MITOS 6-22 : Kebun Sawit Sumbang Emisi GHG Terbesar Sektor Pertanian Indonesia

Perkebunan kelapa sawit (deforestasi dan pembukaan lahan gambut) merupakan penyumbang terbesar emisi GHG sektor pertanian Indonesia. (MITOS 6-22)

FAKTA – Berdasarkan data-data emisi pertanian Indonesia yang dikeluarkan oleh FAO (2013), menunjukkan (Gambar 6.18) bahwa sumber GHG pertanian Indonesia berasal dari peternakan (enteric fermentation) sebesar 13 persen, kotoran ternak di padang penggembalaan (manure left on pasture) sebesar 7 persen, penggunaan pupuk pabrik (synthetic fertilizers) sebesar 12 persen, budidaya padi (rice cultivation) sebesar 39 persen, pengelolaan limbah ternak (manure management) sebesar 5 persen, limbah tanaman (crop residues) sebesar 3 persen, pemanfaatan pupuk kandang (manure applied to soils) sebesar 2 persen, pemanfaatan lahan gambut (cultivated organic soils) sebesar 19 persen dan pembakaran sisa tanaman (burning crop residues).

Berdasarkan data tersebut, sumber emisi GHG pertanian Indonesia terbesar adalah dari kegiatan pertanian padi (39 persen) dan kegiatan terkait peternakan (27 persen) sehingga kedua komoditas tersebut menyumbang 66 persen GHG pertanian Indonesia. Sedangkan komoditas perkebunan sawit dapat dipastikan bukan penyumbang GHG utama pertanian Indonesia.

Mitos & Fakta (MITOS 6-22)