IPOS Forum 2026: Enam Arah Transformasi Industri Sawit Nasional

Medan, 29 Oktober 2026. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Eddy Martono, memaparkan enam arah transformasi industri sawit nasional dalam sambutannya pada IPOS Forum 2026 di Medan, Kamis (29/10/2026). Forum tahun ini mengangkat tema “Ke Mana Arah Transformasi Industri Sawit Nasional”.

IPOS Forum 2026 di Medan: Ketua Umum GAPKI Eddy Martono menyampaikan enam arah transformasi industri sawit nasional
IPOS Forum 2026 di Medan: Ketua Umum GAPKI Eddy Martono menyampaikan enam arah transformasi industri sawit nasional. (Foto: Dokumentasi GAPKI)

Di hadapan pemerintah daerah, pelaku usaha, pekebun, akademisi, asosiasi petani sawit, dan media, Eddy menegaskan bahwa masa depan industri sawit tidak hanya ditentukan oleh peningkatan produksi. Produktivitas, tata kelola, keberlanjutan, hilirisasi, dan daya saing global juga harus diperkuat bersama dalam agenda transformasi industri sawit yang berkelanjutan.

“Tantangan kita bukan hanya bagaimana meningkatkan produksi, tetapi juga bagaimana meningkatkan produktivitas, tata kelola, keberlanjutan, hilirisasi, dan daya saing global.”

Berikut enam arah transformasi industri sawit yang disampaikan Eddy Martono dalam forum tersebut, beserta isu global yang menjadi perhatian GAPKI.

Enam arah transformasi industri sawit

1. Meningkatkan produktivitas

Menurut Eddy, produktivitas sawit saat ini stagnan dan cenderung menurun. Ia menilai masa depan industri sawit perlu bertumpu pada peningkatan hasil per hektare, bukan perluasan lahan. Upaya yang disebut mencakup penggunaan benih unggul, praktik budidaya yang baik, pemupukan yang tepat, mekanisasi, digitalisasi, serta penerapan teknologi dan inovasi. Eddy menegaskan riset dan inovasi merupakan investasi untuk masa depan, bukan sekadar biaya. Salah satu upaya yang sedang berjalan adalah mendatangkan serangga penyerbuk dan sumber daya genetik baru, dikerjakan GAPKI bersama BPDP, Kementerian Pertanian, PT RPN, dan pemangku kepentingan lainnya.

2. Mempercepat Peremajaan Sawit Rakyat

Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) perlu menjadi prioritas nasional karena banyak kebun rakyat sudah tua dan produktivitasnya menurun. Eddy menegaskan bahwa PSR bukan sekadar mengganti tanaman tua, melainkan juga harus meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan pekebun. Diperlukan penyederhanaan proses, kepastian legalitas lahan, ketersediaan benih unggul, pendampingan teknis, dan penguatan kelembagaan pekebun. Selain itu, dibutuhkan akses pembiayaan, termasuk pembiayaan jaminan hidup bagi pekebun selama tanaman belum menghasilkan. GAPKI menyatakan siap memperkuat kemitraan dengan pekebun, karena perusahaan dan pekebun merupakan bagian dari satu ekosistem sawit nasional.

3. Memperkuat tata kelola dan data

Transformasi industri sawit harus dibangun di atas tata kelola yang transparan, akuntabel, dan dapat ditelusuri. Eddy menyebut dibutuhkan data yang akurat mengenai areal, produksi, produktivitas, legalitas lahan, dan rantai pasok. “Data yang akurat akan menghasilkan kebijakan yang tepat”, ujarnya. GAPKI mendukung upaya pemerintah memperbaiki tata kelola, tetapi industri juga membutuhkan kepastian hukum dan kepastian berusaha, begitu pula pekebun.

4. Menyelesaikan persoalan struktural

Persoalan struktural yang masih dihadapi industri mencakup tumpang tindih regulasi, status kawasan dan legalitas lahan, persoalan sosial, hingga hambatan perdagangan di pasar internasional. Eddy menilai persoalan tersebut tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja.

5. Menjaga daya saing perdagangan dan ekspor

GAPKI memahami bahwa pemerintah perlu memperkuat tata kelola perdagangan komoditas strategis dan meningkatkan manfaat ekonomi bagi negara. Namun, setiap kebijakan harus tetap memperhatikan kelancaran ekspor, efisiensi perdagangan, daya saing industri, dan kepentingan pekebun. “Kita jangan sampai membangun kebijakan yang justru meningkatkan biaya dan mengurangi daya saing Indonesia di pasar global”, katanya. GAPKI mendorong dialog dan konsultasi terbuka antara pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan dalam setiap kebijakan strategis.

6. Memperkuat hilirisasi

“Indonesia tidak boleh hanya menjadi negara penghasil bahan baku”, ujar Eddy. Mengacu pada data Kementerian Perindustrian yang dikutip dalam sambutannya, terdapat 195 jenis produk hilir yang dapat dihasilkan dari minyak sawit, mulai dari pangan, oleokimia, biofuel, hingga biomaterial. Hilirisasi memberi nilai tambah, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai global. Namun, hilirisasi membutuhkan kebijakan yang konsisten, iklim investasi yang kondusif, infrastruktur yang memadai, dan akses pasar yang luas.

Tantangan global dan kewaspadaan karhutla

Eddy mengingatkan bahwa isu keberlanjutan, ketertelusuran, perubahan iklim, dan berbagai persyaratan pasar internasional akan semakin menentukan persaingan global. Menurut dia, industri sawit harus menghadapinya dengan data yang kuat, standar yang kredibel, diplomasi perdagangan, dan komunikasi yang lebih efektif.

Dalam kesempatan yang sama, ia mengajak seluruh perusahaan anggota meningkatkan kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau 2026. Titik panas dan kabut asap masih terjadi di sejumlah daerah di selatan khatulistiwa, seperti Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Sumatera Selatan, dan Jambi. Anggota diminta memperkuat sistem pencegahan, memastikan kesiapan sarana pengendalian, serta berkoordinasi dengan pemerintah daerah, masyarakat, dan pihak terkait. Anggota juga diimbau membantu memadamkan api di kebun masyarakat sekitar.

GAPKI juga meminta perusahaan segera melakukan pengecekan lapangan (ground check) jika areal kebunnya terindikasi titik panas. Jika memang terjadi kebakaran, perusahaan perlu segera menyusun kronologi kejadian, yang mencakup luas areal terbakar, sumber api, dan upaya pemadaman, serta diketahui oleh aparat pemerintah daerah setempat dan aparat penegak hukum. Prinsip menangani persoalan dengan data dan solusi, bukan saling menyalahkan, juga menjadi bagian dari arah transformasi yang diusung GAPKI.[2]

Kolaborasi untuk masa depan sawit

Bagi GAPKI, transformasi industri sawit pada akhirnya bukan hanya mengenai teknologi. Eddy menempatkannya sebagai upaya meningkatkan produktivitas, memperbaiki tata kelola, memperkuat kemitraan dengan pekebun, meningkatkan nilai tambah, dan membangun daya saing Indonesia di pasar global. Penguatan tata kelola dan keberterimaan sertifikasi di pasar internasional juga didorong melalui kerangka seperti roadmap ISPO–DCF.[3]

“Mari kita bangun transformasi sawit dengan semangat kolaborasi: pemerintah kuat, dunia usaha maju, pekebun sejahtera, dan industri sawit Indonesia semakin berdaya saing.”

Ia berharap IPOS Forum 2026 tidak berhenti pada diskusi, tetapi menghasilkan gagasan dan rekomendasi konkret yang dapat dilaksanakan bersama. Rangkaian agenda forum tersebut juga tersedia di laman IPOS Forum GAPKI.[4]

Inti enam arah transformasi

Produktivitas • Peremajaan Sawit Rakyat • Tata kelola berbasis data • Penyelesaian persoalan struktural • Daya saing perdagangan • Hilirisasi — ditopang kolaborasi dan kewaspadaan karhutla.

Catatan redaksi: Artikel ini merangkum sambutan Ketua Umum GAPKI dalam IPOS Forum 2026 berdasarkan naskah resmi yang diberikan.

Post View : 65