Di Dunia Ini Benarkah Sawit Itu Monokultur Yang Paling Luas?…

Benarkah Perkebunan Kelapa Sawit Merupakan Tanaman Monokultur Terluas Di Dunia?.. (Mitos 2-04)

Pada umumnya, komoditas pertanian utama dunia dibudidayakan secara monokultur. Gandum, jagung, kacang-kacangan, padi, dan tanaman lainnya yang ditanam di berbagai negara dibudidayakan secara monokultur. Menurut data USDA (2022), luas areal gandum dunia mencapai 221 juta hektar, luas areal jagung dunia mencapai 202 juta hektar, dan luas areal padi dunia mencapai 167 juta hektar (Gambar 3). Demikian juga dengan tanaman minyak nabati dunia yakni kedelai, rapeseed, bunga matahari dan kelapa sawit juga dibudidayakan secara monokultur.

Berdasarkan data tersebut menunjukkan bahwa perkebunan kelapa sawit dunia bukanlah tanaman monokultur yang terluas di dunia. Tanaman gandum, jagung, padi, maupun tanaman minyak nabati lainnya masih jauh lebih luas dibandingkan kelapa sawit.

Budidaya secara monokultur pada sektor pertanian dinilai rasional karena memiliki keunggulan yakni mampu mencapai economic of scale dan menghasilkan produktivitas tinggi. Memang harus diakui bahwa budidaya secara monokultur juga memiliki kelemahan antara lain resiko penyakit dan isu keanekaragaman hayati.

Perkebunan kelapa sawit sebetulnya tidak dapat dikategorikan sebagai monokultur murni seperti tanaman minyak nabati lainnya. Pada fase penanaman dan pemeliharaan Tanaman Belum Menghasilkan (TBM), di sela-sela tanaman kelapa sawit ditanam tanaman cover crop berupa tanaman kacang-kacangan (Prawirosukarto et al., 2005; Yasin et al., 2006; PASPI Monitor, 2021x). Selain itu, pelaku usaha perkebunan kelapa sawit juga mengembangkan berbagai pola integrasi seperti integrasi sawit dengan tanaman pangan (Partohardjono, 2003; Singerland et al., 2019; Baihaqi et al., 2020; Kusumawati et al., 2021) pada masa TBM/Immature dan integrasi sawit-ternak pada fase Tanaman Menghasilkan/Mature (Batubara, 2004; Sinurat et al., 2004; Ilham dan Saliem, 2011; Utomo dan Widjaja, 2012; Winarso dan Basuno, 2013).

Secara alamiah seiring dengan bertambahnya umur, tanaman kelapa sawit juga mengalami pertumbuhan biodiversitas. Karakteristik perkebunan kelapa sawit yang memiliki siklus produksi (life span) selama 25-30 tahun memungkinkan tumbuh berkembangnya kembali biodiversitas seperti pada hutan seiring dengan pertambahan umur tanaman kelapa sawit (PASPI Monitor, 2021a).

Studi Santosa et al. (2017) mengungkapkan bahwa jumlah jenis biodiversitas pada perkebunan kelapa sawit dewasa tidak selalu lebih rendah dibandingkan dengan biodiversitas yang ada pada lahan sebelum dijadikan perkebunan kelapa sawit (ecosystem benchmark) maupun biodiversitas pada areal berhutan (High Conservation Value/HCV), akibat dari pertumbuhan biodiversitas kebun sawit seiring dengan meningkatnya umur kebun sawit. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika studi Beyer et al. (2020) dan PASPI Monitor (2021a) mengungkapkan dalam konteks ekosistem global, Species Richness Loss (SRL) per liter minyak nabati dari perkebunan kelapa sawit lebih rendah dibandingkan dengan pada tanaman minyak nabati lainnya seperti minyak kedelai, minyak rapeseed, minyak biji bunga matahari, minyak kacang tanah, dan minyak zaitun.

Dengan demikian cukup jelas bahwa budidaya monokultur pada perkebunan kelapa sawit hanya terjadi pada fase land clearing dan penanaman. Setelah fase tersebut, perkebunan kelapa sawit justru berkembang menjadi polikultur baik melalui integrasi sawit-tanaman pangan, sawit-sayuran, sawit-buah, sawit-ternak, dan pola integrasi lainnya maupun pertumbuhan alamiah biodiversitas. Sistem budidaya integrasi (polikultur) kelapa sawit dengan komoditas pertanian yang demikian mendukung kelestarian biodiversitas di dalam areal perkebunan kelapa sawit (Ghazali et al., 2016) sekaligus juga menjadi solusi dari upaya untuk mencegah degradasi lahan dan penurunan emisi GRK (Khasanah et al., 2020). Hal yang demikian, apakah ditemukan pada tanaman minyak nabati yang lain?

Sumber: Mitos & Fakta Kelapa Sawit – Edisi 4

Post View : 3245