Suara Petani : Harga Sawit Lemah Tapi Mereka Malah Berulah

JAKARTA – Aksi Greenpeace yang mengajak grup band Boomerang beraksi di tangki minyak sawit siap ekspor milik Grup Wilmar, disesalkan. Kegiatan tanpa izin oleh LSM asing ini mengusik kedaulatan bangsa Indonesia.

Kegiatan semacam ini adalah bagian dari kampanye hitam sektor kelapa sawit. “Dan itu pasti pesanan negara maju produsen minyak nabati yang kalah bersaing dengan sawit,” kata Wakil Ketua Komisi IV DPR Viva Yoga Mauladi.

Kata Viva, selama minyak sawit menjadi nomor satu dalam pasar minyak nabati dunia, kampanye negatif sawit akan selalu ada. “Kejadian ini akan terus berulang, selama sawit menjadi ancaman pasar minyak nabati mereka. Itu jelas karena persaingan dagang,” kata Viva.

Dalam kampanye negatif seperti ini, produsen sawit dituduh menghasilkan minyak “sawit kotor” karena menghancurkan hutan di Kalimantan dan Papua.

Karena kalah bersaing itulah, menurut Viva, segala cara dilakukan LSM untuk menghancurkan sawit. “Pemerintah tidak boleh tinggal diam dengan aksi LSM tersebut. Jika terbukti melanggar hukum, jangan ragu menindak LSM meskipun itu LSM internasional,” kata Viva.

Ironisnya, LSM dan grup musik tersebut personelnya justru merupakan warga negara Indonesia (WNI). “Di mana jiwa nasionalisme mereka? Kok membela kepentingan asing ketimbang kepentingan nasional?,” katanya.

Dengan menghantam industri sawit, kata Viva Yoga, juga akan mengancam jutaan petani sawit. Sebab di industri sawit tidak hanya dikuasai oleh para pengusaha besar saja, tapi juga menjadi tempat jutaan petani dan pekerja menggantungkan hidupnya dari industri ini.

Oleh karena itu, Viva Yoga mendesak pemerintah bertindak tegas terhadap semua LSM berkedok lingkungan yang dalam kegiatannya justru mengebiri kepentingan nasional, entah itu komoditas sawit maupun komoditas lainnya.

Sementara itu, Wakil Sekjen Apkasindo (Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia) Rino Afrino mengatakan, jika kegiatan Greenpeace sampai mempengaruhi kegiatan ekspor Wilmar, dampaknya akan berbuntut ke petani sawit. Tandan buah segar (TBS) petani sawit tidak bisa terjual.

“Jadi ini permasalahan yang sangat pelik. Padahal kita lagi sibuk mau ekspor supaya minyak sawit terserap, Greenpeace malah menduduki kilang minyak yang siap ekspor.”

Rino mengatakan, Apkasindo mengecam tindakan Greenpeace tersebut. “Greenpeace dan Boomerang tidak punya perasaan, apalagi pada kondisi harga yang rendah sekarang,” kata Rino.

Aksi LSM tadi, kata Rino, sangat berdampak negatif bagi industri sawit secara keseluruhan. “Oleh karena itu kami minta pemerintah bertindak tegas kepada Greenpeace. Masa seenaknya seperti itu, seleluasa seperti itu,” katanya.

Rino mengatakan, petani sawit bisa melawan jika LSM asing terus menerus melakukan kampanye negatif. “Kami siap demo melawan LSM antisawit,” katanya.

Sementara itu, menanggapi aksi vandalistis Greenpeace, Direktur Eksekutif GAPKI (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia) Mukti Sardjono juga menyesalkan hal tersebut. Jika aksi Greenpeace dan Boomerang ditemukan unsur pelanggaran hukum, kami mendorong Grup Wilmar melaporkan LSM dan grup musik tersebut kepada pihak berwajib.

“Pasti aksi itu tanpa izin dan bukannya memasuki pekarangan orang tanpa izin itu sebuah tindak pidana,” jawab Mukti singkat.

Seperti diberitakan sebelumnya, sekitar 23 aktivis Greenpeace bersama empat personel grup band musik Boomerang melakukan aksi damai dengan menduduki kapal penyuplai minyak sawit dan tangki timbun milik Wilmar, Selasa (25/9).

“Minyak Sawit yang diproduksi Wilmar ini telah terkontaminasi minyak sawit hasil dari praktek-praktek deforestasi di berbagai wilayah Indonesia termasuk di Papua. Kami mendesak Wilmar segera menepati janjinya dalam membersihkan rantai pasoknya dari para perusak hutan,” kata Kiki Taufik, Kepala Kampanye Hutan Global untuk Indonesia.

Source : Tribunnews.com