Jakarta — Dalam sepekan terakhir, hingga Minggu (22/9/2024), harga crude palm oil (CPO) di pasar global menunjukkan tren kenaikan. Salah satu faktor utama yang mempengaruhi kenaikan ini adalah kebijakan Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia yang membatasi ekspor CPO. Langkah ini diambil seiring dengan rencana peluncuran bahan bakar biodiesel B40 yang diprediksi akan menyerap lebih banyak CPO sebagai bahan baku.
Kementerian ESDM mengungkapkan bahwa B40 merupakan bahan bakar dengan campuran 40 persen minyak kelapa sawit dan 60 persen solar. Uji coba B40 telah selesai dilakukan dan siap untuk diimplementasikan. Program ini adalah bagian dari upaya pemerintah untuk mempercepat transisi energi dari ketergantungan pada bahan bakar fosil menuju penggunaan energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan.
Selain itu, penerapan B40 juga diharapkan dapat mengurangi emisi karbon, sehingga membantu menekan laju pemanasan global akibat efek rumah kaca. Program ini merupakan kelanjutan dari suksesnya implementasi B30 yang telah diterapkan sejak 2020 oleh Pertamina, tidak hanya untuk sektor otomotif tetapi juga untuk sektor non-otomotif seperti Kereta Api Indonesia (KAI) dan industri besar lainnya. Pada 2023, program ini ditingkatkan menjadi B35, meskipun belum sepenuhnya diterapkan di seluruh wilayah Indonesia.
Dalam pernyataannya, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM, Eniaya Listiani Dewi, menyampaikan bahwa pemerintah telah menetapkan kebijakan wajib penggunaan biodiesel B40 yang akan mulai diberlakukan pada 1 Januari 2025.
Eniaya juga menyebutkan bahwa pemerintah sedang mempersiapkan infrastruktur untuk mendukung peningkatan biodiesel dari B40 ke B50. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kajian untuk meningkatkan penggunaan biodiesel hingga B60 juga tengah dilakukan.
“Yang paling penting adalah memastikan performa teknis penggunaan B60 pada mesin. Ini menjadi fokus utama kajian kami,” pungkas Eniaya. (*)