Jejak Deforestasi: Apakah Negara Produsen Minyak Sawit Penyebabnya?

Deforestasi dunia hanya terjadi di negara-negara produsen minyak sawit (Mitos 6-13) 

Deforestasi telah menjadi isu lingkungan yang menyita perhatian masyarakat global. Pengaitan deforestasi dan perkebunan kelapa sawit (Wicke et al., 2008; Vijay et al., 2016; European Parlement, 2017) telah menggiring opini global seakan-akan deforestasi pasti dan hanya terjadi pada negara-negara produsen minyak sawit. Apakah benar deforestasi global bersifat uniqueness atau hanya terjadi pada negara-negara produsen minyak sawit?

Dalam sejarah peradaban manusia di planet bumi, deforestasi merupakan fenomena normal yang terjadi pada setiap negara dan setiap zaman. Peningkatan kebutuhan ruang akibat pertumbuhan populasi penduduk baik untuk perumahan, pertanian/pangan, serta infrastruktur dan kawasan/industri komersial di setiap negara dunia, telah mendorong terjadinya konversi hutan menjadi non-hutan (deforestasi).

Proses pembangunan global yang dimulai di daerah sub-tropis (seperti daratan Eropa, Amerika Utara) menyebabkan terjadinya deforestasi hutan sub-tropis (temperate forest) lebih awal yakni sebelum tahun 1990-an dan mencapai puncak pada periode tahun sebelum 1700 (Gambar 1). Pembangunan di negara-negara tropis juga menyebabkan deforestasi hutan tropis (tropical forest) pada tahun 1900-an. Puncak deforestasi hutan tropis terjadi pada periode tahun 1950-1979 (FAO, 2012; Roser, 2012).

Jejak deforestasi tropical forest dan non-tropical forest tersebut juga diperkuat oleh studi Matthew (1983). Pada periode pra-pertanian sampai tahun 1980 (Tabel 1), deforestasi hutan dunia telah mencapai 701 juta hektar yang terdiri dari deforestasi hutan non-tropis (653 juta hektar) dan deforestasi hutan tropis (48 juta hektar).

Studi Houghton (1996) juga mengkonfirmasi pola deforestasi global tersebut. Dalam periode tahun 1850-1990, luas lahan global yang telah dibuka meningkat dari 289 juta hektar menjadi 2.52 miliar hektar. Lahan tersebut terdiri dari temperate grass land seluas 1.6 miliar hektar, hutan tropis seluas 508 juta hektar, hutan temperate seluas 91 juta hektar, dan hutan boreal seluas 4 hektar.

Sebagian besar deforestasi hutan sub-tropis terjadi di daratan Eropa dan Amerika Utara. Hal ini tercermin dari penurunan forest cover di negara- negara Eropa (Gambar 2) sebelum tahun 1800 (Kaplan et al., 2009) dan di Amerika Utara (Gambar 3) (USDA, 2014). Hal ini juga terkonfirmasi dari hilangnya hutan asli (virgin forest) di daratan Eropa. Studi Sabatini et al. (2018) dan Barredo et al. (2021) juga mengungkapkan bahwa luas hutan primer Eropa saat ini hanya tersisa 1.4 juta hektar yang tersebar di Finlandia, Ukraina, Bulgaria, dan Rumania.

Uraian di atas menegaskan bahwa deforestasi merupakan fenomena normal dari proses pembangunan yang terjadi di setiap negara dan setiap zaman. Negara-negara maju saat ini, seperti Eropa dan Amerika Utara, mengawali proses pembangunannya dari hasil deforestasi. Demikian juga negara-negara dunia baru membangun. Tampaknya tidak ada pilihan untuk membangun pada masa itu tanpa deforestasi. Kemajuan dan kekayaan yang dinikmati masyarakat dunia saat ini memiliki akar sejarah deforestasi global.

Referensi

  • Barredo J, Brailesco C, Teller A, Sabatini FM, Mauri A, Janouskova K. 2021. Mapping and Assessment of Primary and Old-Growth Forests in Europe. European Commision: JRC Science for Policy Report. Tersedia pada: http://dx.doi.org/10.2760/797591
  • European Parlemen. 2017. Palm Oil and Deforestation Rainforest. Tersedia pada: https://www.europarl.europa.eu/doceo/document/TA-8-2017- 0098_EN.html
  • [FAO] Food Agricultural Organization. 2012. State of the World Forest. Tersedia pada: https://www.fao.org/3/i3010e/i3010e.pdf
  • Kaplan JO, Krumhardt KM, Zimmermann N. 2009. The Prehistoric and Preindustrial Deforestation of Europe. Quaternary Science Reviews. 28: 3016-3034. http://dx.doi.org/10.1016/j.quascirev.2009.09.028
  • Matthew E. 1983. Global Vegetation and Land Use: New High-Resolution Data Based for Climate Study. Journal of climate change and applied Meteorology. 22:474-487. https://ui.adsabs.harvard.edu/link_gateway/1983JApMe..22..474M/doi:10.1175/1520-0450(1983)022%3C0474:GVALUN%3E2.0.CO;2
  • Sabatini FM, Burrascano S, Keeton WS, Levers C, Lindner M, Pötzschner F, Verkerk PJ, Bauhus J, Buchwald E, Chaskovsky O, Debaive N, Horváth F, Garbarino M, Grigoriadis N Lombardi F, Duarte IM, Meyer P, Midteng N, Mikac S, Mikoláš M, Motta R, Mozgeris G, Nunes L, Panayotov M, Ódor P, Ruete A, Simovski B, Stillhard J, Svoboda M, Szwagrzyk J, Tikkanen OP, Volosyanchuk R, Vrska T, Zlatanov T, Kuemmerle T. 2018. Where are Europe’s Last Primary Forest? Diversity and Distributions. 24(10): 1426- 1439. https://doi.org/10.1111/ddi.12778
  • [USDA] United States of Departement Agricultural. 2014. US Forest Resource Facts and Historical Trend. Washington DC (US): US Department of Agriculture, Science and Education Administration.
  • Vijay V, Pimm LS, Jenkins CN, Smith SJ. 2016. The Impacts of Oil Palm on Recent Deforestation and Biodiversity Loss. Plos One. 11(7): 1-19. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0159668
  • Wicke B, Sikkema R, Dornburg V, Junginger M, Faaij A. 2008. Drivers of Land Use Change and The Role of Palm Oil Production in Indonesia and Malaysia: Overview of Past Developments and Future Projections Final Report. Science, Technology and Society Copernicus Institute for Sustainable Development and Innovation Utrecht University. Tersedia pada: http://npnet.pbworks.com/f/Wicke%2C+Faaij+et+al+%282008%29+Palm+oil+and+land+use+change+in+Indonesia+and+Malaysia%2C+Copernicus+Institute.pdf
Post View : 1368