MENPERIN : Kembangkan 3 Jalur Hilirisasi CPO Tingkatkan Pertumbuhan Ekonomi Nasional

JAKARTA – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dorong tiga jalur hilirisasi di sektor industri minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO) untuk tingkatkan pertumbuhan ekonomi nasional.

Hal tersebut disampaikan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pada pembukaan Indonesian Palm Oil Conference (IPOC) 2018 & 2019 Price Outlook di Nusa Dua, Bali. Pada pembukaan tersebut, Selasa (30/10/2018) Airlangga mendampingi Presiden Joko Widodo.

Airlangga menjelaskan selain pengembangan produk hulu, terdapat tiga jalur hilirisasi industri CPO yang potensial untuk dikembangkan. Pertama adalah hilirisasi oleopangan (oleofood complex), yaitu industri-industri yang mengolah produk industri refinery untuk menghasilkan produk antara oleopangan (intermediate oleofood) sampai pada produk jadi oleopangan (oleofood product).

Jalur kedua yakni hilirisasi oleokimia (oleochemical complex). Jalur ini mengolah produk industri refinery untuk menghasilkan produk-produk antara oleokimia, oleokimia dasar, hingga produk jadi seperti biosurfaktan (produk detergen, sabun, dan sampo), biolubrikan (biopelumas), dan biomaterial (contohnya bioplastik).

Terakhir adalah hilirisasi biofuel (biofuel complex) dengan mengolah produk industri refinery untuk menghasilkan produk-produk antara biofuel hingga produk jadi biofuel. Produk yang dihasilkan diantaranya biodiesel, biogas, biopremium, bioavtur, dan lain-lain.

Sebagai produsen dan eskportir sawit terbesar di dunia, menurut Airlangga hilirisasi dapat terus mendorong akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional. Saat ini saja Indonesia telah menguasai 52% pasar ekspor sawit dunia.

CPO dan produk turunannya menjadi pemasok utama terhadap kinerja ekspor nasional dengan nilai sebesar US$22,97 miliar pada tahun 2017. Indikator rasio ekspor produk hulu dengan produk hilir pun bergeser, dari semula 60%:40% pada 2010 bergeser menjadi 22%:78% pada 2017.

“Ekspor produk berbasis kelapa sawit yang didominasi oleh produk hilir bernilai tambah tinggi ini menjadi salah satu penopang perolehan devisa negara dan berperan penting dalam menjaga penguatan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing,” ujar Airlangga dalam keterangan resmi.

Dia menambahkan dengan produksi 42 juta ton minyak sawit per tahun, Indonesia berkontribusi hingga 48% dari produksi CPO dunia. Selain itu, sektor ini pun menyerap tenaga kerja sebanyak 21 juta orang, baik secara langsung maupun tidak langsung.

“Indonesia berpeluang menjadi pusat industri pengolahan sawit global untuk keperluan pangan, nonpangan, dan bahan bakar terbarukan,” ujar Airlangga.

Airlangga menambahkan, Kemenperin bersama pelaku usaha industri biodiesel mendukung kebijakan perluasan mandatory B20 untuk sektor public service obligation (PSO) dan non-PSO. Dukungan tersebut disampaikan melalui partisipasi serta kinerja produksi Badan Usaha Bahan Bakar Nabati (BU-BBN) dalam menyediakan pasokan Biodiesel FAME (Fatty Acid Methyl Ester) sebagai pencampur BBM diesel dengan kualitas sesuai spesifikasi SNI.

Kemenperin pun, menurut Airlangga, terus mendukung upaya pengembangan industri bahan bakar terbarukan ramah lingkungan dari minyak sawit. Produk tersebut meliputi green diesel, green avtur, dan green gasoline. khususnya yang berbasis teknologi proses dalam negeri.

“Kami telah mengusulkan industri greenfuel masuk ke dalam cakupan sektor usaha yang berhak mendapatkan tax holiday,” tutup Airlangga.

Source : industri.bisnis.com