Tahun Yang Penuh Tantangan Untuk Pertahankan Perolehan Devisa Terbesar Bagi Indonesia

2017 menjadi momentum bersejarah bagi industri minyak kelapa sawit Indonesia. Meneruskan kesuksesan sebagai penyumbang devisa terbesar bagi Indonesia, industri kelapa sawit mencatatkan sumbangan lebih dari US$22,9 miliar terhadap nilai ekspor Indonesia.

Tahun lalu produksi minyak sawit Indonesia mencapai 42,04 juta ton dan ekspor ke lebih dari 50 negara dengan volume ekspor mencapai 31.05 juta ton atau tumbuh hingga 23,6 % dibandingkan 2016. Pasar terbesar ekspor sawit Indonesia antara lain India, Tiongkok, dan Pakistan, serta negara anggota Uni Eropa.

Hingga 2017, industri kelapa sawit mencatatkan rata-rata sumbangan sebesar US$20 miliar kepada devisa negara setiap tahunnya. Capaian tahun lalu menunjukkan sawit menyumbang hingga 14% dari total devisa negara yang mencapai US$169 miliar.

Capaian itu belum dihitung dengan produk turunan minyak kelapa sawit berupa olechemical dan biodiesel. Tahun ini, minyak kelapa sawit yang dihasilkan oleh lebih dari 14 juta hektare perkebunan sawit di Indonesia, diprediksi masih akan menjadi penyumbang devisa terbesar bagi negara.

Namun, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) juga memprediksi, dari sisi nilai ekspor, jumlahnya justru akan sedikit menurun. Wakil Ketua Umum III bidang Perdagangan dan Keberlanjutan Gapki, Togar Sitanggang menyebutkan, sumbangan devisa dari minyak kelapa sawit bisa turun hingga 5% tahun ini.

Hal itu diakibatkan sejumlah tantangan berupa hambatan perdagangan yang dirasakan oleh eksportir minyak kelapa sawit Indonesia dari beberapa negara tujuan ekspor. “Selain itu juga ada faktor dari sisi pelemahan permintaan untuk minyak nabati di dunia. Hal ini juga ikut berdampak pada minyak sawit, Itu dari sisi neraca suplai dan permintaan.

Dari sisi regulasi juga ikut jadi hambatan,” kata Togar kepada Media Indonesia di ruang kerjanya, Kamis (10/8). Dari sisi hambatan perdagangan, pukulan telak bagi eksportir minyak sawit Indonesia ialah adanya aturan pengenaan bea masuk bagi sawit di India yang merupakan negara tujuan utama ekspor minyak kelapa sawit Indonesia.

Togar mengungkapkan, hal itu dilakukan India untuk melindungi petani kedelai di negaranya dan juga melindungi industri hilirnya. Alhasil, pada semester pertama 2018, ekspor minyak kelapa sawit ke India menurun drastis hingga 34% jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Selain India, adanya kebijakan Renewable Energy Directive (RED) II dari Uni Eropa, ikut memberikan sentimen negatif terhadap perdagangan minyak kelapa sawit dunia.

“Memang Uni Eropa baru akan menerapkan kebijakan tersebut pada 2030 untuk keseluruhan minyak nabati yang berasal dari sumber makanan langsung atau biasa kita sebut fresh oil. Tapi, itu sudah jadi sentimen global yang menunjukkan Uni Eropa tak mau lagi impor minyak kelapa sawit,” ujar Togar.

Hal lain yang juga berpengaruh terhadap perdagangan minyak kelapa sawit global ialah perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok. Meski tidak berpengaruh secara langsung, perang dagang tersebut membuat AS kelebihan stok kedelai karena tak bisa masuk ke Tiongkok yang kini mengalihkan pemenuhan kedelai dari Brasil yang menjual kedelainya dengan harga murah.

Sejumlah hambatan tersebut membuat realisasi ekspor minyak kelapa sawit Indonesia pada semester I-2018 terkoreksi hingga 6% jika dibandingkan setahun sebelumnya. Kondisi kelebihan stok akibat hambatan tersebut juga membuat harga minyak kelapa sawit di perdagangan minyak nabati dunia melorot hingga rerata US$605-US$695 per ton.

Kecerdikan pemerintah

Di tengah berbagai hambatan yang memicu penurunan sejumlah indikator perdagangan minyak kelapa sawit tersebut, Gapki meminta pemerintah untuk lebih lihai memainkan diplomasi perdagangan agar sumbangan devisa minyak kelapa sawit terus berlanjut.

Sejumlah pasar ekspor baru layak dijajaki untuk memberikan keluwesan bagi industri kelapa sawit Indonesia yang menyalurkan 70% porsi ekpor dari total produksi minyak kelapa sawit nasional tersebut.

Togar mengatakan, salah satu potensi pasar ekspor baru ialah benua Afrika. Meski demikian, pemahaman terhadap pasar minyak nabati Afrika juga perlu dimiliki oleh pemerintah. Hal itu menurut Togar berkaitan dengan pemberian insentif yang tepat bagi para produsen agar tidak merugi atau hanya menikmati pendapatan yang relatif kecil ketika masuk ke pasar Afrika.

“Karakteristik dari negara Afrika ialah kondisi industri logistik yang belum memadai. Jadinya mereka lebih menginginkan minyak kelapa sawit itu sampai ke negara mereka bukan dalam bentuk curah, tapi sudah dalam kemasan yang nantinya mereka distribusikan sendiri ke warung-warung atau toko pengecer di sana,” tutur Togar.

Dengan kondisi tersebut, pelaku industri minyak kelapa sawit perlu berinvestasi dalam membuat kemasan. Saat ini, pemain industri sawit yang memiliki fasilitas pengemasan, menurut Togar, masih segelintir saja. Investasi menambah fasilitas kemasan dinilainya bukan sesuatu yang murah dan bisa dengan cepat diadakan.

Togar memberi contoh, saat ini selisih harga antara minyak kelapa sawit curah dan kemasan berkisar US$10 per ton. Dengan insentif sebesar tersebut, tentunya belum cukup bagi pelaku industri karena masih ada biaya mengemas yang bekisar US$2- US$2,5 dan biaya tambahan untuk pengiriman dengan kontainer yang berkisar US$2,5 – US$5 per ton.

“Lalu keuntungan dari sisi disribusi untuk si pembeli hanya US$1-US$2 saja, sehingga insentif US$10 itu habis. Saya bilang kalau mau insentifnya dibesarkan sampai US$15 atau bahkan US$20 agar ada keuntungan yang bisa diinvestasikan untuk membuat kemasan,” ucap Togar. Insentif ini bisa diberikan pemerintah dalam bentuk pengurangan pungutan ekspor untuk produk kemasan Tahun lalu, Gapki bersama pemerintah telah menjajaki sejumlah pasar ekspor baru di Afrika seperti Afrika Selatan dan Nigeria.

Menurut Togar permintaan terhadap kemasan menjadi yang paling dominan dari negara Afrika, sementara kapasitas pabrik pengolahan minyak sawit di Indonesia untuk kemasan tidak memadai. Afrika sendiri memang menjadi salah satu tujuan ekspor baru yang menjanjikan bagi minyak kelapa sawit Indonesia. Meski jumlahnya belum signifikan dari sisi nilai ekspor, tren kenaikan permintaan sawit dari Afrika terus berlanjut.

Data Gapki menunjukkan periode Januari – Juni 2018, ekspor minyak sawit ke Afrika mencapai 1,03 juta ton. Selain Afrika, sejumlah negara di kepulauan Pasifik juga berpotensi menjadi negara tujuan ekspor baru.

Namun, kecenderungannya masih sama dengan negara di benua Afrika yang meminta minyak sawit datang dalam bentuk kemasan disana. “Formulasi yang bisa dilihat adalah minyak sawit ini digunakan dalam kebutuhan sehari-hari, jadi biasanya mengikuti laju pertumbuhan penduduk. Nah, perlu dilihat negara dengan jumlah laju pertumbuhan penduduk yang tinggi sebagai salah satu potensi melebarkan pasar ekspor minyak sawit,” imbuh Togar.

Penerapan B20

Penggalakan ekspor ke pasar baru demi menjaga perolehan devisa negara harus terus diupayakan. Hal lain yang bisa mendorong membaiknya iklim usaha industri minyak sawit di Indonesia maupun dunia ialah penerapan bauran minyak nabati sebesar 20% terhadap bahan bakar solar untuk mesin diesel atau biasa disebut Biodiesel 20 (B20).

Penerapan yang akan diberlakukan secara menyeluruh pada awal September nanti bisa menjadi salah satu stimulus dalam penyerapan minyak sawit dalam negeri. Togar memprediksi adanya kenaikan serapan dalam negeri ketika kebijakan B20 diberlakukan selama setahun penuh akan meningkat 10% dari total tingkat konsumsi  domestik tahun 2018.

Secara bersamaan, kondisi tersebut akan berefek pada peningkatan harga minyak sawit secara global atau paling tidak mampu menahan laju penurunan harga minyak sawit, sehingga harga di tingkat petani pun tidak semakin mencekik dan bisa kembali mensejahterakan petani kelapa sawit.

Pemerintah Indonesia pada dasarnya sudah memandatkan penggunaan B20 sejak 2014 silam. Saat ini, minyak sawit memang menjadi minyak nabati paling siap dalam memenuhi kebijakan B20 tersebut. Total kapasitas produksi biodiesel di Indonesia tahun lalu mencapai 11,97 juta kilo liter, jika 2020 nanti penerapan B30 diberlakukan, total kapasitas produksi biodiesel diperkirakan akan mencapai 15 juta kilo liter.

“Memang sebenarnya regulasinya sudah ada, jadi marilah kita mengikuti regulasi yang sudah ada tersebut. Dengan kondisi saat ini diharapkan bisa mempengaruhi kondisi perkelapa sawitan Indonesia.

Minimal soal harga tandan buah segar (TBS) di tingkat petani yang sudah sangat anjlok,” kata Togar. Ditingkat global, Indonesia juga punya potensi untuk mengekspor biodiesel. Indonesia pernah punya rekor ekspor biodiesel ke Uni Eropa sebesar 1,3 juta ton. Pasar AS juga butuh biodiesel demikian juga China. saat ini harga crude oil di pasar dunia naik cukup tinggi. ini juga menjadi peluang bagi biodiesel sawit untuk kembali melihat pasar ekspor.

Media Indonesia | Kamis, 16 Agustus 2018 | Mempertahankan Perolehan Devisa di Tahun yang Penuh Tantangan