea masuk yang diterapkan India untuk CPO dengan alasan untuk melindungi industri refinery di dalam negeri.

Isu deforestasi dan juga kebijakan phase out atau penghapusan biofuel berbasis pangan oleh Parlemen Eropa sedikit banyak mempengaruhi pasar minyak sawit indonesia di Uni Eropa, Pada Semester I/2018, ekspor ke Uni Eropa turun 12%, dan 2,71 juta ton menjadi 2,39 juta ton. Penurunan ekspor juga terjadi ke negara-negara Afrika sebesar 10%.

Namun demikian, beberapa negara tujuan ekspor mengalami kenaikan. Ekspor ke China semester I naik 23% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu, laitu dari 1,48 juta ton menjadi 1,82 juta ton. Kenaikan volume ekspor ke China karena adanya penurunan pajak pertambahan nilai untuk minyak nabati dari 11% menjadi 10% yang efektif berlaku sejak 1 Mei 2018.

Eskalasi perang dagang antara China dan Negeri Paman Sam juga ikut memengaruhi pemintaan minyak sawit mentah dan turunannya. Untuk pertama kalinya, sejak perang dagang berlangsung, pada Juni ini China mengimpor biodiesel dari Indonesia 185.860 ton. Jika perang dagang terus berlanjut, prospek pasar minyak sawit dan biodiesel ke China diperkirakan semakin cerah.

Kenaikan ekspor juga terjadi ke Amerika Serikat. Pada semester I/2018, ekspor ke Amerika serikat mengalami kenaikan 13% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yaitu dari 542.700 ton menjadi 611,080 ton.

SIKAP INDONESIA

Meningkatnya produksi minyak sawit Indonesia adalah suatu berkah. Kondisi itu menunjukkan upaya pelaku usaha perkebunan baik perkebunan rakyat maupun perkebunan besar yang didukung dengan kebijakan pemerintah telah mampu meningkatkan produktivitas dan produksi kelapa sawit. Tingginya produksi minyak sawit memang menjadi problem saat ini, tetapi menyimpan peluang untuk pernanfaatannya, baik untuk peningkatan ekspor maupun penggunaan dalam negeri.

Peluang peningkatan ekspor masih sangat terbuka untuk membantu menjaga penguatan neraca perdagangan dan mempertahankan nilai tukar. Negara-negara tujuan ekspor yang menunjukken tren positif harus dapat dipertahankan, bahkan ditingkatkan. Peluang pasar China-dengan penduduk tertinggi di dunia yang saat ini sedang menghadapi perang dagang dengan Amerika-harus dapat dimanfaatkan dengan baik.

Angka ekspor ke India-yang pada 2017 mampu mengimpor minyak sawit lebih dari 7,6 jula ton-harus dapat kita kembalikan atau bahkan ditingkatkan. Demikian juga pasar spesifik, seperti Afrika yang membutuhkan minyak sawit dalam kemasan, perlu disikapi dengan lebih baik. Pasar Bangladesh, Timur Tengah, dan negara-negara non-Uni Eropa perlu terus digarap.

Pemerintah bersama pelaku usaha perlu meningkatkan misi dagang ke negara-negara prospektif yang didukung dengan berbagai kemudahan termasuk kemungkinan penurunan pungutan terhadap minyak sawit dan produk turunanya. Pertemuan bilateral dengan India yang telah menerapkan tarif impor minyak sawit yang sangat tinggi perlu terus dilakukan, sehingga minyak sawit Indonesia dapat lebih kompetitif di India.

Dengan Uni Eropa, yang secara terus-menerus menekan minyak sawit Indonesia dengan berbagai kampanye negatif, tentunya harus terus dilakukan sosialisasi dan negosiasi bahwa minyak sawit Indonesia benar-benar telah mengikuti kaidah-kaidah pembangunan berkelanjutan, termasuk telah diterapkannya mandatory ISPO (Indonesia Sustainable Palm Oil).

Upaya-upaya yang dilakukan ke Uni Eropa tentunya perlu didukurg dengan berbagai dokumen ilmiah yang selama ini menjadi concern Uni Fropa. Semester ll/2018, yang bertepatan dengan musim dingin di Eropa dan Amerika Utara, tidak ada lagi produksi rapeseed ataupun bunga matahari. Ini merupakan peluang bagi kita untuk meningkatkan ekspor minyak sawit Indonesia Di dalam negeri sendiri, peluang peningkatan pemanfaatan minyak sawit masih besar.

Kebijakan pemerintah yang telah diterapkan melalui pemanfaatan Biodiesel B-20 yang berlaku untuk PSO sudah saatnya juga diterapkan untuk non-PSO termasuk peningkatan menjadi B-30. Pembangkit listrik PLN yang tersebar hampir di seluruh Indonesia sudah waktunya diuji kelayakannya untuk menggunakan B-100.

Dengan upaya-upaya strategis diatas, baik melalui peningkatan ekspor di pasar-pasar potensial luar negeri maupun peningkatan pemanfaatan minyak sawit di dalam negeri, maka kegamangan over supply minyak sawit Indonesia pada Sementer I/2018 akan terjawab. Ekspor pada Semester II/2018 akan dapat ditingkatkan, penggunaan dalam negeri akan meningkat, harga akan terangkat naik baik harga CPO maupun harga TBS ditingkat petani. Semoga..

Bisnis Indonesia | Senin, 30 Juli 2018