Sertifikasi ISPO Berbasis Pasar dan Kualitas Kebun

Sustainability bersifat relatif dan pasar minyak sawit dunia juga beragam terkait tuntutan atribut sustainability. Karena itu sistem sertifikasi berkelanjutan yang realistis adalah berdasarkan tingkat kualitas sustainability, bukan sustainability vs unsustainability

Pasar minyak sawit dunia tidak seragam. Ada pasar atau negara dimana tuntutan sustainability minyak sawit sangat ketat dan kuat seperti pasar di negara-negara maju seperti Eropa, Amerika Utara dan Australia. Pasar tersebut dimana sebagian besar masyarakat konsumen berpendapatan tinggi (orang kaya), kelestarian lingkungan hidup, hak-hak asasi bahkan hak-hak asasi hewan sudah menjadi bagian dari nilai-nilai kesejahteraan. Oleh karena itu konsumen sudah menuntut (demanding demand) pada atribut minyak sawit bukan hanya sustainable saja, tetapi juga dapat ditelusuri (tracable).

Pada ekstrim lain, juga terdapat pasar minyak sawit dimana masyarakatnya (konsumen) lebih mengutamakan atribut harga. Pasar minyak sawit di negara-negara kelompok negara kurang berkembang (less development countries) dan negara-negara berkembang (developing countries) yang pendapatan penduduknya masih relatif rendah seperti negara-negara kawasan Afrika dan Asia Selatan, atribut minyak sawit yang dituntut adalah atribut utama yakni harga. Bagi pasar yang seperti itu, yang penting harga minyak sawit murah dan belum menuntut atribut yang lebih rinci seperti atribut berkelanjutan.

Diantara negara-negara berpendapatan tinggi dan berpendapatan rendah, juga terdapat negara-negara berpendapatan menengah (middle income country) seperti negara-negara Timur Tengah dan Asia Tengah. Pada negara-negara berpendapatan menengah tersebut, umumnya masih tetap mengutamakan atribut harga, namun juga sudah memperhatikan atribut keberlanjutan meski belum sekuat di negara-negara berpendapatan tinggi.

Sementara itu, dari segi produksi minyak sawit yakni kebun sawit, memiliki variasi yang berbeda-beda juga. Ada kebun-kebun sawit yang memiliki kemampuan teknologi, Sumber Daya Manusia, manajamen dan pembiayaan yang kuat sehingga sudah memiliki tatakelola keberlanjutan yang sudah lebih maju seperti korporasi sawit (swasta dan BUMN). Korporasi-korporasi sawit besar ini bahkan sebagian besar kebunnya telah memperoleh sertifikasi keberlanjutan baik dari lembaga ISPO maupun RSPO.

Namun banyak juga korporasi yang kelas menengah yang masih sedang memperbaiki tatakelola keberlanjutan. Bahkan kelompok terbesar yakni kebun sawit rakyat, masih sedang bergelut memperbaiki kultur teknis dan tatakelola berkelanjutan, masih butuh waktu untuk menghasilkan minyak sawit dengan tatakelola berkelanjutan yang terbaik.

Realitas yang demikian beragam seharusnya menjadi dasar sertifikikasi keberlanjutan minyak sawit. Keberlanjutan (sustainability) merupakan sesuatu yang relatif dan bukan ”hitam-putih”, atau Sustainable vs Unsustainable seperti yang berlaku saat ini baik ISPO maupun RSPO. Kualitas sustainability kebun sawit korporasi yang sudah generasi kedua dan seterusnya, tentu berbeda kualitasnya dengan kebun-kebun sawit yang masih generasi pertama. Juga, kualitas sustainability kebun-kebun sawit di lahan mineral tentu berbeda dengan kualitas sustainability kebun-kebun sawit lahan gambut. Karena itu, menyamakan kualitas sustainability seluruh kebun-kebun sawit tidak realistis.

Dengan realitas pasar (konsumen dan produsen) yang demikian itu, sertifikasi sustainability sawit akan lebih realistis dan objektif berdasarkan kualitas sustainability. Untuk memudahkan, misalnya kualitas Silver (kualitas sustainability pemula), Gold (kualitas sustainability lanjutan) dan Platinum (kualitas sustainability advanced). Kriteria masing-masing level kualitas sustainability ditetapkan sedemikian rupa sehingga terlihat jelas improvement kualitas keberlanjutan dari kelas Silver ke Gold dan ke Platinum.

Kebun-kebun sawit yang telah mencapai kualitas kebun kelas I,II,III sesuai Permentan No. 07/Permentan/OT.140/2/2009 tentang penilaian usaha perkebunan otomatis memperoleh sertifikasi Silver. Untuk mencapai sertifikasi Gold harus terjadi perbaikan tatakelola kebelanjutan yang lebih baik. Dan selanjutnya untuk mencapai kualitas sertifikasi Platinum juga setelah terjadi perbaikan kualitas tatakelola kebun yang lebih baik lagi.

Minyak sawit yang dihasilkan dari kebun-kebun yang telah memperoleh sertifikasi berkelanjutan Platinum, ditujukan untuk pasar dimana tuntutan keberlanjutan yang sangat ketat seperti EU dan USA. Demikian juga kelas Gold, dipasarkan ke pasar negara-negara berpendapatan menengah yang belum terlalu “rewel” tentang kualitas keberlanjutan. Sedangkan kelas Silver dipasarkan pada negara-negara yang berpendapatan rendah dimana konsumennya belum menuntut keberlanjutan.

Sistem sertifikasi kebun sawit yang demikian jauh lebih realistis, adil, jujur, transparan dan berkelanjutan. Sistem sertifikasi sawit saat ini baik ISPO maupun RSPO tidak menghargai konsumen yang berbeda tuntutannya maupun  kebun sawit yang beragam kualitasnya.

Source : Indonesiakita.or.id