Pelemahan Harga Komoditas Pesaing Turunkan Kinerja Ekspor Minyak Sawit Indonesia

web logo

SIARAN PERS
Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI)

Pelemahan Harga Komoditas Pesaing Turunkan Kinerja Ekspor Minyak Sawit Indonesia

Kinerja ekspor minyak sawit Indonesia pada November 2015 kembali tergerus. Sepanjang November volume ekspor minyak sawit Indonesia tercatat hanya mampu mencapai 2,385 juta ton atau turun sebsar 8,6% dibandingkan dengan ekspor bulan sebelumnya sebesar 2,61 juta ton.

Turunnya kinerja ekspor minyak sawit Indonesia dipengaruhi beberapa faktor seperti harga minyak kedelai yang murah, berkurangnya permintaan dari negara tujuan ekspor utama dan isu sustainable palm oil sourcing. Secara year on year kinerja ekspor minyak sawit Indonesia sepanjang Januari – November 2015 tercatat naik 21% dibandingkan periode yang sama tahun 2014, atau dari 19,73 juta ton sepanjang Januari – November 2014 naik menjadi 23,89 juta ton periode yang sama tahun 2015. Dengan demikian kita bisa melihat bahwa ekspor minyak sawit Indonesia tetap tumbuh baik.

Negara-negara Afrika yang merupakan pasar baru Indonesia membukukan penurunan drastis pemintaan minyak sawit dari Indonesia pada November ini. Penurunan mencapai 70% atau dari 259.08 ribu ton Oktober lalu menjadi 72,37 ribu ton pada November. Penurunan permintaan disinyalir terkait dengan isu Pelarangan dari Food and Drugs Authority atau Otoritas Makanan dan Obat-obatan di Ghana setelah ditemukan banyaknya minyak sawit yang menggunakan pewarna sintetis yang membahayakan kesehatan. Sebagai informasi di negara-negara Afrika produk Red Palm Oil sangat populer.

Penurunan ekspor yang cukup siginifikan dicatatkan oleh India pada November ini sebesar 25,5% atau dari 679,38 ribu ton pada Oktober tergerus menjadi 506,39 ribu ton di November. Penurunan permintaan dari India disebabkan adanya pelarangan penumpukan minyak nabati di dalam negeri dan Negeri Bollywood ini juga menaikan tarif impor khususnya untuk Butter Oil dari 30% menjadi 40%, khusus untuk minyak sawit sendiri para pengusaha industri hilir India bahkan mengusulkan kenaikkan tarif bea masuk menjadi empat kali lipat dari yang berlaku saat ini, karena harga minyak sawit yang murah telah mematikan industri hilir minyak nabati India.

Penurunan permintaan minyak sawit juga dicatatkan oleh Bangladesh meskipun secara kuantitas tidak besar akan tetapi secara persentase cukup signifikan. Sepanjang November ekspor minyak sawit Indonesia ke Bangladesh hanya mampu mencapai 44,85 ribu ton atau turun 55% dibanding ekspor bulan sebelumnya sebesar 99,96 ribu ton. Hal yang sama diikuti Amerika Serikat (AS). Kinerja ekspor minyak sawit ke Negeri Paman Sam pada November melorot 30% atau hanya mampu mencapai 82,19 ribu ton. Penurunan permintaan karena adanya melimpahnya stok kedelai di dalam negeri dan isu sustainable palm oil sourcing, kebakaran lahan menjadi salah satu alasan bahwa minyak sawit Indonesia tidak sustainable. Selain itu perubahan regulasi pemberian insentif terhadap biodiesel di AS disinyalir menjadi salah satu penyebab turunnya ekspor ke AS. Pemerintah AS berencana merubah insentif blenders (pencampur) menjadi kepada produsen.

Sebaliknya beberapa negara tujuan utama ekspor justru menaikkan permintaan minyak sawit sepanjang November seperti China mencatatkan kenaikan 15% dengan permintaan mencapai 436,91 ribu ton, Pakistan mengerek permintaan minyak sawitnya menjadi 159,95 ribu ton atau naik 22% dibandingkan bulan sebelumnya dan negara-negara Uni Eropa mencatatkan kenaikan permintaan minyak sawitnya menjadi 418,05 ribu ton atau terkerek naik 27% dibandingkan bulan sebelumnya.

Kenaikan permintaan dari ketiga negara tersebut mulai adanya pelarangan penggunaan minyak kedelai dari hasil rekayasa genetika (GMO-genetically modified organism) khususnya di Amerika dan China. Sementara kenaikan impor minyak sawit Pakistan dikarenakan meningkatnya permintaan untuk memenuhi kebutuhan industri makanan di negara tersebut.

Dari sisi harga, sepanjang November harga CPO global bergerak di kisaran US$ 537,50 – US$ 577 per metrik ton. Selama pekan pertama harga menunjukkan kenaikan hingga mencapai US$ 577 per metrik ton dan tiga pekan sampai akhir bulan bergerak stagnan di kisaran US$ 537,50 – US$ 565 per metrik ton. Harga rata- rata CPO Global sepanjang November hanya mampu mencapai US$ 552,2 per metrik ton atau turun 4.5% dibandingkan dengan harga rata-rata bulan sebelumnya. Harga CPO turun dikarenakan harga komoditas pesaing seperti kedelai yang murah sehingga CPO tidak kompetitif.

Dengan melihat kondisi cuaca yang sudah memasuki musim hujan di beberapa daerah sentra sawit, dan adanya beberapa sentimen positif seperti Pertamina yang sudah mulai menyerap CPO di dalam negeri, di perkirakan harga CPO global akan rebound. GAPKI memperkirakan sepanjang Desember harga CPO global akan bergerak di kisaran US$ 550 – US$ 600 per metrik ton.

Sementara itu Bea Keluar Desember 2015 ditentukan oleh Kementerian Perdagangan sebesar 0% dengan referensi harga rata-rata tertimbang (CPORotterdam, Kuala Lumpur dan Jakarta) sebesar US$ 580,37 per metrik ton. Dengan demikian para eksportir hanya dikenakan pungutan CPO Fund saja.

Jakarta, 16 Desember 2015
Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI)

Informasi lebih lanjut, hubungi:

Fadhil Hasan
Direktur Eksekutif GAPKI

Tel. 021-57943871, Fax. 021-57943872