Industri sawit tidak berperan dalam penurunan tingkat pengangguran dunia (Mitos 4-01)
Kontribusi industri sawit pada perekonomian global berkaitan dengan kegiatan impor dan hilirisasi yang terjadi di negara importir. Kegiatan tersebut mendorong berkembangnya sektor-sektor ekonomi baik langsung maupun tidak langsung yang mengolah lebih lanjut minyak sawit (European Economics, 2016; Shigetomi et al., 2020).
Berkembangnya sektor ekonomi tersebut menciptakan kesempatan kerja (job creation) di negara-negara importir minyak sawit. Studi European Economics (2016) mengungkapkan bahwa pada tahun 2014, terdapat sekitar 2.9 juta tenaga kerja yang terserap pada kegiatan hilir minyak sawit yang diimpor dunia atau sekitar 54 orang per seribu ton minyak sawit yang diimpor. Kesempatan kerja tersebut tercipta baik berupa dampak langsung (direct impact), dampak tidak langsung (indirect impact) dan dampak konsumsi (induced impact) dari kegiatan impor, hilirisasi dan konsumsi di negara importir minyak sawit.
Distribusi penciptaan kesempatan kerja dari kegiatan impor dan hilirisasi minyak sawit (Gambar 1) berbeda-beda di setiap negara importir. India dan China menikmati job creation yang lebih besar dengan pangsa berturut-turut sebesar 40 persen dan 33 persen. Selain karena besarnya volume impor minyak sawit, besarnya kesempatan kerja yang tercipta karena teknologi hilirisasi sawit di kedua negara tersebut bersifat padat karya (labor intensive). Pilihan teknologi India dan China sesuai dengan kondisi kedua negara tersebut yang memiliki jumlah penduduk terbanyak di dunia sehingga tenaga kerja relatif melimpah dan murah.

Penciptaan kesempatan kerja di Uni Eropa dan Amerika Serikat lebih rendah yakni dengan pangsa berturut-turut 3 persen dan 2 persen. Penggunaan minyak sawit di kedua negara tersebut ditujukan untuk industri pangan kompleks, industri kosmetik dan toiletries, industri biodiesel, dan industri pakan ternak. Industri-industri tersebut tergolong relatif padat modal (capital intensive) atau lebih hemat tenaga kerja (labor saved). Harga modal (teknologi/investasi) di kedua negara relatif lebih murah.
Dengan demikian, kiranya cukup jelas bahwa produsen minyak sawit dunia seperti Indonesia, membagi “kue ekonomi” berupa job creation kepada negara-negara importir minyak sawit. Hal tersebut juga menunjukkan bahwa industri sawit adalah industri yang inklusif secara global karena melibatkan masyarakat luas dalam rantai pasok serta mendistribusikan manfaatnya berupa penciptaan kesempatan kerja di negara importir/konsumen minyak sawit yang berkontribusi dalam pengurangan pengangguran global.
Sumber: Mitos dan Fakta Kelapa Sawit – Edisi 4