Pembangunan Perkebunan Sawit Menyebabkan Pemanasan Global? Cek Faktanya di Sini!

Pemanasan global (global warming) disebabkan oleh pembangunan perkebunan kelapa sawit (Mitos 6-01)

Pemanasan global (global warming) merupakan isu yang paling mengemuka dalam abad ini. Dampak pemanasan global yang sangat luas telah mengundang perhatian masyarakat global.

Pemanasan global disebabkan karena meningkatnya intensitas efek gas rumah kaca (greenhouse intensity effect) pada atmosfer bumi. Secara alamiah, atmosfer bumi diisi Gas Rumah Kaca-GRK (Greenhouse Gasses-GHG) terutama uap air (H2O), karbon dioksida (CO2), methane (CH4), dan nitrogen (N2) dengan konsentrasi alamiah tertentu. Fungsi gas rumah kaca tersebut untuk membentuk mekanisme efek rumah kaca (natural greenhouse effect) pada atmosfer bumi sebagai mekanisme alamiah dalam melindungi dan memelihara temperatur atmosfer bumi agar nyaman untuk kehidupan.

Melalui mekanisme alamiah efek gas rumah kaca tersebut, sebagian energi panas yang dipancarkan matahari terperangkap dalam atmosfer bumi dan sebagian lagi dipantulkan ke luar angkasa (Gambar 1). Tanpa mekanisme efek rumah kaca alamiah tersebut, semua energi panas matahari dipantulkan ke luar angkasa sehingga temperatur atmosfer bumi akan sangat dingin (tidak nyaman untuk kehidupan).

Peningkatan intensitas efek rumah kaca alamiah tersebut terjadi ketika konsentrasi emisi GRK pada atmosfer bumi meningkat di atas konsentrasi alamiah nya. Penyebabnya adalah peningkatan emisi GRK yang bersumber dari aktivitas manusia di bumi dan munculnya gas-gas buatan manusia seperti golongan Chlorofluorocarbon (CFC) dan halogen (human enhanced greenhouse effect).

Intergovernmental Panel on Climate Change/IPCC (1991) mengungkapkan bahwa konsentrasi emisi GRK di atmosfer bumi mengalami peningkatan dalam periode pre-industri (1800-an) hingga saat ini. Menurut IPCC (1991) konsentrasi CO2 pada atmosfer bumi telah meningkat dari 280 ppmv (part per million volume) pada 1800-an menjadi 353 ppmv pada tahun 1990. Konsentrasi CO2 pada atmosfer bumi tahun 2005 meningkat mencapai 379 ppmv kemudian mengalami kenaikan menjadi 396 ppmv tahun 2013, dan 399 ppmv tahun 2015, kemudian terus meningkat menjadi 407 ppmv pada tahun 2018 (IEA, 2013, 2016, 2019). Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) mengungkapkan bahwa tingkat konsentrasi karbon dioksida (CO2) di atmosfer bumi pada Mei 2022 telah meningkat menjadi 417.6 ppmv.

Sementara itu pada periode tahun 1800-an hingga 1990, konsentrasi GRK lainnya juga meningkat yakni CH4 dari 0.8 ppmv menjadi 1.72 ppmv, N2O dari 288 ppbv (part per billion volume) menjadi 310 ppbv, dan CFC dari nol menjadi 280-484 pptv (part per trillion volume).

Senada dengan studi di atas, Olivier et al. (2022) juga menunjukkan peningkatan emisi GRK (setara CO2) pada atmosfer bumi dari 32.9 Gt CO2 eq tahun 1990 menjadi 49.8 Gt CO2 eq tahun 2020 (Gambar 2).

Selama periode tahun 1990-2020, peningkatan emisi terbesar disumbang oleh emisi gas CO2 yang meningkat dari 22.7 Gt CO2 menjadi 49.8 Gt CO2. Kemudian gas CH4 yang juga meningkat dari 6,196 Mt CO2 eq menjadi 7,732 Mt CO2 eq, gas N2O meningkat dari 2,329 Mt CO2 eq menjadi 2,958 Mt CO2 eq, dan F-gas meningkat dari 352 Mt CO2 eq menjadi 1,328 Mt CO2 eq.

Dengan meningkatnya intensitas konsentrasi GRK menyebabkan radiasi/panas sinar matahari yang terperangkap pada atmosfer bumi menjadi lebih besar dari alamiahnya sehingga meningkatkan temperatur udara bumi menjadi lebih panas (Soemarwoto, 1992). Peningkatan temperatur atmosfer bumi tersebut kemudian dikenal sebagai pemanasan global (global warming).

Uraian di atas menegaskan bahwa pemanasan global bukan disebabkan oleh perkebunan kelapa sawit. Peningkatan konsentrasi GRK pada atmosfer bumi yang bersumber dari kegiatan masyarakat dunia sejak era pra-industri (tahun 1800-an) hingga sekarang, telah meningkatkan intensitas efek rumah kaca pada atmosfer bumi sehingga panas matahari semakin banyak terperangkap dan hal inilah merupakan penyebab pemanasan global.

Referensi

  • Olivier JGJ, Schure KM, Peters JAHW. 2022. Trends in Global CO2 and Total Greenhouse Gas Emissions: 2021 Summary Report.
  • Soemarwoto O. 1992. Indonesia dalam Kamcah Isu Lingkungan Global. Jakarta (ID): PT. Gramedia Pustaka Utama.
  • US Global Change Research Program. tt. Human Influence on the Greenhouse Effect.

Sumber: Mitos & Fakta Kelapa Sawit – Edisi 4

Post View : 2130