Mengacu pada sumber emisi global, peningkatan konsentrasi GRK atmosfer bumi diperkirakan mengalami peningkatan pesat pada masa setelah revolusi industri dan revolusi hijau. Paradigma pembangunan yang umumnya mengikuti hipotetis Environment Kuznet Curve (EKC) baik pada negara maju maupun negara berkembang (Auci dan Trovato, 2011; Acaravki dan Alkalin, 2017) telah menyebabkan peningkatan emisi GRK selama proses pembangunan. Pada awal pembangunan di suatu negara, konsentrasi GRK cenderung meningkat seiring dengan meningkatnya intensitas kegiatan ekonomi atau meningkatnya pendapatan. Dan hingga pada level tertentu emisi GRK tersebut akan turun seiring dengan meningkatnya pendapatan atau pertumbuhan ekonomi negara tersebut.
Berdasarkan data historis peningkatan konsentrasi GRK atmosfer bumi tersebut, tampaknya mengkaitkan antara perkebunan kelapa sawit dengan peningkatan emisi GRK tidak didukung fakta dan data. Perkebunan kelapa sawit dunia baru berkembang setelah tahun 1900-an dan itu pun hanya memiliki luas yang relatif sempit. Hal ini semakin diperkuat pula oleh data (Gambar 4) bahwa perkebunan kelapa sawit bukanlah kontributor utama emisi GRK global.
Referensi
- Acaravki A, Alkalin G. 2017. Environmental-Economic Growth Nexus: A Comparative Analysis Developed and Developing Countries. International Journal Energy Economics and Policy. 7(5): 34-43.
- Auci S, Trovato G. 2011 The Environment Kuznet Curve with ini European countries and Sectors; Greenhouse Emission, Production function and Technology. Munich Personal RePec Archieve. 1-21.
- [IEA] International Energy Agency. 2019. Emission from Fuel Combustion. Tersedia pada: https://doi.org/10.1787/2a701673-en
- Olivier JGJ, Schure KM, Peters JAHW. 2022. Trends in Global CO2 and Total Greenhouse Gas Emissions: 2021 Summary Report.
