6 Bulan Uji Coba : Biodiesel 20% (B20) Aman Di Gunakan Pada Kereta

LAMPUNG – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) merekomendasikan biodiesel 20% (B20) sebagai bahan bakar pada kereta api aman digunakan. B20 merupakan bahan bakar Solar yang dicampur bahan bakar nabati sebanyak 20%.

Rekomendasi itu seiring dengan rampungnya uji coba (rail test) penerapan B20 pada kereta api. Uji coba ini dilakukan setelah mendapat laporan dari PT KAI atas permasalahan teknis penggunaan B20 pada 2017 kemarin. Rail test tersebut berlangsung selama 6 bulan yang dimulai sejak 10 Februari kemarin.

Ketua Tim Kajian Rail Test B20 Dadan Kusdiana mengatakan tahapan pengujian dilakukan berkala yakni tiga bulan pertama dan tiga bulan berikutnya. Rentan waktu tiga bulan itu sesuai dengan jadwal penggantian komponen pada mesin kereta seperti filter bahan bakar. Dia menyatakan tidak ada permasalahan apapun yang ditemui selama 6 bulan tersebut. “B20 aman digunakan di kereta. Rekomendasi ini akan disampaikan ke Kementerian BUMN,” kata Dadan di Depo Tanjung Karang, Lampung, Selasa (14/8).

KAI sudah melakukan mandatori bahan bakar nabati secara bertahap mulai dari pencampuran 5% atau B5. Sejak 2016 pencampuran ditingkatkan menjadi 20% atau B20. Laporan KAI menyatakan ada masalah pada filter dan nozzle tip lokomotif setelah menggunakan B20. Dengan uji coba ini akan diketahui apakah permasalahan itu terjadi akibat pemakaian B20. Uji coba itu meliputi kajian teknis penggunaan B20 pada komponen dan sistem bahan bakar pada Lokomotif dan Genset.

Dengan selesainya ujicoba ini maka kereta api siap untuk melaksanakan perluasan B20 yang rencananya diterapkan pada September nanti. Dadan menerangkan naskah peraturan terkait perluasan B20 itu disusun bersama dengan instansi terkait. Namun dia belum bisa memastikan kapan payung hukum tersebut diteken. “Nantinya ada Perpres. Setelah itu akan keluar peraturan turunannya,” ujarnya.

Dadan mengungkapkan uji coba dilakukan pada Lokomotif Electro Motive Diesel (EMD) dan General Electric (GE) milik KAI. Kedua lokomotif itu digunakan untuk menarik kereta batu bara rangkaian panjang (Babaranjang) dengan route PP Stasiun Tanjung Enim –Stasiun Tiga Gajah – Stasiun Tarahan yang berjarak kurang lebih 800 kilometer (KM) dengan waktu tempuh 2,2 hari.

“Dipilihnya kereta Babaranjang pada kajian ini dengan pertimbangan beban mesin pada lokomotif menarik Babaranjang ini merupakan salah satu lokomotif dengan beban terberat dibandingkan lokomotif lain yang dimiliki oleh KAI,” ujarnya.

Dikatakannya dua lokomotif yang dilakukan pengujian masing-masing lokomotif menggunakan bahan bakar berbeda yakni B0 alias tidak memakai campuran bahan bakar nabati dan yang satu lokomotif menggunakan B20. Lokomotif-lokomotif yang diuji telah menempuh jarak sekitar 58.000 kilometer. “Sejauh ini tidak terdapat perbedaan performansi yang signifikan antara mesin berbahan bakar B0 dengan mesin berbahan bakar B20,” ujarnya. (rap)

Investor Daily | Rabu, 15 Agustus 2018 | B20 Aman Digunakan pada Kereta