Sang Nenek Moyang Sawit di Kebun Raya Bogor

Plasma nutfah sebagai nenek moyang Kelapa sawit Indonesia yang ditanam tahun 1848 di Kebun Raya Bogor telah melahirkan 11 juta hektar Kebun sawit mulai dari Aceh ke Papua. Nenek moyang Kelapa sawit tersebut sudah punah sejak tahun 1995. Tanggal 18 Mei 2017, 8 varietas buyutnya ditanam kembali di Kebun Raya Bogor dalam acara Sawit Pulang Kampung bertepatan ulangtahun Kebun Raya Bogor ke 200 tahun

Sawit Pulang Kampung ke Kebun Raya Bogor

Mungkin banyak yang belum mengatahui bahwa kebun sawit Indonesia yang kini seluas sekitar 11 juta hektar berasal dari tanaman plasma nutfah Kelapa sawit Kebun Raya Bogor (KRB). Bukan hanya Kelapa sawit yang ada di Indonesia, Kelapa sawit yang ada di Malaysia juga berasal dari KRB.

Kebun Raya Bogor, dibangun tahun 1817 atau 200 tahun silam. Kemudian tahun 1848 pengelola KRB menanam 4 biji buah Kelapa sawit yang dibawa dari Afrika Barat Daya. Penanaman 4 bibit Kelapa sawit tersebut di KRB selain bagian dari koleksi palsma nutfah juga sebagai proses aklimitisasi (adaptasi lingkungan) tanaman kelapa sawit.

Empat bibit Kelapa sawit KRB itulah nenek moyang kelapa sawit yang ada di Indonesia dan Malaysia. Dari buah Kelapa sawit KRB semula disebarkan  sebagai tanaman hias (ornamental) di berbagai daerah di Indonesia.  Budidaya Kelapa sawit dalam bentuk kebun komersial pertama kali diuji coba tahun 1911 di Pulu Raja (Sumatera Utara), Tanah Itam Ulu (Sumatera Utara) dan Sei Liput (Aceh). Hasilnya memuaskan bahkan produksinya lebih baik dari  habitat aslinya di Afrika Barat Daya.

Keberhasilan ujicoba komersial tersebut mendorong pengembangan kebun sawit komersial yang lebih luas. Untuk mengolah buah kelapa sawit tahun 1918 pertama kali dibangun Pabrik Kelapa Sawit di Sei Liput dan ekspor CPO pertama dari Indonesia mulai tahun 1919.

Dari empat bibit sawit KBR tersebut telah mengantar Indonesia menjadi produsen minyak sawit terbesar dunia sejak tahun 2006. Empat bibit sawit KRB itu juga yang menghasilkan devisa untuk Indonesia sekitar 20 milyar dollar Amerika Serikat  setiap tahun.

Keempat pohon induk kelapa sawit KBR itu akhirnya dimakan usia dan terakhir hidup tahun 1990-an. Meski nenek moyang kelapa sawit di KRB sudah mati, turunanya sudah jutaan hektar di Indonesia maupun di Malaysia. Pembudidayaan kelapa sawit  dan ditangan para ahli-ahli genetika secara lintas generasi, 4 varietas kelapa sawit KBR telah melahirkan puluhan varietas baru saat ini  yang antara lain berada di 11 usaha pembibitan kelapa sawit di Indonesia.

Untuk menyambung sejarah sekaligus bentuk terimakasih kepada Kebun Raya, usaha pembibitan kelapa sawit beserta pengelola KRB dan tanggal  18 Mei 2017 lalu dikaitkan dengan 200 tahun KRB,  dilakukan penanaman ulang (replanting) kelapa sawit di lokasi nenek moyang kelapa sawit KRB.  Sekitar 8 varietas unggul Kelapa sawit (generasi atau buyut ke 6-8) ditanam ulang di lokasi nenek moyang sawit di KRB. Selain menanam ulang, juga telah dibangun prasasti/monumen Kelapa sawit di KRB dalam bentuk untaian DNA (double helix DNA) yang merupakan simbol genetika yang dapat disaksikan oleh semua masyarakat yang mengunjungi KRB.

Kelapa sawit  kini telah berkembang pada sekitar 200 kabupaten mulai dari Aceh sampai ke Papua. Di daerah-daerah tersebut kebun sawit telah memberikan multimanfaat dan multifungsi kebun sawit untuk masyarakat. Berbagai manfaat ekonomi, sosial dan ekologis kebun sawit sudah terdistribusi dan dinikmati masyarakat mulai dari Aceh sampai Papua. Tidak hanya masyarakat Indonesia yang menikmati, masyarakat dunia pun ikut menikmati multimanfaat sawit. Minyak sawit,  saat ini  telah menjadi minyak nabati utama dunia. Terima kasih Kebun Raya Bogor, Selamat Ulang Tahun ke 200 Kebun Raya Bogor.

Source : Sawit.or.id