Perkebunan Kelapa Sawit : Hemat Air dan Lestarikan Cadangan Air Tanah

Perkebunan kelapa sawit memiliki sistem konservasi tanah dan air yakni melalui (1) mekanisme struktur pelepah daun pohon kelapa sawit yang berlapis-lapis dapat menaungi land cover mendekati 100 persen sejak kelapa sawit berumur muda, (2) mekanisme tata kelola lahan dalam budidaya kelapa sawit, (3) sistem perakaran serabut pohon kelapa sawit yang massif, luas dan dalam (biopori alamiah). Dengan menggunakan indikator evapotranspirasi tanaman yakni persentase nilai evapotranspirasi dari curah hujan, kebun kelapa sawit juga relatif hemat air dibandingkan dengan tanaman hutan lainnya.

Perkebunan Kelapa Sawit : Hemat Air dan Lestarikan Cadangan Air Tanah

Tanaman Bambu dan Lamtoro tergolong boros air dengan kebutuhan sekitar 3.000 mm per tahun, kemudian disusul oleh tanaman Akasia 2.400 mm per tahun, dan Sengon 2.300 mm per tahun. Pinus dan Karet sekitar 1.300 mm per tahun, sedangkan kebun sawit hanya 1.104 mm per tahun. Untuk menghasilkan setiap giga joule bionergi (minyak/energi nabati), tanaman Rapeseed memerlukan 184 m3 air, Kelapa 126 m3 air, Ubi Kayu 118 m3 air, Jagung 105 m3, Kedelai 100 m3 air, Bunga Matahari 87 m3, kelapa sawit 75 m3 dan tebu sebesar 28 m3.

Dengan demikian kelapa sawit tenyata relatif hemat air baik untuk pertumbuhan maupun produksi bioenergi. Tidak hanya hemat air, tanaman sawit juga melestarikan cadangan air tanah melalui sistem perakaran yang serabut dan massif membentuk biopori alamiah yang berfungsi menyimpan air dan konservasi tanah.

PENDAHULUAN

Untuk memojokkan industri sawit, para LSM anti sawit beserta jejaringnya membangun opini di masyarakat bahwa perkebunan kelapa sawit adalah tanaman yang rakus air. Sehingga pengembangan perkebunan sawit akan membuat daerah yang bersangkutan kekeringan. Kebetulan saat ini, akibat perubahan iklim dunia yang terjadi diseluruh negara, kekeringan acapkali terjadi termasuk di Indonesia. Fenomen kekeringan (El Nino) tersebut, oleh LSM anti sawit dijadikan sebagai pembenaran opini bahwa kebun sawit adalah rakus air. Semua tanaman jelas memerlukan air. Komponen air merupakan bagian terbesar dari tubuh tanaman (juga hewan dan manusia). Tumbuhan yang lebih besar pastilah kebutuhan airnya lebih banyak dibandingkan tumbuhan kecil. Namun belum tentu tumbuhan kecil lebih efisien menggunakan air dibandingkan tanaman besar.

Oleh karena itu, untuk memperbandingkan harus dengan indikator yang sama (apple to apple). Air merupakan prasyarat bagi adanya kehidupan. Di daerah gurun pasir, ketersedian air sangat sedikit, sehingga tumbuhan dan hewan juga sangat jarang dan hanya dijumpai pada tempat-tempat tertentu. Karena ketersediaan air sedikit di daerah gurun, tumbuhan dan hewan yang hidup melalui mekanisme penyesuaian pada lingkungan yang sangat panjang, umumnya adalah relatif hemat air dan memiliki mekanisme sendiri untuk menyimpan cadangan air.

Tanaman kelapa sawit berasal dari Afrika Tengah yang iklimnya tidak melimpah air seperti Indonesia yang diklaim sebagai negara tropis. Oleh karena itu melalui adaptasi ekofisiologis yang panjang, tanaman kelapa sawit sesungguhnya memiliki struktur morphology yang menghemat air dan menyimpan cadangan air. Dalam tulisan ini didiskusikan bagaimana tanaman kelapa sawit memiliki mekanisme melestarikan cadangan air. Selain itu, juga didiskusikan bahwa tanaman kelapa sawit merupakan salah satu tanaman yang tergolong hemat air baik untuk pertumbuhan maupun untuk produksi.

KONSERVASI TANAH DAN AIR KEBUN SAWIT

Kebun sawit memiliki tiga mekanisme yang secara sinergis berfungsi dalam melindungi tanah dan air. Ketiga mekanisme yang dimaksud adalah yakni mekanisme struktur dan naungan kanopi (canopy land cover), mekanisme tata kelola lahan kebun sawit dan mekanisme sistem perakaran kelapa sawit. Pertama, mekanisme struktur pelepah daun pohon kelapa sawit yang berlapis-lapis mampu menaungi lahan (land cover) mendekati 100 persen sejak kelapa sawit berumur muda. Struktur pelepah daun yang demikian selain berfungsi sebagai “dapurnya” (fotosintesis) kelapa sawit, juga berfungsi melindungi tanah dari pukulan langsung air hujan. Jika hujan datang, pukulan air hujan tidak langsung mengenai tanah namun terlindungi oleh struktur pelepah daun berlapis-lapis tersebut.

Kedua, mekanisme konservasi tanah dan air berikutnya adalah melalui tata kelola lahan dalam budidaya kelapa sawit. Standar kultur teknis kebun sawit mulai dari penanaman dan pemeliharaan tanaman menggunakan asas-asas konservasi tanah dan air. Mulai dari zero/minimum tillage, penanaman tanaman pelindung (cover crop) pada masa pemeliharaan tanaman belum menghasilkan (umur 0-4 tahun), pembuatan sistem teras pada lahan miring, pembuatan piringan/tapal kuda, penempatan pelepah tua (pruning) sebagai guludan bahan organik pada gawangan, pengembalian tandan kosong dan limbah cair ke lahan dan lainnya merupakan bagian dari mekanisme konservasi tanah dan air kebun sawit.

Ketiga, sistem perakaran serabut pohon kelapa sawit yang massif, luas dan dalam. Perakaran kelapa sawit dewasa dapat mencapai radius 4 meter sekeliling pangkal dan dengan kedalaman sampai 5 meter di bawah permukaan tanah yang membentuk pori-pori mikro dan makro tanah (Harahap, 2007) yang dapat disebut biopori alamiah. Biopori alamiah sawit tersebut terbanyak berada pada sekitar/dekat pangkal pohon sawit. Pori-pori mikro dan makro tanah tersebut makin banyak dengan makin dewasa tanaman kelapa sawit.

Biopori alamiah tersebut meningkatkan kemampuan lahan kebun sawit dalam menyerap/menahan air (water holding capacity) melalui peningkatan penerusan (infiltrasi) air hujan ke dalam tanah sehingga mengurangi aliran air permukaan (run-off) dan menyimpan cadangan air di dalam tanah. Semakin banyak biopori alamiah sawit (yakni dekat pangkal batang) semakin tinggi laju infiltrasi air permukaan tanah mengisi biopori sehingga erosi tanah (run-off) makin terkendali.

Ketiga mekanisme konservasi tanah dan air tersebut terikat dan menyatu (built-in) pada tanaman dan kebun sawit, sehingga mengelola kebun sawit untuk tujuan ekonomi juga sekaligus mengelola ketiga konservasi tanah dan air tersebut. Selain itu, ketiga mekanisme konservasi tanah dan air kebun sawit tersebut berjangka panjang sama dengan umur ekonomi kebun sawit (rata-rata 25 tahun).

Sistem Perakaran Sawit Membentuk Biopori Alamiah Terbesar Disekitar Pangkal Pohon Sawit (Sumber : Harahap, E. M, 2007)

 

Laju Infiltrasi Air Tertinggi Terjadi Disekitar Pangkal Batang Kelapa Sawit (Sumber : Harahap, E. M, 2007)

Dengan demikian perkebunan kelapa sawit memiliki sistem konservasi tanah dan air. Bahkan tanaman kelapa sawit memenuhi syarat sebagai tanaman konservasi tanah dan air (Harahap, 2007).

SAWIT HEMAT AIR

Berdasarkan hasil penelitian Pasaribu H, Mulyadi A & Tarumun, S (2012) bahwa persentase nilai evapotranspirasi yang terjadi di perkebunan Kelapa Sawit yakni sebesar 40 persen dari curah hujan tahunan. Persentase nilai evapotranpirasi tersebut lebih kecil bila dibandingkan dengan Mahoni sebesar 58 persen dan Pinus yakni sebesar 65 persen. Sebenarnya kebutuhan air untuk berbagai tanaman sudah lama diteliti para ahli. Salah satunya adalah Coster (1938) yang meneliti kebutuhan air beberapa tanaman jauh sebelum kebun sawit berkembang.

Dengan menggunakan indikator evapotranspirasi tanaman, Coster menemukan bahwa tanaman Bambu dan Lamtoro tergolong boros air dengan kebutuhan sekitar 3.000 mm per tahun. Kemudian disusul oleh tanaman akasia 2.400 mm per tahun, dan sengon 2.300 mm per tahun. Pinus dan Karet sekitar 1.300 mm per tahun. Sedangkan kebun sawit hanya 1.104 mm per tahun. Selama ini tanaman Pinus, Akasia dan Sengon populer dijadikan tanaman hutan baik dalam program reboisasi maupun hutan tanaman industri. Tanaman kehutanan tersebut ternyata relatif boros menggunakan air.

Sementara tanaman sawit yang selama ini dituduhkan boros air, ternyata jauh lebih hemat dibandingkan tanaman hutan tersebut bahkan sawit juga lebih hemat air dibandingkan dengan tanaman karet. Tidak hanya itu, ternyata menurut penelitian (Allen, et al. 1998; Rusmayadi, 2011) membuktikan kapasitas menyimpan air pada lahan sawit lebih baik dibandingkan tanaman Karet sehingga kandungan air tanah lahan sawit lebih tinggi dari pada lahan yang ditanami Karet.

Presentasi Volume Curah Hujan Tahunan yang Digunakan Kelapa Sawit dan Tanaman Hutan (Sumber : Pasaribu H, Mulyadi A & Tarumun, S, 2012)

 

Perbandingan Kebutuhan Air Kelapa Sawit dan Tanaman Hutan (Sumber : Coster, 1938)

Hasil penelitian para ahli tersebut menjadi informasi penting bagi masyarakat yang terlanjur keliru melihat sawit akibat kebohongan-kebohongan yang disebarluaskan LSM anti sawit selama ini. Bukti ilmiah tersebut sangat jelas dan tegas menyatakan bahwa kebun sawit justru termasuk tanaman yang hemat menggunakan air dibandingkan tanaman hutan maupun tanaman karet. Tidak hanya hemat air, tanaman sawit yang sistem perakarannya yang serabut dan massif membentuk biopori alamiah yang berfungsi menyimpan air, sehingga kandungan air tanah lahan kebun sawit lebih tinggi dari tanaman Karet.

SAWIT EFISIEN GUNAKAN AIR UNTUK PRODUKSI

Gerbens-Leenes, dkk (2009) dalam penelitiannya berjudul: The Water Footprint of Energi from Biomass: A Quantitative Assesment and Consequeences of an Increasing Share of Bioenergy Supply, menemukan hal yang menarik tentang tanaman apa yang paling hemat air dalam menghasilkan bioenergi. Hasil penelitian yang dimuat dalam Journal Ecological Economics 68:4, menemukan bahwa kelapa sawit ternyata termasuk paling hemat (setelah tebu) dalam menggunakan air untuk setiap Giga Joule (GJ) bioenergi yang dihasilkan. Tanaman penghasil bioenergi paling rakus air ternyata adalah minyak rapeseed, disusul oleh kelapa, ubi kayu, jagung, kedelai dan tanaman bunga matahari. Untuk menghasilkan setiap GJ Bionergi (minyak), tanaman rapeseed (tanaman minyak nabati Eropa) memerlukan 184 m3 air. Sementara kelapa yang juga banyak dihasilkan dari Indonesia, Philipina, India, rata-rata memerlukan 126 m3 air. Ubi kayu (penghasil etanol) rata-rata memerlukan 118 m3 air.

Rataan Kebutuhan Air (Sumber : Gerbens – Leenes et al, 2009)

Sedangkan kedelai yang merupakan tanaman minyak nabati utama di Amerika Serikat, memerlukan rata-rata 100 m3 air. Tebu dan kelapa sawit ternyata paling hemat dalam menggunakan air untuk setiap bioenergi yang dihasilkan. Untuk setiap GJ bioenergi (minyak sawit) yang dihasilkan, kelapa sawit hanya menggunakan air sebanyak 75 m3. Dengan data di atas, jelas bahwa kelapa sawit tenyata relatif hemat air dalam menghasilkan bioenergi. Pandangan selama ini yang mengatakan sawit adalah boros air terbantahkan oleh hasil penelitian tersebut. Hasil penelitian tersebut makin menegaskan bahwa kebun sawit merupakan tanaman yang ramah lingkungan dan merupakan bagian dari konservasi tanah dan air. Mengembangkan kebun sawit merupakan bagian dari cara melestarikan tanah dan air.

KESIMPULAN

Perkebunan kelapa sawit memiliki sistem konservasi tanah dan air: (1) mekanisme struktur pelepah daun pohon kelapa sawit yang berlapis-lapis dapat menaungi land cover mendekati 100 persen sejak kelapa sawit berumur muda, (2) melalui mekanisme tata kelola lahan dalam budidaya kelapa sawit, (3) melalui sistem perakaran serabut pohon kelapa sawit yang massif, luas dan dalam (biopori alamiah). Dengan menggunakan indikator evapotranspirasi tanaman yakni persentase nilai evapotranspirasi dari curah hujan, kebun kelapa sawit juga relatif hemat air dibandingkan dengan tanaman hutan lainnya.

Tanaman Bambu dan Lamtoro tergolong boros air dengan kebutuhan sekitar 3.000 mm per tahun, kemudian disusul oleh tanaman Akasia 2.400 mm per tahun, dan Sengon 2.300 mm per tahun. Pinus dan Karet sekitar 1.300 mm per tahun, sedangkan kebun sawit hanya 1.104 mm per tahun. Untuk menghasilkan setiap giga joule bionergi (minyak/energi nabati), tanaman rapeseed memerlukan 184 m3 air, kelapa 126 m3 air, Ubi kayu 118 m3 air, jagung 105 m3, kedelai 100 m3 air, bunga matahari 87 m3, kelapa sawit 75 m3 dan tebu sebesar 28 m3. Dengan demikian kelapa sawit tenyata relatif hemat air dalam menghasilkan bioenergi.

Tanaman penghasil bioenergi relatif rakus air berturut-turut adalah minyak rapeseed, disusul oleh kelapa, ubi kayu, jagung, kedelai dan tanaman bunga matahari. Kelapa sawit tenyata relatif hemat air dalam menghasilkan bioenergi. Hasil penelitian tersebut makin menegaskan bahwa kebun sawit merupakan tanaman yang ramah lingkungan dan merupakan bagian dari konservasi tanah dan air. Mengembangkan kebun sawit merupakan bagian dari cara melestarikan tanah dan air.

Bukti ilmiah tersebut sangat jelas dan tegas menyatakan bahwa kebun sawit justru termasuk tanaman yang hemat menggunakan air baik untuk pertumbuhan maupun produksi. Tidak hanya hemat air, tanaman sawit juga melestarikan cadangan air tanah melalui sistem perakaran yang serabut dan massif membentuk biopori alamiah yang berfungsi menyimpan air dan konservasi tanah.

Source : PASPI