Social Sustainability Perkebunan Sawit

Pertumbuhan kebun sawit pada 190 kabupaten berdampak luas bagi pembangunan pedesaan, pengurangan kemiskinan, penyerapan tenaga kerja yang inklusif, sehingga secara sosial berkelanjutan.

Keberlanjutan (sustainability) memiliki tiga dimensi yakni keberlanjutan secara ekonomi (economic sustainability), sosial (social sustainability) dan lingkungan (environment sustainability). Ketiga dimensi tersebut memiliki proporsi yang seimbang dalam menyumbang kualitas sustainability.

Social Sustainability Perkebunan Sawit

Sebagaimana dikemukakan World Bank (2013) dalam publikasinya yang berjudul : Inclusive Green Growth : The Pathway to Sustainable Development, mengungkapkan bahwa keberlanjutan tidak cukup hanya bertumbuh “hijau” (green growth) tetapi juga haruslah bersifat inklusif. Oleh karena itu, untuk mengukur susutainability memerlukan indikator inklusifitas. Dalam mengukur social sustainability misalnya, tidak cukup hanya indikator mikro (eksklusif) yakni hanya pada level perusahaan tetapi juga (bahkan lebih penting) indikator inklusif berupa benefit-benefit yang dapat dinikmati masyarakat sekitar akibat kehadiran suatu perusahaan.

Indikator inklusif  yang umum digunakan untuk mengukur social sustainabilityantara lain adalah  dampaknya pada pembangunan pedesaan (rural development) dan pengurangan kemiskinan (poverty eradication). Dua indikator sosial yang inklusif tersebut sangat penting khususnya pada negara-negara yang sedang bertumbuh seperti Indonesia.

Dua indikator sosial eksklusif dalam perkebunan kelapa sawit yang penting adalah : (1) Berapa besar penyerapan tenaga kerja dan kesejahteraanya yang tercipta dalam perusahaan-perusahaan perkebunan kelapa sawit, dan (2) Berapa besar petani sawit berkembang akibat berkembangnya perusahaan perkebunan sawit baik dalam bentuk kemitraan (inti-plasma) maupun bentuk kemitraan kordinasi (kepastian pemasaran hasil maupun akses teknologi dan manajamen usaha).

Untuk kedua indikator tersebut sudah banyak studi-studi emperis yang mengungkapkannya. Teknologi perkebunan kelapa sawit yang padat karya (labor intensive) tentu saja menyerap banyak tenaga kerja dengan berbagai latar belakang keahlian. Studi PASPI (2015) menemukan bahwa jumlah tenaga kerja yang terserap pada perusahaan perkebunan sawit mencapai sekitar 3,3 juta orang tenaga kerja. Dari jumlah tersebut  sekitar 67 persen merupakan tenaga kerja berpendidikan SLTP kebawah dan sisanya merupakan lulusan SLTA ke atas. Secara umum pendapatan yang diterima karyawan (uang tunai dan non tunai) telah diatas UMR bahkan diatas rataan propinsi pendapatan karyawan usaha sejenis dan  lama bekerja, pendidikan yang sama.

Jumlah usaha petani sawit yang berkembang sampai tahun 2015 mencapai sekitar 2,3 juta usaha petani sawit dengan luas sekitar 4,5 juta hektar (sekitar 43 persen luas sawit nasional) dan mempekerjakan sekitar 4,6 juta orang tenaga kerja. Rataan pendapatan petani sawit jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pendapatan petani non sawit di daerah yang bersangkutan (World Growth, 2011, PASPI, 2014).

Untuk indikator sosial inklusif berbagai studi juga membuktikan bahwa dampak multiplier pertumbuhan perkebunan kelapa sawit juga cukup besar bagi pembangunan wilayah pedesaan maupun pengurangan kemiskinan. Jumlah supplier barang dan jasa yang diperlukan perkebunan kelapa sawit bertumbuh seiring pertumbuhan kebun sawit. Demikian juga pertumbuhan kebun sawit juga menarik pertumbuhan usaha produksi bahan pangan (tanaman pangan, peternakan, perikanan) di sekitarnya.

Karena itu dampak multiplier (output, nilai tambah, pendapatan, penyerapan tenaga kerja) dari pertumbuhan perkebunan kelapa sawit menarik perkembangan (khususnya pendapatan dan penyerapan tenaga kerja) banyak sektor-sektor pembangunan pedesaan.

Efek total dari pertumbuhan perkebunan Kelapa sawit di setiap wilayah mempercepat pertumbuhan kemajuan daerah pedesaan (World Growth, 2011). Pertumbuhan ekonomi daerah sentra sawit lebih cepat dari daerah non sentra sawit. Pertumbuhan kebun sawit atau produksi CPO signifikan menurunkan kemiskinan daerah pedesaan. Tumbuhya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di daerah pedesaan, daerah yang sebelumnya terisolasi, pelosok pada 190 kabupaten dihela oleh pertumbuhan kebun sawit (PASPI, 2014, 2015).

Source : Sawit.or.id