Sawit : Lokomotif Ekonomi Desa-Kota

Perkembangan kebun-kebun sawit di pelosok-pelosok pada 200 kabupaten, menarik perkembangan sektor-sektor ekonomi pedesaan dan sektor-sektor ekonomi perkotaan. Mengembangkan kebun sawit merupakan salah satu strategi  mengembangkan sektor-sektor ekonomi pedesaan dan perkotaan.

Ibarat suatu rangkaian Kereta Api dimana lokomotifnya menarik sejumlah gerbong-gerbong panjang dibelakangnya,  demikian juga perekonomian. Dalam perekonomian terdapat sektor-sektor ekonomi utama (lokomotif ekonomi) yang memiliki keterkaitan kuat dengan sektor-sektor lain, sehingga jika sektor ekonomi lokomotif berkembang, akan menarik perkembangan sektor-sektor ekonomi lainya secara simultan.

Kebun sawit dengan luas 11.6 juta hektar yang berkembang di pelosok-pelosok pedesaan pada sekitar 200 kabupaten dan pada 23 propinsi di Indonesia, merupakan suatu lokomotif ekonomi pedesaan. Perkembangan kebun-kebun sawit di daerah pelosok-pelosok tersebut menarik perkembangan sektor-sektor ekonomi lain yang menghasilkan barang atau jasa yang diperlukan dalam kegitan ekonomi kebun-kebun sawit. Sektor-sektor yang dimaksud antara lain sektor pupuk, pestisida, alat-alat dan mesin perkebunan, sektor jasa pengangkutan, sektor bahan bangunan dan property, sektor alat-alat perkantoran, sektor jasa keuangan, sektor jasa pemerintahan dan lain-lain.

Tarikan ekonomi kebun sawit sebagai lokomotif ekonomi tidak berhenti sampai pada sektor-sektor tersebut. Akibat berkembangnya kebun-kebun sawit dan sektor-sektor tersebut, tentu saja menciptakan pendapatan bagi tenaga kerja yang terlibat di dalamnya. Peningkatan pendapatan tenaga kerja tersebut meningkatkan konsumsi baik konsumsi bahan pangan maupun non pangan. Sehingga sektor-sektor ekonomi yang menghasilkan bahan pangan maupun barang non pangan juga berkembang. Hal ini dengan mudah disaksikan di sentra-sentra kebun sawit. Berkembangnya kebun sawit juga diikuti bekembangnya sektor pertanian pangan, peternakan, perikanan, warung/toko sembako, toko kelontong, toko-toko pakaian, warung-warung IT, penjual sepeda motor, alat-alat elektronika, dan lain-lain.

Sektor-sektor tersebut sebagian merupakan sektor ekonomi  pedesaan (sektor tanaman pangan, peternakan, perikanan, warung-warung makan, dan lain-lain), dan  sebagian lagi merupakan sektor ekonomi perkotaan (Keuangan, jasa transportasi, pupuk, pestisida, sembako, pakaian, sepeda motor dan lainnya). Berkembangnya kebun-kebun sawit membuat menggeliat sektor-sektor ekonomi pedesaan dan perkotaan tersebut.

Jika dihitung volume ekonomi dari sektor-sektor pedesaan dan perkotaan tersebut cukup besar. Berdasarkan tenaga kerja yang terlibat langsung pada kebun sawit dan suplier kebun saja, nilai transaksi antara masyarakat di kebun sawit dengan sektor pedesaan tahun 2016 saja mencapai Rp 92 triliun per tahun, sedangkan dengan perkotaan mencapai Rp 336 triliun per tahun. Dengan nilai transaksi yang demikian mencerminkan bahwa mengembangkan kebun-kebun sawit juga berarti mengembangkan ekonomi perkotaaan.

Peningkatan ekspor minyak sawit ke pasar dunia, akan menggerakkan produksi minyak sawit dari kebun-kebun sawit di pelosok-pelosok pedesaan 200 kabupaten. Peningkatan produksi kebun sawit tersebut, selanjutnya menggerakkan sektor-sektor ekonomi pedesaan dan perkotaan. Dengan kata lain, perkembangan kebun-kebun sawit menggairahkan ekonomi pedesaan dan perkotaan secara simultan.

Dengan kata lain, manfaat pengembangan kebun-kebun sawit bukan hanya dicerminkan oleh indikator peningkatan produksi dan ekspor minyak sawit saja, tetapi juga (bahkan lebih besar) manfaat ekonomi yang tercipta pada sektor ekonomi pedesaan dan perkotaan.

Source : Sawit.or.id