Jakarta – Peran petani sawit tidak bisa dikesampingkan di Indonesia. Bahkan, dengan total luas perkebunan sawit 16,38 juta hektar, sebanyak 41 persen atau 6,87 juta ha dikelola oleh petani. Maka dari itu, Pakistan yang tiap tahun hampir 3 juta ton mengimpor sawitnya dari Indonesia memberikan efek rambatan kepada perekonomian masyarakat banyak. Hal tersebut diungkap oleh Ketua Departemen Hubungan Internasional Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO), Djono A Burhan saat diundang Kedubes Indonesia pada seminar Internasional “Sustainibillity of Palm Oil Industry and Its Derivative Producs” di Islamabad, Pakistan (26/6/2024).

Dalam seminar itu, Djono yang merupakan Alumni Magister The University of Auckland, New Zealand, menyampaikan bahwa sawit menjadi ekonomi masyarakat Indonesia yang tersebar di 22 provinsi, dari Aceh sampai Papua. Oleh karena itu peran Pakistan untuk ekonomi petani sawit sangat strategis. “Setiap Pakistan mengimpor minyak kelapa sawit dari Indonesia berarti telah membantu kesejahteraan petani sawit apalagi saat ini Pakistan merupakan importir ketiga minyak kelapa sawit dari Indonesia dan saya hadir disini mewakili petani sawit menyampaikan ucapan terima kasih,” ujar Djono yang juga Sekretaris DPW APKASINDO Provinsi Riau.
Ucapan terimakasih tersebut sangat beralasan kata Djono, karena setiap kali Pakistan mengimpor minyak sawit ke Indonesia, maka juga telah membantu keberlanjutan dan kehidupan dari petani kelapa sawit diseluruh Indonesia. “Karena petani kelapa sawit paling terdepan dan juga tulang punggung dari minyak sawit yang mereka impor. Di sana kita menekankan bagaimana sosial impact dan multiplier effect masyarakat khususnya masyarakat perdesaan, hingga mendapatkan manfaat oleh masyarakat Pakistan karena di Pakistan sendiri bahwa minyak sawit banyak digunakan sebagai minyak goreng atau juga minyak goreng yang sedikit dibekukan,” kata Djono.
Pada sesi diskusi ada juga hal yang menarik karena salah satu akademisi di Pakistan yang menanyakan strategi Indonesia menuju 2045 Indonesia Emas yang sudah menargetkan produksi 100 juta ton. Padahal, produksi nasionalnya saat ini baru sekitar 50 juta ton CPO per tahun. Kemudian Djono menjawab bahwa karena sawit itu adalah identik dengan ekonomi kerakyatan, ada juga basis UKMK dan sampai ke teknologi tinggi. Beda jauh dengan pertambangan misalnya, kata Djono. Misalnya pertambangan batubara yang dapat dipastikan hanya dikelola oleh korporasi besar sehingga multiplier effectnya jauh dibawah hulu-hilir sawit.
“Dampak banyaknya masyarakat yang menggantungkan ekonominya ke sawit telah menjadikan industri hulu-hilir sawit sangat sensitive terhadap naik turunnya harga CPO dan kaitannya ke harga TBS petani” lanjut Djono. Untuk antisipasi itu, lanjut Djono lagi, bahwa pemerintah saat ini menggenjot percepatan hilirisasi di level koperasi petani sawit. Artinya petani sawit harus bisa mengolah TBS-nya sendiri menjadi CPO sehingga margin yang diterima akan lebih stabil jika terjadi penurunan harga CPO.
Target tersebut juga tertuang dalam Draft RUU Komoditi Strategis Indonesia yang sedang finalisasi sehingga perlindungan kepada pelaku usahataninya lebih koprehensif dan terencana. “Indonesia Emas 2045 adalah bagian terpenting dari ekonomi sawit Indonesia dan kami petani sawit sangat tertolong jika sawit masuk dalam kelompok tanaman strategis,” ucap Djono.
Lebih lanjut, ada juga pertanyaan Sekretaris Jenderal PFMA, bahwa Pakistan pernah kekurangan impor minyak sawit di masa lalu, bagaimana cara Indonesia bisa menjaga suplai dalam negeri dan juga untuk ekspor keluar negeri. Apalagi, di satu sisi pemerintah menahan pembukaan lahan baru atau moraturium. Oleh karena itu, Djono menjelaskan bahwa saat ini Indonesia sedang berusaha untuk intensifikasi dan petani sawit sangat mendukung target 2045 memproduksi 100 juta ton CPO melalui berbagai cara yang tentunya mengedepakan prinsip keberlanjutan.
“Dimulai dari penelitian, dari bibit kelapa sawit yang meningkatkan produktivitas terus juga teknologi-teknologi sekarang sedang mendorong untuk menciptakan teknologi, untuk mengecek ROA atau rendemen dan juga petani kelapa sawit sampai saat ini sudah gencar dengan ekonomi sirkuler. Bagaimana petani kelapa sawit memanfaatkan kembali buah TBS yang dikirimkan ke pabrik diambilkan kembali atau tankosnya untuk dijadikan pupuk organik, dan ini juga terbukti untuk meningkatkan produktivitas yang ada dikelapa sawit,” paparnya. Di samping itu, Djono mengatakan pemerintah juga sedang gencar peremajaan tanaman sawit untuk mendorong peningkatan produktivitas.
“Terimakasih Pakistan telah menjadi pelanggan minyak sawit Indonesia, kami petani sawit sangat menghargai dan tetap ingin berkomunikasi untuk saling mendukung, tutup Djono disesi diskusi yang langsung diapplause oleh semua peserta seminar,” tandasnya.
Sumber: sawitindonesia.com