Terungkap! Benarkah Minyak Sawit Jadi Penyebab Obesitas?

Konsumsi minyak sawit menyebabkan obesitas (Mitos 5-12)

Saat ini, obesitas telah menjadi salah satu masalah kesehatan yang mendapatkan fokus masyarakat global. Bahkan World Health Organization (WHO) telah menggolongkan obesitas sebagai epidemi global yang harus segera ditangani. Hal ini dikarenakan obesitas yang ditunjukkan dengan peningkatan berat badan diasosiasikan dengan resiko berbagai penyakit kronis seperti kardiovaskuler, diabetes melitus, stroke, dan beberapa jenis kanker.

Beberapa studi (Murase et al., 2001; Yusuf at al., 2005) mengungkapkan adanya kaitan kuat antara konsumsi asam lemak jenuh (saturated fat) terhadap obesitas. Berkaitan dengan hasil studi tersebut, minyak sawit yang mengandung proporsi asam lemak jenuh yang tinggi (Tabel 5.1) kembali diasosiasikan sebagai pemicu obesitas dan kardiovaskuler (Chong dan Ng, 1991; Sowers, 2003). Namun selain asam lemak jenuh, minyak sawit juga mengandung asam lemak tak jenuh yang relatif tinggi sehingga secara keseluruhan perilaku dari asam lemak minyak sawit cenderung sebagai asam lemak tak jenuh.

Jika dilihat dari definisi WHO, obesitas adalah penumpukan lemak tubuh yang berlebihan akibat ketidakseimbangan asupan energi (energy intake) dengan energi yang digunakan (energy expenditure) dalam waktu yang lama. Minyak sawit sendiri merupakan pangan sumber lemak yang memiliki peranan penting bagi tubuh baik sebagai sumber energi, menyuplai asam lemak esensial bagi tubuh, bermanfaat untuk penyerapan vitamin A, D, E, K, serta menyediakan substrat penting untuk sintesis senyawa aktif metabolik seperti hormon steroid, testosteron, estrogen, dan progresteron (MPOC, 2016; Olabiyi et al., 2021).

Namun dengan mengkaitkan konsumsi minyak sawit secara langsung menyebabkan obesitas merupakan pandangan yang berlebihan. Obesitas dipengaruhi oleh multi faktor seperti dietary habits, aktivitas, dan gaya hidup. Hal ini juga searah dengan studi Muhamad et al. (2018) yang telah merangkum berbagai studi dan menyimpulkan bahwa tidak ada bukti yang jelas dan tegas menunjukkan hubungan yang kuat antara konsumsi minyak sawit dengan obesitas.

Hal yang lebih penting untuk mengatasi obesitas, bukanlah dengan “mengkambinghitamkan” asam lemak jenuh yang terkandung dalam minyak sawit. Menekankan keseimbangan energi dan pemilihan lemak sehat untuk menggantikan karbohidrat sederhana dan gula rafinasi adalah kunci untuk mencegah masalah kelebihan berat badan dan obesitas. Minyak sawit justru menjadi alternatif diet untuk mengurangi resiko obesitas karena bebas asam lemak trans (free trans-fat) dan tidak mengandung kolesterol.

Sumber: Mitos & Fakta Kelapa Sawit – Edisi 4

Post View : 1208