GAPKI : Pentingnya Peran Media Perangi Hoax Sawit

Jakarta – Pada 2017 sumbangsih devisa ekspor sawit mencapai Rp318,78 triliun, lebih besar dari sektor migas. Sawit bahkan disebut sebagai industri yang menyelamatkan defisit neraca perdagangan Indonesia kala itu.

Hal ini disampaikan Ketua Bidang Komunikasi Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Tofan Mahdi dalam workshop Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) bertema ‘Membangun Awareness dan Persepsi Positif Indiatri Kelapa Sawit pada Kalangan Netizen’ di Balikpapan, Rabu (28/11/18).

“Pun saat dolar perkasa, ekspor industri agribisnis ini lah yang menjadi penyelamat nilai tukar rupiah. Namun ironisnya, di balik fakta kontribusi sawit bagi perekonomian bangsa, hoax mengenai industri ini masih marak beredar di kalangan masyarakat,” ujar Tofan dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Kamis (29/11/2018).

Tofan menyoroti isu sustainable palm oil atau pengelolaan minyak sawit yang berkelanjutan, yang selama ini dipersoalkan negara Eropa dan mendapat banyak sorotan dari media masa internasional maupun nasional.

Misalnya saja isu deforestasi yang kerap dialamatkan pada industri sawit. Padahal produktivitas sawit jauh lebih besar dibandingkan dengan minyak nabati lain. Data Oil World 2017 menyatakan kelapa sawit mampu menghasilkan 4 ton minyak per hektare, 10 kali lebih besar dibandingkan minyak kedelai Amerika yang hanya 0,4 ton per hektare.

“Siapa sebenarnya yang melakukan deforestasi? Lahan kedelai di Amerika Latin 140 juta hektare. Baru-baru ini terjadi kebakaran di California, namun kenapa media asing maupun LSM tidak ada yang mempersoalkan?” kata Tofan.

Tofan menilai lahirnya isu negatif kelapa sawit tak lepas dari kepentingan politik dagang semata. Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia menjadi ancaman bagi negara produsen minyak nabati lain. Apalagi kini sawit telah dikembangkan menjadi sumber energi terbarukan.

“Negara yang menguasai energi adalah negara yang menguasai dunia. Ketika sawit menjadi sumber energi, maka Indonesia akan menjadi negara yang super power,” tegas Tofan.

Industri sawit Indonesia juga sudah memiliki sertifikasi untuk pengelola sawit yang sesuai standar sustainable melalui sertifikasi Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) yang dibuat pemerintah. Saat ini sudah 413 sertifikat dikeluarkan pemerintah. Namun, sertifikasi ini tidaklah cukup, peran media nasional sangat dibutuhkan untuk melawan kampanye negatif yang terus menyerang komoditas nasional.

“Sawit sudah menjadi kepentingan nasional karena menyangkut perekonomian bangsa, menyerap tenaga kerja yang besar, serta menjadi komoditas kebanggan Indonesia. Maka, sudah saatnya media sebagai pemilik pengaruh yang besar di negeri ini menyuarakan kebenaran-kebenaran mengenai industri sawit dan melawan hoax,” tutup Tofan.

Source : Wartaekonomi.co.id