Resolusi Minyak Sawit Uni Eropa & Isu Deforestasi

Kehadiran minyak sawit di EU sesungguhnya menjadi bagian solusi atas dilema pangan energi-deforestasi yang dihadapi EU. Jika impor minyak sawit dihentikan maka EU akan menghadapi banyak masalah seperti terganggunya ketahanan pangan, produksi biofuel turun, directive energi tak tercapai, emisi karbon naik, deforestasi dunia meningkat dan “kue” ekonomi minyak sawit yang dinikmati selama ini akan hilang.

Penggunaan minyak sawit di Uni Eropa menciptakan manfaat ekonomi yang cukup besar bagi EU setiap tahunnya yakni menciptakan kesempatan kerja bagi 117 ribu orang, menciptakan pendapatan sekitar 5,8 milyar Euro setiap tahun dalam Gross Domestic Product dan penerimaan pajak sebesar 2,6 milyar Euro. Selain itu penggunaan minyak sawit sebagai bagian dari program biodiesel EU untuk mengurangi emisi karbon EU yang lebih tinggi dari Indonesia.

Komoditi impor EU terbesar yang terkait dengan deforestasi (embodied deforestation) adalah kacang kedelai dan daging sapi. Kedua komoditas impor EU tersebut mencapai 54 persen embodied deforestation EU. Sedangkan minyak sawit dari Indonesia dan Malaysia kontribusinya sangat kecil yakni hanya kurang dari satu persen. Oleh karena itu, resolusi sawit Parlemen Eropa yang mengkaitkan minyak sawit dengan deforestasi terlalu berlebihan.

PENDAHULUAN

Uni Eropa kembali merencanakan ancaman kepada minyak sawit Indonesia. Setelah tanggal 17 Maret 2017, pada tingkat Komite Lingkungan, Kesehatan Masyarakat dan Keamanan Pangan telah melakukan voting rekomendasi kebijakan baru yakni merencanakan pembatasan impor minyak sawit dan penghentian penggunaan minyak sawit untuk program biodiesel Eropa.

Salah satu alasanya adalah proses produksi minyak sawit penyebab deforestasi. Usulan kebijakan tersebut kemudian telah diputuskan dalam pleno Parlemen Eropa pada 3-6 April 2017 yang merekomendasikan Badan Eksekutif Uni Eropa untuk mengeksekusi. Kawasan Uni Eropa merupakan salah satu pasar tradisional ekspor minyak sawit Indonesia. Di kawasan tersebut, minyak sawit merupakan salah satu dari empat jenis minyak nabati dunia yang dikonsumsi masyarakat Uni Eropa.

Tiga jenis minyak nabati lainnya adalah minyak kedelai, minyak rapeseed dan minyak bunga matahari. Minyak sawit untuk konsumsi Uni Eropa semuanya diimpor dari negara produsen minyak sawit terutama Indonesia dan Malaysia. Sedangkan minyak kedelai, rapeseed dan minyak bunga matahari selain diimpor juga sebagian dihasilkan di kawasan Eropa. Perbedaan sumber penyediaan keempat minyak nabati tersebut juga mempengaruhi kebijakan Uni Eropa dan perilaku konsumsi di kawasan tersebut.

Setidaknya dalam 20 tahun terakhir ini kampanye negatif bahkan tidak jarang kampanye hitam terhadap minyak sawit berkembang dan datang dari kawasan Uni Eropa ini. Labelisasi “Palm Oil Free” atau “No Palm Oil” berkembang di dan dari kawasan tersebut. Selain itu, kebijakan impor minyak nabati Uni Eropa juga sering merugikan minyak sawit.

Contoh terakhir adalah resolusi Parlemen Eropa yang sebetulnya merupakan kelanjutan rencana kebijakan Perancis yang akan menaikkan tarif impor regresif dan progresif atas impor minyak sawit. Tulisan ini akan mendiskusikan perubahan persaingan antar minyak nabati di kawasan Eropa, pentingnya minyak sawit bagi Uni Eropa dan masalah pengkaitan deforestasi dengan minyak sawit di kawasan Uni Eropa.

PERUBAHAN POLA KONSUMSI MINYAK NABATI EU

Menurut data Oil World, volume konsumsi empat minyak nabati utama di kawasan EU mengalami peningkatan hampir 8 kali lipat dalam periode tahun 1980-2016. Pada tahun 1980 volume konsumsi EU untuk keempat minyak nabati tersebut masih sekitar 3,7 juta ton, meningkat menjadi sekitar 22 juta ton tahun 2016. Volume konsumsi masing-masing minyak nabati tersebut mengalami peningkatan konsisten yang menunjukkan bahwa keempat jenis minyak nabati tersebut dikonsumsi EU secara komposit dengan proporsi tertentu.

Untuk konsumsi minyak sawit di kawasan EU meningkat dari 0,3 juta ton (1980) menjadi 6,5 juta ton (2016). Dalam periode tersebut, pangsa volume konsumsi keempat jenis minyak nabati tersebut mengalami perubahan (Gambar 1). Pangsa minyak sawit (CPO) mengalami peningkatan dari sekitar 8 persen (1980) menjadi sekitar 30 persen (2016) atau meningkat hampir empat kali lipat.

Demikian juga minyak rapeseed (RSO) meningkat dari 20 persen menjadi sekitar 44 persen dalam periode yang sama. Sementara minyak bunga matahari (SFO) pangsanya relatif stabil yakni dari sekitar 17 persen menjadi 16,45 persen. Satu-satunya minyak nabati yang pangsanya turun drastis adalah minyak kedelai (SBO) yang konsisten turun dari sekitar 55,8 persen tahun 1980 menjadi hanya 9 persen tahun 2016.

Data perkembangan pangsa tersebut, menunjukkan bahwa tiga minyak nabati utama yakni CPO, RSO dan SFO bukan hanya volume konsumsinya meningkat, tetapi juga bertumbuh lebih cepat dari konsumsi SBO. Dengan perubahan pangsa yang demikian, pola komposit konsumsi minyak nabati di kawasan EU telah berubah dari semula (1980) : SBO, RSO, SFO, CPO, kemudian setelah tahun 2000 sampai tahun 2016 menjadi RSO, CPO, SFO, SBO.

Gambar 1. Volume Konsumsi Empat Minyak Nabati Utama di Uni Eropa (Sumber : Oil World)

Indonesia merupakan salah satu pemasok minyak sawit ke EU-28. Berdasarkan data United Nations Commodity Trade Statistic (2016) volume ekspor minyak sawit Indonesia ke EU-28 mengalami peningkatan dari 5,4 juta ton (2,2 juta ton CPO dan refined 3,2 juta ton) tahun 2010 menjadi 7,4 juta ton (2,4 juta ton CPO dan refined 5 juta ton) tahun 2015 (Gambar 2). Peranan pasar EU-28 sebagai tujuan ekspor minyak sawit Indonesia cenderung menurun yakni dari 32 persen tahun 2010 menjadi 28 persen tahun 2015.

Gambar 2. Perkembangan Volume, Komposisi dan Pangsa Ekspor Minyak Sawit Indonesia ke EU-28 (Sumber : United Nations Commodity Trade Statistic, 2016)

MANFAAT EKONOMI SAWIT BAGI EU

Penelitian yang dilakukan Europe Economics yang berjudul Economic Impact of Palm Oil Import in the EU pada tahun 2014 lalu, mengungkap bahwa setiap tahun EU mengimpor 6,4 juta ton minyak sawit dari Indonesia dan Malaysia. Sekitar 40 persen yang diimpor tersebut digunakan untuk energi baik biodiesel maupun pembangkit listrik. Sedangkan sisanya yakni 60 persen digunakan untuk bahan pangan, bahan kosmetik dan toiletries (Gambar 3).

Penggunaan minyak sawit di Uni Eropa (EU) ternyata menciptakan “kue” ekonomi yang lumayan besar bagi EU setiap tahun. Selain menciptakan kesempatan kerja bagi 117 ribu orang, penggunaan minyak sawit pada 16 negara anggota EU menciptakan pendapatan sekitar 5,8 milyar Euro setiap tahun dalam Gross Domestic Product (Tabel 1).

Gambar 3. Penggunaan CPO Menurut Sektor di EU 27

Tabel 1. Manfaat Ekonomi Penggunaan Minyak Sawit pada Perekonomian Uni Eropa

Sumber : Europe Economic, 2014 The Economic Impact Palm Oil Import in the EU

Pemerintah EU juga kecipratan berupa penerimaan pajak sebesar 2,6 milyar Euro. Lima negara EU terbesar menikmati “kue” ekonomi tersebut adalah Itali, Spanyol, Jerman, Perancis, Belanda dan Finlandia. Kelima negara tebesar ini memiliki industri hilir yang menggunakan minyak sawit seperti industri oleokimia, industri oleopangan maupun industri biodiesel. Sehingga jika boikot minyak sawit benarbenar dilakukan Eropa, masyarakat Eropa akan kehilangan sekitar 9 milyar Euro setiap tahun dan menciptakan pengangguran setidaknya 117 ribu orang.

Selain kerugian ekonomi, target penurunan emisi karbon EU juga terancam tidak tercapai. Penggunaan minyak sawit untuk energi merupakan bagian dari arahan energi EU (Directive 2009/28/EC) yang menetapkan bahwa menuju tahun 2020 sekitar 20 persen dari energi konsumsi harus berasal dari energi terbaharui (renewable energy). Arahan energi tersebut merupakan bagian dari upaya mengurangi emisi gas rumah kaca (GHG) EU sebagai kawasan tertinggi emisi GHG nya di dunia. Untuk memenuhi target arahan energi tersebut, EU memang harus mengimpor minyak nabati termasuk sawit.

Produksi minyak nabati EU seperti minyak rape, minyak bunga matahari, jauh dari mencukupi karena sebagian besar digunakan untuk bahan pangan. Dengan kata lain, jika boikot minyak sawit terjadi maka program penggantian solar dengan biodiesel untuk menurunkan emisi karbon EU akan terganggu. Jika Parlemen Eropa bermaksud menggantikan minyak sawit dengan minyak nabati Eropa seperti rapeseed/canola dan bunga matahari, maka taruhannya adalah ketahanan pangan Eropa.

Negara-negara EU saat ini menghadapi dilema pangan-energi (trade-off food-fuel). Untuk mengurangi emisi GHG harus menurunkan konsumsi BBM fosil dan diganti dengan biofuel. Sementara untuk produksi biofuel rebutan dengan pangan. OECD (2006) memperkirakan jika 10 persen saja konsumsi BBM fosil diganti biofuel, maka EU harus mengkonversi 70 persen lahan pertaniannya untuk tanaman minyak nabati. Jika 6 juta ton CPO tidak masuk ke EU maka areal tanaman rapeseed dan bunga matahari di EU harus tambah sekitar 14 juta hektar.

Artinya penggantian minyak sawit dengan minyak nabati Eropa akan mengancam ketahanan pangan EU. Kehadiran minyak sawit juga mengurangi masalah trade-off fuel-food yang dihadapi negara-negara maju termasuk Uni Eropa. Sebagaimana analisis OECD (2007) jika EU mengurangi 10 persen saja konsumsi BBM fosil dan digantikan dengan biofuel (sebagaimana EU energy directive) Uni Eropa harus mengkonversi 70 persen lahan pertaniannya menjadi tanaman minyak nabati.

Sedangkan untuk mensubsitusi 10 persen diesel dengan biodiesel berbasis kedelai, USA harus mengkonversi 30 persen lahan pertaniannya untuk kebun kedelai, sehingga akan mengganggu ketahanan pangan USA dan EU bahkan secara global.

ISU DAN DRIVER DEFORESTASI

Uni Eropa kembali merencanakan ancaman kepada minyak sawit Indonesia. Setelah tanggal 17 Maret 2017, pada tingkat Komite Lingkungan, Kesehatan Masyarakat dan Keamanan Pangan telah melakukan voting rekomendasi kebijakan baru yakni merencanakan pembatasan impor minyak sawit dan penghentian penggunaan minyak sawit untuk program biodiesel Eropa.

Salah satu alasanya adalah proses produksi minyak sawit penyebab deforestasi. Usulan kebijakan tersebut kemudian telah diputuskan dalam pleno Parlemen Eropa pada 3-6 April 2017 yang merekomendasikan Badan Eksekutif Uni Eropa untuk mengeksekusi. Argumen negara-negara di Uni Eropa (EU) untuk memberlakukan pajak deforestasi dan menuntut sertifikasi berkelanjutan pada minyak sawit yang masuk ke EU semakin tidak beralasan dan sangat diskriminatif.

Deforestasi terjadi diseluruh negara-negara dunia untuk memenuhi kebutuhan lahan untuk pembangunan, termasuk di Eropa dan Amerika Utara. Studi Mathew (1983) mengungkapkan bahwa dalam periode 1600-1983, luas deforestasi di subtropis khususnya di Eropa dan Amerika Utara mencapai 653 juta hektar. Deforestasi di planet bumi telah terjadi sejak dahulu kala, seumur dengan peradaban manusia di planet bumi.

Deforestasi diperkirakan sudah dimulai sejak zaman berburu (hunting ages), lebih intensif pada masa pertanian berpindah (nomaden) hingga masa pertanian menetap dan komersial hingga pada zaman modern ini. Tentu saja masa peradaban-peradaban tersebut berbeda beda antar negara atau kawasan di planet bumi.

Studi Elaine Matthews (1983) yang berjudul: Global Vegetation and Land Use: New High Resolution Data Bases for Climate Studies yang dipublikasikan pada Journal of Climate and Applied Meteorology Volume 22: 474-487 mengungkapkan bagaimana deforestasi terjadi di planet Bumi (Tabel 2).

Tabel 2. Luas Deforestasi Global Masa Pre-Pertanian sampai 1980

Sumber : Matthews (1983)

Menurut studi tersebut sejak masa prepertanian hingga tahun 1980. Planet bumi telah mengalami deforestasi diseluruh ekosistem. Hutan sub tropis telah mengalami deforestasi seluas 653 juta hektar dan hutan tropis seluas 48 juta hektar. Deforestasi hutan sub tropis terutama terjadi di kawasan Eropa dan Amerika Utara (Amerika Serikat dan Kanada). Selain itu deforestasi atau perubahan fungsi juga terjadi pada kawasan hutan lainnya seperti hutan rawang (woodland) seluas 213 juta hektar.

Demikian juga semak belukar (scrubland) seluas 87 juta hektar dan padang rumput (grassland) seluas 647 juta hektar. Kawasan Eropa diperkirakan telah lebih awal (bahkan sebelum zaman es) mengalami deforestasi (Kaplan, et al. 2009). Hutan di Amerika Serikat mengalami deforestasi masif selama periode 1620-1920 (Gambar 4). Pada tahun 1600, hutan di Amerika serikat diperkirakan sekitar 400 juta hektar dan mengalami deforestasi sampai awal tahun 1900.

Pada tahun 2010, luas hutan Amerika Serikat sekitar 300 juta hektar dan 67 persen merupakan hutan sekunder. FAO (2005) menyebut Amerika Serikat termasuk negara kelima terbesar dunia yang telah kehilangan hutan aslinya sebelum memasuki abad ke 20. Ketika Presiden F. Rosevelt berkuasa hutan Amerika Serikat yang tersisa hanya sekitar 18 juta hektar khususnya di Alaska.

Sehingga kawasan Eropa dan Amerika Serikat sudah lama kehilangan hutan asli (virgin forest) beserta biodiversity penghuninya. Jika saat ini terdapat hutan (sebagaimana dipublikasikan oleh FAO) di kawasan Eropa dan Amerika Utara merupakan hutan buatan yakni bekas areal pertanian yang ditinggalkan (akibat urbanisasi) dan dibiarkan atau ditanam kembali menjadi kawasan hutan (Soemarwoto, 1992).

Fenomena ini mudah dipahami karena ekonomi Eropa maupun Amerika Utara tidak lagi berbasis pada pertanian-pedesaan dan penduduk yang bekerja di sektor pertanian-pedesaan sangat sedikit. Oleh karena itu tidak mengherankan jika statistik kehutanan FAO setiap tahun mempublikasikan bahwa hutan di kawasan Eropa dan Amerika Utara mengalami peningkatan akibat reforestasi.

Termasuk reforestasi untuk hutan lindung dan konservasi yang lebih dikenal dengan High Conservation Value (HCV) buatan. Bagi negara-negara Eropa dan Amerika Utara, deforestasi adalah masa lalu sedangkan saat ini dan kedepan adalah masa reforestasi.

Gambar 4. Deforestasi dan Pengurangan Hutan di Amerika Serikat Periode 1620-1997 (sumber : www.globalchange.umich.edu dan U.S Forest Facts and Historical Trends www.fia.Fs.fed.us)

Kemudian komisi EU telah melakukan studi kaitan antara konsumsi komoditas yang diimpor EU dengan deforestasi (embodied deforestation) atau dalam terminologi ekonomi disebut eksternalitas negatif (consumption diseconomies). Dalam laporan studi European Commission (2013) : The Impact of EU Consumption on Deforestation, dalam periode 1990-2008 luas deforestasi dunia mencapai 239 juta hektar (Gambar 5) yang tersebar di Amerika Selatan (33 persen), Afrika (31 persen), Asia Tenggara (19 persen) dan negara lainnya (17 persen). Penyebab deforestasi tersebut adalah untuk lahan pertanian (55 persen), bencana alam dan kebakaran (17 persen), kebutuhan infrastruktur (4 persen) dan lainlain (24 persen).

Hal yang menarik dari studi European Commission tersebut bahwa deforestasi untuk perluasan lahan pertanian terbesar diperuntukkan untuk tanaman pangan (crop production) yang mencapai 69 juta hektar atau 31 persen dari total deforestasi untuk pertanian 1990-2008. Kemudian disusul untuk pengembangan peternakan sapi (beef production) sebesar 58 juta hektar (24 persen), produksi kayu bulat (logging) dan lain-lain (Gambar 6).

Studi tersebut juga mengungkap bahwa dalam periode 1990 – 2008 untuk kebutuhan pangan masyarakat EU (feeding the EU) dipenuhi dari hasil deforestasi seluas 10 juta hektar diberbagai negara. Rincian dari 10 juta hektar tersebut diantaranya kacang kedelai 41 persen (4.14 juta Ha) dari Brazil, Argentina, Paraguay dan 13 persen (1.3 juta Ha) berupa ranch sapi potong dari Amerika Selatan. Sedangkan minyak sawit hanya 0.8 persen (0.8 juta Ha) yakni dari Indonesia dan Malaysia.

Gambar 5. Deforestasi Global 1990-2008 (Eropean Commision, 2013)

Gambar 6. Pemicu Deforestasi Global 1990-2008 (Eropean Commision, 2013)

Jika dirinci per komoditi/sektor (Tabel 3), maka pemicu (driver) deforestasi untuk pertanian global periode 1990-2008 terbesar adalah peternakan sapi (58 juta hektar), perluasan kebun kedelai (13.4 juta hektar), perluasan jagung (7.5 juta hektar), terutama di kawasan Amerika Selatan (Brazil, Argentina, Paraguay dan sekitarnya). Sedangkan untuk perluasan kebun sawit global yang selama ini digembor-gemborkan negara Barat dan LSM ternyata hanya sekitar 5.5 juta hektar dalam periode tersebut. Ini hanya sekitar 10 persen dari luas deforestasi untuk peternakan sapi potong (ranch).

Dengan studi European Commission tersebut jelas menunjukan bahwa tuduhan selama ini bahwa ekspansi sawit merupakan driver utama deforestasi global adalah suatu kebohongan besar. Dengan hasil studi European Commission tersebut, sangat jelas bahwa hasil deforestasi terbesar yang memasok Eropa adalah kacang kedelai dan daging sapi. Jika EU memaknai deforestasi sebagai eksternalitas negatif dan menggunakan pajak eksternalitas negatif sebagai cara internalisasi eksternalitas negatif maka seharusnya diterapkan juga pada impor kedelai dan daging sapi dari Amerika Selatan.

Kedua komoditas impor EU tersebut mencapai 54 persen embodied deforestasi EU. Sedangkan minyak sawit dari Indonesia dan Malaysia kontribusinya sangat kecil yakni hanya kurang dari satu persen.

Tabel 3. Pemicu (driver) Deforestasi Global Periode 1990-2008

Sumber : Eropean Commision, 2013

KESIMPULAN

Konsumsi minyak nabati EU yang terbesar adalah minyak rapeseed (canola), lalu disusul minyak sawit, minyak bunga matahari dan minyak kedelai. Pangsa minyak nabati EU (minyak rapeseed dan minyak bunga matahari) sesungguhnya cenderung stabil pada kisaran 61 persen dari total konsumsi minyak nabati EU. Namun pangsa minyak sawit cenderung meningkat dari 9 persen menjadi 29 persen pada kurun waktu 1990-2016. Peningkatan pangsa minyak sawit tersebut meskipun belum menggerogoti minyak nabati EU, tampaknya sudah menjadi perhatian Parlemen EU.

Kehadiran minyak sawit di EU sesungguhnya menjadi bagian solusi atas dilema pangan-energi-deforestasi yang dihadapi EU. Jika impor minyak sawit dihentikan maka EU akan menghadapi banyak masalah seperti terganggunya ketahanan pangan, produksi biofuel turun, directive energi tak tercapai, emisi karbon naik, deforestasi dunia meningkat dan “kue” ekonomi minyak sawit yang dinikmati selama ini akan hilang.

Penggunaan minyak sawit di Uni Eropa menciptakan manfaat ekonomi yang cukup besar bagi EU setiap tahunnya yakni menciptakan kesempatan kerja bagi 117 ribu orang, menciptakan pendapatan sekitar 5,8 milyar Euro setiap tahun dalam Gross Domestic Product dan penerimaan pajak sebesar 2,6 milyar Euro. Selain itu penggunaan minyak sawit sebagai bagian dari program biodiesel EU untuk mengurangi emisi karbon EU yang lebih tinggi dari Indonesia.

Komoditi impor EU terbesar yang terkait dengan deforestasi (embodied deforestation) adalah kacang kedelai dan daging sapi. Kedua komoditas impor EU tersebut mencapai 54 persen embodied deforestation EU. Sedangkan minyak sawit dari Indonesia dan Malaysia kontribusinya sangat kecil yakni hanya kurang dari satu persen. Oleh karena itu, resolusi sawit Parlemen Eropa yang mengkaitkan minyak sawit dengan deforestasi terlalu berlebihan.

Source : Paspimonitor.or.id