Perkembangan Biodiesel di Indonesia dan Terbesar di Asia

Mandatori Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati Kementerian ESDM telah menetapkan arah kebijakan di sektor energi yang mengedepankan pengembangan dan pemanfaatan energi terbarukan salah satunya melalui pemanfatan Bahan Bakar Nabati (BBN). Implementasi kebijakan mandatori berhasil menciptakan pasar BBN di dalam negeri yang tumbuh secara signifikan dari tahun 2009 hingga 2014. Dengan meningkatnya porsi biodiesel selama kurun waktu tahun 2013 dengan implementasi pemanfaatan biodiesel (B-10).

Pemerintah telah berhasil melakukan penghematan devisa sebesar 831 juta USD dengan meningkatkan pemanfaatan biodiesel untuk kebutuhan dalam negeri sebesar 1,05 juta KL (meningkat sebesar 56,62% dari pemanfaatan biodiesel tahun 2012). Hal ini berhasil mengurangi ketergantungan Indonesia pada energi fosil dan memberikan nilai tambah pada perekonomian, mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK), serta untuk mengurangi impor BBM yang semakin meningkat. Pada tahun 2006, produksi biodiesel Indonesia baru mencapai 44 ribu ton, dan berada di bawah Thailand.

Namun pada tahun 2016, produksi biodiesel Indonesia mencapai 2,5 juta ton, dan berhasil melampaui China. pertumbuhan biodiesel dunia adalah rata-rata meningkat 14,1 persen per tahun. Sedangkan Asia tumbuh lebih pesat, yakni rata-rata 25 persen per tahun. Rata-rata pertumbuhan China adalah 14.60 persen, India 12.70 persen, Indonesia 65.40 persen, Korea Selatan 45.40 persen, dan Thailand 39.90 persen. Data di atas menunjukkan keunggulan Indonesia, dengan pertumbuhan yang besar, yakni 65.40 persen dan mengungguli negara negara Asia lainnya. Keberhasilan ini sekaligus menempatkan posisi indonesia sebgai negara yang diperhitungkan dalam pasar biodiesel dunia di masa mendatang.

Pada pasar biodiesel global, terlihat bahwa konsumsi biofuel dunia akan meningkat dua kali lipat pada tahun 2020. Uni Eropa akan menjadi pengimpor utama biofuel di masa mendatang, dan hal ini menjadi signal yang positif bagi Indonesia untuk terus meningkatkan keberhasilan yang telah dicapai saat ini.

PENDAHULUAN

Hingga saat ini Indonesia masih sangat bergantung pada bahan bakar berbasis fosil sebagai sumber energi. Data yang didapat dari Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral menunjukkan bahwa dengan persediaan minyak mentah di Indonesia, yaitu sekitar 9 milyar barrel, dan dengan laju produksi rata-rata 500 juta barrel per tahun, persediaan tersebut akan habis dalam 18 tahun. Untuk mengurangi ketergantungan terhadap minyak bumi dan memenuhi persyaratan lingkungan global, satu-satunya cara adalah dengan pengembangan bahan bakar alternatif ramah lingkungan.

Indonesia memiliki potensi sumber energi terbarukan dalam jumlah besar. Beberapa diantaranya bisa segera diterapkan di tanah air, seperti: bioethanol sebagai pengganti bensin, biodiesel untuk pengganti solar, tenaga panas bumi, mikrohidro, tenaga surya, tenaga angin, bahkan sampah/limbah pun bisa digunakan untuk membangkitkan listrik.

Bioethanol sebagai pengganti bensin, dapat diproduksi dari tumbuh-tumbuhan seperti tebu, singkong, ubi, dan jagung yang dapat dengan mudah dikembangkan di negara kita. Salah satu keunggulan dari bioethanol ini adalah tingkat polusi yang lebih rendah dibandingkan dengan bahan bakar fosil.

Biodiesel yang berasal dari minyak tanaman seperti kelapa sawit, jarak, kelapa dll, juga dengan mudah diperoleh di indonesia. Kedua bahan energi dapat dimanfaatkan sebagai pengganti bahan bakar fosil. Tetapi kendala yang utama adalah bagaimana membangun rantai produksi energi tersebut mulai dari petani sebagai pelaku utama dalam penyediaan bahan baku sampai ke distribusi energi yang dihasilkan. Ketersediaan dan keberlanjutannya jangan sampai mengganggu produksi pertanian kita.

Tulisan ini, secara khusus bertujuan untuk mengkaji pengembangan energi terbarukan, khususyna biodiesel, serta mempelajari seberapa besar prospek Indonesia dalam pasar biodiesel di masa mendatang, baik di pasar domestik maupun dalam jangka panjang di pasar Internasional.

KEBIJAKAN ENERGI NASIONAL

Kebijakan Energi Nasional yang yang dijadikan sebagai landasan untuk pengembangan dan peningkatan kapasitas penyediaan energi ke depan yang disebut dengan energi mix dengan komposisi batubara 32,7 %, Gas bumi 30.6%, minyak bumi 26.2%, PLTA 2.4%, panas bumi 3.8% dan lainnya 4.4%. Para pelaku dan pemerhati dalam bidang energi Indonesia, juga melihat masih ada beberapa sumber linnya, antara lain sumber energi panas bumi yang melimpah, mengingat Indonesia terletak di daerah ring of fire, namun saat ini baru sebagian kecil yang dimanfaatkan.

Ketergantungan kita terhadap energi dari bahan bakar fosil akan menjadi ancaman bagi kita sendiri, antara lain: semakin menipisnya sumber-sumber minyak bumi jika tidak ditemukan sumber minyak yang baru, meningkatnya polusi (CO2) yang dihasilkan dari penggunaan energi dari bahan bakar fosil tersebut sehingga akan memicu efek rumah kaca.

Pemilihan biodiesel sebagai bahan bakar alternatif berbasis pada ketersediaan bahan baku. Minyak rapeseed adalah bahan baku untuk biodiesel di Jerman dan kedelai di Amerika. Sedangkan bahan baku yang digunakan di Indonesia adalah crude palm oil (CPO). Selain itu, masih ada potensi besar yang ditunjukan oleh minyak jarak pagar (Jathropa Curcas) dan lebih dari 40 alternatif bahan baku lainnya di Indonesia.

Sampai saat ini, payung hukum yang sudah disediakan oleh pemerintah untuk industri biofuel, dalam bentuk Keputusan Presiden ataupun Peraturan Perundangundangan lainny, adalah sebagai berikut:

  1. Peraturan Presiden No. 5/2006 tentang Kebijaksanaan Energi Nasional
  2. Instruksi Presiden No. 1/2006 tentang Pengadaaan dan Penggunaan Biofuel sebagai Energi Alternatif
  3. Dektrit Presiden No. 10/2006 tentang Pembentukan team nasional untuk Pengembangan Biofuel

Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional menyebutkan pengembangan biodiesel sebagai energi terbarukan akan dilaksakan selama 25 tahun, dimulai dengan persiapan pada tahun 2004 dan eksekusi sejak tahun 2005. Periode 25 tahun tersebut dibagi dalam tiga fasa pengembangan biodiesel. Pada fasa pertama, yaitu tahun 2005-2010, pemanfaatan biodiesel minimum sebesar 2% atau sama dengan 720.000 kilo liter untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak nasional dengan produk-produk yang berasal dari minyak castor dan kelapa sawit.

Fasa kedua (2011-2015) merupakan kelanjutan dari fasa pertama akan tetapi telah digunakan tumbuhan lain sebagai bahan mentah. Pabrik-pabrik yang dibangun mulai berskala komersial dengan kapasitas sebesar 30.000 – 100.000 ton per tahun. Produksi tersebut mampu memenuhi 3% dari konsumsi diesel atau ekivalen dengan 1,5 juta kilo liter. Pada fasa ketiga (2016 – 2025), teknologi yang ada diharapkan telah mencapai level ‘high performance’ dimana produk yang dihasilkan memiliki angka setana yang tinggi dan casting point yang rendah. Hasil yang dicapai diharapkan dapat memenuhi 5% dari konsumsi nasional atau ekivalen dengan 4,7 juta kilo liter. Selain itu juga terdapat Inpres Nomor 1 Tahun 2006 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (Biofuel) sebagai bahan bakar lain. Hal-hal ini menunjukkan keseriusan Pemerintah dalam penyediaan dan pengembangan bahan bakar nabati. (Rahayu, 2006)

Hingga Mei 2007, Indonesia telah memiliki empat industri besar yang memproduksi biodiesel dengan total kapasitas 620.000 ton per hari. Industriindustri tersebut adalah PT Eterindo Wahanatama (120.000 ton/tahun – umpan beragam), PT Sumi Asih (100.000 ton/tahun dengan RBD Stearin sebagai bahan mentah), PT Indo BBN (50.000 ton/tahun – umpan beragam), Wilmar Bioenergy (350.000 ton/tahun dengan CPO sebagai bahan mentah), PT Bakrie Rekin Bioenergy (150.000 ton/tahun) dan PT Musim Mas (100.000 ton/tahun). Selain itu juga terdapat industri-industri biodiesel kecil dan menengah dengan total kapasitas sekitar 30.000 ton per tahun, seperti PT Ganesha Energy, PT Energi Alternatif Indonesia, dan beberapa BUMN.

PERMINTAAN DAN PENAWARAN BIODIESEL INDONESIA

Peluang untuk mengembangkan potensi pengembangan biodiesel di Indonesia cukup besar, mengingat saat ini penggunaan minyak solar mencapai sekitar 40 % penggunaan BBM untuk transportasi. Sedang penggunaan solar pada industri dan PLTD adalah sebesar 74% dari total penggunaan BBM pada kedua sektor tersebut. Bukan hanya karena peluangnya untuk menggantikan solar, peluang besar biodiesel juga disebabkan kondisi alam Indonesia. Indonesia memiliki beranekaragam tanaman yang dapat dijadikan sumber bahan bakar biodiesel seperti kelapa sawit dan jarak pagar. Pada saat ini, biodiesel (B-5) sudah dipasarkan di 201 pom bensin di Jakarta dan 12 pom bensin di Surabaya.

Walaupun pemerintah Indonesia menunjukkan ketertarikan yang besar terhadap pengembangan biodiesel, pemerintah tetap bergerak pelan dan juga berhati-hati dalam mengimplementasikan hukum pendukung bagi produksi biodiesel. Pemerintah memberikan subsidi bagi biodiesel, bio-premium, dan bio-pertamax dengan level yang sama dengan bahan bakar fosil, padahal biaya produksi biodiesel melebihi biaya produksi bahan bakar fosil. Hal ini menyebabkan Pertamina harus menutup sendiri sisa biaya yang dibutuhkan. Perkembangan produksi dan konsumsi biodiesel Indonesia disajikan pada Tabel 1 berikut.

Pada tahun 2008, Indonesia berhasil memproduksi 630 ribu kilo liter biodiesel, sedangkan tingkat konsumsi adalah 23 ribu kilo liter, dan sebagian besar produksi biodiesel Indonesia adalah berorientasi eksport. Setiap tahun produksi biodiesel Indonesia memiliki trend pertumbuhan yang positif. Pada tahun 2017 (salam 1 dekade) , produksi biodiesel Indonesia meningkat pesat atau lebih dari4 kali lipat menjadi 2.6 juta kilo liter (kl). Seiring dengan meningkatnya konsumsi domestik, dari 23 ribu kl pada tahun 2008, menjadi 2,4 juta ton pada tahun 2017, menunjukkan laju komsumsi meningkat jauh lebih pesat, yakni 23 ribu kilo liter pada tahun 2008 menjadi 2,4 juta kilo liter pada tahun. Konsekwensinya, kinerja ekspor biodiesel Indonesia menurun dari 3 juta kl pada tahun.

Sejak sehingga Indonesia memiliki Seiring dengan meningkatnya konsumsi domestik, 14 menjadi 100 ribu kilo luter pada tahun 2017.

Tabel 2 menunjukkan kapasitas terpasang biodiesel Indonesia, dimana pada awalnya perusahaan refinary masih sedikit (9-20 persen), namun sejak 2010 meningkat pesat, dan hingga tahun 2017, telah berkembang pesat, menjadi 29 perusahaan. Hal ini menjadi salah satu progress perkembangan negara Idonesia dalam pengembangan bidiesel di Indonesia.

KONDISI UMUM DAN CAPAIAN BIDANG BIOENERGI

Mandatori Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati Kementerian ESDM telah menetapkan arah kebijakan di sektor energi yang mengedepankan pengembangan dan pemanfaatan energi terbarukan salah satunya melalui pemanfatan Bahan Bakar Nabati (BBN). Untuk mendukung program tersebut telah diterbitkan Instruksi Presiden Nomor 1 tahun 2006 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (Biofuel) sebagai Bahan Bakar Lain. Komitmen tersebut dilanjutkan melalui kebijakan mandatori pemanfaatan BBN dengan ditetapkannya Peraturan Menteri ESDM Nomor 32 tahun 2008 dimana sektor transportasi, industri dan pembangkit listrik diwajibkan untuk mensubstitusi bahan bakar fosil dengan BBN pada persentase tertentu dan secara bertahap. Seiring dengan kondisi defisit Neraca Transaksi Berjalan Indonesia yang sudah berlangsung selama 27 bulan, menjadi salah satu dasar bagi Pemerintah untuk mengeluarkan Paket Kebijakan Ekonomi Nasional dimana peran BBN khususnya biodiesel ditingkatkan penggunaannya dari 7,5 % (B-7,5) menjadi 10 % (B-10) dengan tujuan untuk mengurangi pengeluaran negara dari meningkatnya nilai impor solar.

Peraturan Menteri ESDM Nomor 32 Tahun 2008 kemudian diubah dengan Peraturan Menteri ESDM No. 20 Tahun 2014 yang secara subtansi mempercepat pemanfaatan BBN khususnya biodiesel dengan peningkatan target mandatori.

Implementasi kebijakan mandatori yang juga merupakan penciptaan pasar BBN di dalam negeri sebagai salah satu upaya peningkatan konsumsi BBN untuk penyerapan peningkatan produksi dan pemanfaatan BBN di dalam negeri yang tumbuh secara signifikan dari tahun 2009 hingga 2014. Dengan meningkatnya porsi biodiesel selama kurun waktu tahun 2013 dengan implementasi pemanfaatan biodiesel 10% pada minyak solar (B-10) dari sebelumnya hanya B-7,5, Pemerintah telah berhasil melakukan penghematan devisa sebesar 831 juta USD dengan meningkatkan pemanfaatan biodiesel untuk kebutuhan dalam negeri sebesar 1,05 juta KL (meningkat sebesar 56,62% dari pemanfaatan biodiesel tahun 2012). Kebijakan mandatori merupakan upaya Pemerintah untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil khususnya BBM dan mengembangkan industri BBN dalam negeri sehingga memberikan nilai tambah pada perekonomian, mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) akibat pembakaran energi fosil, serta untuk mengurangi impor BBM yang semakin meningkat (penghematan devisa akibat pengurangan impor BBM) menuju ketahanan energi nasional.

Kajian Teknis dan Uji Pemanfaatan BBN (B20)-Uji jalan (road test) B-20 dilakukan dalam rangka mendukung Mandatori BBN yaitu implementasi B20 pada tahun 2016 seperti yang tertuang dalam Permen ESDM No. 32 Tahun 2008 sebagaimana telah diubah dengan Permen ESDM No. 20 Tahun 2014. Kegiatan ini merupakan kerja sama antara Kementerian ESDM (Ditjen EBTKE dan Balitbang ESDM), Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) , PT. Pertamina, Aprobi, Gaikindo, Hino, Aspindo, dan Hinabi. Output dari kegiatan ini adalah tersedianya dokumen teknis penggunaan BBN (B20) pada mesin kendaraan bermotor dan alat besar, serta tersedianya rekomendasi teknis yang diperlukan sehingga pemanfaatan B20 pada tahun 2016 tidak berdampak negatif pada mesin.

Hasil yang diperoleh dari uji B20 ini adalah sebagai berikut:

  • Terjadi peningkatan konsumsi bahan bakar sekitar 3% dan penurunan daya sekitar 2% pada kendaraan berbahan bakar B20 dibandingkan B0,
  • Pada kendaraan yang menggunakan B20, terjadi peningkatan daya pada setiap kenaikan 10.000 km,
  • Hasil uji pada kendaraan lama sempat terjadi clogging/ penyumbatan pada filter bahan bakar, satu pada KM 5000 dan satunya pada KM 7500, sehingga untuk antisipasi implementasi B20 khususnya untuk kendaraan lama yang jumlahnya lebih dari 4 juta unit perlu dilakukan secara bertahap. (Kementerian ESDM, 2016)

BIOENERGI DI PASAR GLOBAL

Secara umum, bioenergy dibedakan dalam 2 kelompok utama, yakni bioethanol dan biodiesel. Di pasar dunia, perkembangan bioethanol lebih awal dimulai dan telah berkembang hingga saat ini. Hal ini mengakibatkan proporsi (share bioethanol) hampir mencapai dua per tiga, sedangkan penngembangan bidiesel masih tergolong proporsinya masih sedikit. Pasar biodiesel terbesar di dunia adalah Uni Eropa, diikuti Amerika Latin, Asia Pasifik dan posisi keempat adalah Amerika Utara. Secara umum terlihat (Gambar 1) Pasokan diesel akan meningkat dua kali lipat sampai 2020 untuk memenuhi permintaan (demand) dunia. Uni Eropa akan tetap menjadi konsumen terbesar dengan pangsa 44%, namun Asia-Pasifik akan mendekati pangsa sebesar 39%, sedangkan Brasil dan Kolombia adalah dua negara yang akan meningkatkan blending biodiesel, dan negara ini berpotensi menjadi eksportir utama biodiesel dunia di masa mendatang.

Hal ini terlihat dari keberhasilan supplynya yan lebih besar dibandingkan dengan konsumsi domestiknya. Namun sebaliknya, dimasa mendatang, Eropa akan menjadi negara pengimpor biodiesel utama dunia. Amerika utara menghadapi hambatan dalam pengembangan biodiesel di masa mendatang, karena terkait dengan persyaratan lingkungan, dimana AS menggunakan biodiesel yang bersumber dari kedele.

Brazil merupakan satu-satunya negara yang akan berada dalam posisi tetinggi untuk memasok pasar etanol global, dimana akan dapat memasok minimal 13 miliar liter (3,5 miliar galon) ke pasar global pada tahun 2020. Pesaing utama untuk etanol Brasil diperkirakan adalah A.S., EU 27, China dan Jepang. Total gabungan permintaan setidaknya mencapai 15 miliar liter (4 miliar galon). Sedangkan Cina merupakan sebuah kejutan, dimana demand China akan mencapai 8 miliar liter (2 miliar galon) pada tahun 2020, yang meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan dengan demand tahun 2010.

Seiring dengan permintaan biodiesel global, maka pasokan (supply) biodiesel global juga harus berlipat ganda dalam jangka waktu 2010-2020.

Hanya 57% kapasitas biodiesel yang ada yang dibutuhkan di Eropa pada tahun 2010 dan 2015 dibandingkan dengan permintaan yang diungkapkan, dengan mempertimbangkan FAME dan kapasitas diesel terbarukan dan proyeksi impor di NAPs.

Pemanfaatan tersebut kemudian dapat meningkat menjadi 66% dari kapasitas pada tahun 2020 karena tidak ada penambahan kapasitas baru di luar tahun 2015. Pada tahun 2010, total impor mencapai 7% permintaan akan meningkat menjadi 20% pada tahun 2015 dan kemudian 35% di 2020 karena tidak ada penambahan kapasitas baru.

Di sisi lain, aspek sustainability menjadi isu yang sangat penting berkenaan dengan biofuel, khususnya, perubahan emisi penggunaan lahan secara tidak langsung (ILUC). Salah satu yang sangat menonjol ditekankan di Indonesia adalah asal usul lahan yang tidak berasal dari hutan (namun hal ini masih diperebatkan dalam koteks pembangunan di Indonesia). Masalah ini dapat menjadi hambatan bagi biofuel masa depan atau bahan baku biofuel yang masuk ke UE.

PERKEMBANGAN BIODIESEL DI ASIA

Perkembangan biodiesel di Asia ingin membandingkan kemajuan Indonesia dibandingkan dengan negara di Asia lainnya. Produsen biodiesel yang tergolong besar di Asia antara lain adalah China, India, Indonesia, Korea Selatan dan Thailand (Tabel 3).

Perkembangan biodiesel di Asia menunjukkan perkembangan Indinesia yang relatif paling pesat dibandingkan dengan negara lainnya. Pada tahun 2006, produksi biodiesel Indonesia baru mencapai 44 ribu ton, dan berada di bawah Thailand. Namun pada tahun 2016, produksi biodiesel Indonesia mencapai 2,5 juta ton, dan berhasil melampaui China (2 juta ton). Tahun 2015 sempat menurun drastis, seriring dengan adanya kebakaran hutan di Indonesia, namun posisi Indonesia kembali melejit pada tahun 2016. (Gambar 2).

Perkembangan ini menunjukkan keberhasilan Indonesia, dimana pada tahun 2006, share pangsa biodiesel Indonesia di Asia adalah 3.5 persen, dan pada tahun 2016 telah meningkat drastis hingga mencapai 35,4 persen. (Naik 10 kali lipat dalam 1 dekade). Demikian juga bila dibandingkan share biodiesel Indonesia di pasar global, naik pesat dari 0.2 persen (2016) menjadi 3,0 persen pada tahun 2016.

Dari sisi pertumbuhan (annual growth) juga terlihat, dimana pertumbuhan biodiesel dunia adalah rata-rata meningkat 14,1 persen per tahun. Sedangkan Asia tumbuh lebih pesat, yakni rata-rata 25 persen per tahun. Rata-rata pertumbuhan China adalah 14.60 persen, India 12.70 persen, Indonesia65.40 persen, Korea Selatan 45.40 persen, dan Thailand 39.90 persen. Data di atas menunjukkan keunggulan Indonesia, dengan pertumbuhan yang besar, yakni 65.40 persen dan mengungguli negara negara Asia lainnya. Keberhasilan ini sekaligus menempatkan posisi indonesia sebgai negara yang diperhitungkan dalam pasar biodiesel dunia di masa mendatang.

KESIMPULAN

Kebijakan mandatori biodiesel telah menunjukkan langkah kemajuan yang respectable (terhormat), dimana keberhasilan berhasil menciptakan growth atau pertumbuan produksi biodiesel di Indoneisa. Hal ini sekaligus menunjukkan keberhasilan pemerintah baik dalam penghematan devisa sebesar 831 juta USD (dengan meningkatkan pemanfaatan biodiesel untuk kebutuhan dalam negeri sebesar 1,05 juta KL). Dalam jangka panjang, ketergantungan Indonesia pada energi fosil semakin berkurang.

Pada tahun 2006, produksi biodiesel Indonesia baru mencapai 44 ribu ton, dan berada di bawah Thailand. Namun pada tahun 2016, produksi biodiesel Indonesia mencapai 2,5 juta ton, dan berhasil melampaui China. pertumbuhan biodiesel dunia adalah rata-rata meningkat 14,1 persen per tahun. Sedangkan Asia tumbuh lebih pesat, yakni rata-rata 25 persen per tahun. Rata-rata pertumbuhan China adalah 14.60 persen, India 12.70 persen, Indonesia 65.40 persen, Korea Selatan 45.40 persen, dan Thailand 39.90 persen. Data di atas menunjukkan keunggulan Indonesia, dengan pertumbuhan yang besar, yakni 65.40 persen dan mengungguli negara negara Asia lainnya. Keberhasilan ini sekaligus menempatkan posisi indonesia sebgai negara yang diperhitungkan dalam pasar biodiesel dunia di masa mendatang.

Pada pasar biodiesel global, terlihat bahwa konsumsi biofuel dunia akan meningkat dua kali lipat pada tahun 2020. Uni Eropa akan menjadi pengimpor utama biofuel di masa mendatang, dan hal ini menjadi signal yang positif bagi Indonesia untuk terus meningkatkan keberhasilan yang telah dicapai saat ini.

TIM RISET PASPI