NGOBROL BARENG GAPKI
Selasa, 2 Juni 2020
Teknologi Menjadi Kunci “New Normal” Perkebunan Sawit Pasca Pandemi COVID-19
Selama pandemi COVID-19 kegiatan di perkebunan dan PKS berjalan normal karena secara alami kegiatan operasional antara karyawan telah berjarak dan penularan dari luar terkendali karena program pemerintah PSBB dll. Pelonggaran PSBB tidak berarti bahwa masalah COVID-19 sudah selesai. Virus COVID-19 akan ada bersama kita sampai ditemukannya vaksin dan WHO memperkirakan perlu waktu 5 tahun untuk mendapatkan vaksin COVID-19. Dengan sifat yang sangat menular, maka COVID-19 harus dicegah masuk ke lingkungan perkebunan agar tidak menjadi penyakit endemik di perkebunan yang akan mengganggu. GAPKI sudah mensosialisasi protokol COVID-19 tetapi apakah sudah mencukupi? Karena itu tema “new normal” perkebunan sawit pasca pandemi COVID-19 menjadi penting dan sangat relevan dengan kondisi saat ini.
Dalam Ngobrol Bareng GAPKI yang diselenggarakan oleh GAPKI pada hari Selasa, 2 Juni 2020 melalui aplikasi ZOOM, mengundang Prof. Dr. Chairul Anwar Nidom Guru Besar Biokimia dan Biologi Molekuler Universitas Airlangga, Dr. Winarna S.P., M.P. Peneliti dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS), Ir. M. Hadi Sugeng Chief Agronomy and Research PT. Astra Agro Lestari, Tbk. / Ketua Bidang Implementasi ISPO GAPKI dan Bpk. Kacuk Sumarto Direktur Utama PD. Paya Pinang / Wakil Ketua Umum I GAPKI sebagai pembahas. Acara ini banyak diminati oleh pelaku usaha dan pemerhati perkebunan sawit, dengan peserta lebih dari 200 orang.
Sesi ini dibuka dan ditutup oleh Sekretaris Jenderal Gapki Lakshmi Sidarta dan dimoderatori Direktur Eksekutif GAPKI Mukti Sardjono. Lebih dari 25 peserta mengajukan pertanyaan baik secara langsung maupun melalui fasilitas chat yang ditujukan kepada narasumber selama acara Ngobrol Bareng.
Prof Nidom menyampaikan virus COVID-19 dapat dikatakan sangat berbahaya, virus ini terus menyebar melalui aliran darah sehingga singgah dan menyerang keseluruh organ tubuh. Pembuatan vaksin virus terbilang sangat sulit sehingga untuk mengatasinya saat ini adalah dengan membangun imunitas tubuh. Konsumsi empon-empon baik sebagai jamu maupun sebagai bumbu makanan dapat menangkal virus corona baik melalui peningkatan imunitas manusia atau membunuh virus. Empon-empon ini mengandung curcumin yang dapat mencegah perkembangan virus COVID-19 dalam tubuh. Empon-empon ini sangat memungkinkan dibudidayakan sebagai tanaman rumah tangga, yaitu dengan memanfaatkan areal sebagai TOGA (Tanaman Obat Keluarga).
Dr. Winarna menyatakan bahwa pada dasarnya kita harus melakukan kegiatan agronomis yang meminimumkan kontak antar manusia karena penggunaan tenaga kerja yang besar dan saling bersinggungan secara fisik akan memperbesar peluang terjadinya penularan COVID-19 ke areal kebun dan juga penularan COVID-19 didalam wilayah perkebunan. Cara yang paling efektif untuk meminimalkan kontak antar manusia adalah dengan memanfaatkan teknologi baik dalam agro-input (seperti pupuk dan obat-obatan) maupun mekanisasi, otomasi dan pemanfaatan teknologi informasi. Dengan penggunaan agro-input yang lebih efektif, maka load pekerjaan menjadi lebih rendah dan keperluan tenaga berkurang. Mekanisasi dan otomatisasi juga akan mengurangi jumlah tenaga, teknologi informasi akan mengurangi kontak antar pegawai.
Hadi Sugeng menyampaikan perusahaan sangat ketat mengimplementasikan Protokol GAPKI mencegah COVID-19. Implementasi teknologi yang sangat intensif di perkebunan (khususnya group Astra) menjadi faktor kunci, sehingga mengurangi kegiatan yang sebelumnya memerlukan kontak fisik seperti kunjungan kantor pusat ke kebun, monitoring kegiatan dll. Dalam aspek sosial, perusahaan mengikuti arahan-arahan dari Pemerintah dan MUI, menyediakan kebutuhan sehari-hari pekerja dan kelauarganya melalui koperasi sehingga mengurangi orang luar masuk ke lingkungan perkebunan dan dengan penerapan protokol yang ketat untuk pengadaan dan distribusi logistik.
Implementasi teknologi di Astra sebenarnya bukan semata-mata ditujukan untuk mengatasi masalah COVID-19, tetapi implementasi teknologi secara langsung berdampak mengurangi jumlah pekerja dan mengurangi kontak fisik antar pekerja sehingga mengurangi risiko penularan COVID-19. Menurut Hadi Sugeng, meskipun implementasi teknologi yang digunakan Astra cukup mahal, tentapi implementasi tersebut mampu mengurangi biaya secara signifikan. Keuntungan tambahan adalah di implementasi teknologi tersebut sejalan dengan normal baru di pasca pandemi yaitu menjaga jarak.
Kacuk Sumarto Pimpinan PD Paya Pinang sebagai pembahas menyatakan dengan sifat virus yang sangat membahayakan seperti yang telah diuraikan Prof. Nidom, memang COVID-19 harus dijauhkan dari kebun untuk menjaga keberlanjutan perkebunan. Penerapan teknologi seperti yang dilakukan Astra memang akan dapat meningkatkan efisiensi perusahaan, sekaligus akan mengurangi kontak antar manusia, namun teknologi memang membutuhkan dana awal yang tidak sedikit. Oleh sebab itu, dalam transformasi pengelolaan baru perkebunan, aspek feasibility finansial perlu diperhatikan, khususnya untuk perusahan perkebunan skala kecil. Kacuk juga menyampaikan bahwa masukkan dari para narasumber sangat bermanfaat, untuk dimanfaatkan dalam penyempurnaan Protokol Pencegahan COVID-19 Pasca Pendemi.
Ngobrol Bareng GAPKI (Pertemuan II) – 2 JUNI 2020
