Perpres : 2 Agustus 2018 Wajib Biodiesel 20% (B20)

BOGOR. Kalau tidak ada aral melintang, mulai bulan ini pemerintah bakal mewajibkan semua jenis moda transportasi mulai bulan depan menggunakan biodiesel sebesar 20% (B20). Peraturan presiden (Perpres) yang memayungi pelaksaan kewajiban itu akan terbit 2 Agustus besok, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menyatakan, penyusunan beleid tersebut sudah rampung. “Tinggal menunggu tanda tangan Presiden saja,” ujarnya di Istana Kepresidenan Bogor kemarin (31/7).

Setelah Presiden Joko Widodo meneken revisi Perpres Nomor 61 Tahun 2015 tentang Penghimpunan dan Penggunaan Dana Perkebunan Kelapa Sawit, pelaksanaan perluasan penggunaan B20 bisa segera bergulir. Kebijakan ini bisa menghemat impor solar sebanyak 3,5 juta-4,5 juta kiloliter (kl) per tahun. Efek berikutnya, Darmin mengungkapkan, bisa positif ke neraca perdagangan Indonesia yang saat ini masih mengalami defisit. Perpres Penghimpunan dan Penggunaan Dana Perkebunan Kelapa Sawit yang anyar mewajibkan seluruh kendaraan, bukan cuma sektor transportasi yang mendapatkan anggaran public service obligation (PSO), memakai biodiesel 20%.

Sebelumnya, kewajiban pemakaian B20 baru menyasar sektor transportasi yang menikmati anggaran PSO, seperti keretaapi dan bus. Sementara sektor-sektor non-PSO yang mencakup industri, transportasi bukan PSO, serta pertambangan belum berjalan, Menteri Perindustlian Airlangga Hartarto bilang, untuk sektor transportasi non-PSO saja, kebutuhan solarnya mencapai 16 juta ton per tahun. “Jadi, ada penambahan permintaan biodiesel 3,2 juta ton per tahun,” kata dia.

Untuk jangka menengah, Airlangga menjanjikan, pemerintah bakal mendorong industri menggunakan biodiesel 100%. Sebab, teknologi sudah siap. “Bahkan, untuk itu sudah ada investasi yang pemerintah lakukan,” imbuhnya. Teknologi ini menelan investasi hingga US$ 400 juta yang bisa menyerap biodiesel mencapai 100 juta kiloliter per tahun.

Airlangga menambahkan, pemerintah akan terus mendorong industri memakai biodiesel 100% atau green diesel. “Jadi, kita beralih dari B20 menuju ke green diesel,” tutur Airlangga. Selain untuk mengurangi impor solar, kewajiban pemakaian biodiesel juga bertujuan untuk menghemat devisa, yang ujung-ujungnya bisa memperkuat nilai tukar rupiah. Kebijakan ini berpotensi menghemat devisa impor US$ 21juta sehari.

Kontan | Rabu, 1 Agustus 2018