Minyak Sawit: Berkah atau Bencana bagi Negara Miskin? Temukan Faktanya..

Kehadiran minyak sawit merugikan negara miskin (Mitos 4-02)

Penduduk miskin dunia tersebar pada 107 negara. Sekitar 67 persen berada di negara-negara middle countries yang sebagian besar terletak di kawasan Sub Sahara Afrika dan Asia Selatan (UNDP, 2021).

Salah satu aspek kemiskinan dari sudut pandang ekonomi adalah menyangkut daya beli (affordability) atas pangan dengan pendapatan nominal dan harga-harga produk yang dibeli. Minyak nabati (edible oils) merupakan salah satu bahan pangan sumber gizi dan sumber minyak/lemak yang direkomendasikan FAO untuk dikonsumsi masyarakat dunia.

Terdapat empat minyak nabati yang dikonsumsi secara global yakni minyak sawit, minyak kedelai, minyak rapeseed dan minyak bunga matahari. Diantara keempat minyak nabati tersebut, harga minyak sawit relatif lebih murah (kompetitif) dibandingkan harga minyak nabati lainnya. Ketersediaan produk pangan berbasis minyak sawit dengan harga yang relatif murah dapat meningkatkan daya beli dan keterjangkauan (affordability) penduduk miskin. Dengan pendapatan nominal yang relatif tetap, volume minyak sawit (atau produk pangan berbasis minyak sawit) yang dapat dikonsumsi masyarakat miskin lebih banyak dibandingkan dengan minyak nabati lain yang harganya lebih mahal.

Hal ini menguntungkan bagi negara berpendapatan rendah yang juga menjadi negara importir minyak sawit seperti India, Pakistan, Bangladesh dan negara-negara di Kawasan Afrika. Mehta (2020) dan Janmohammed (2020) mengungkapkan bahwa masyarakat berpendapatan menengah ke bawah di India, Pakistan dan Bangladesh lebih banyak mengkonsumsi minyak sawit sebagai cooking oil dibandingkan minyak nabati lainnya.

Hasil studi Kojima et al., (2016) pada negara-negara berpendapatan dibawah USD 1,000 mengungkapkan bahwa elastisitas harga (own price elasticity) minyak sawit lebih inelastis dibandingkan dengan minyak nabati lain. Hal ini berarti perubahan harga minyak sawit tidak terlalu mempengaruhi konsumsi minyak sawit pada masyarakat miskin. Elastisitas pendapatan (income elasticity) minyak sawit sangat elastis. Jika terjadi peningkatan pendapatan pada masyarakat miskin, maka akan meningkatkan konsumsi minyak sawit yang lebih besar dari persentase kenaikan pendapatan (Yulismi dan Siregar, 2007). Hal ini menunjukkan bahwa minyak sawit relatif pro-poor dibandingkan dengan minyak nabati lain.

Disparitas harga minyak sawit dengan tiga minyak nabati lainnya di pasar global berkisar antara USD 100-200 per ton di atas harga minyak sawit. Rendahnya harga minyak sawit tersebut menguntungkan bagi seluruh masyarakat global, khususnya masyarakat miskin atau berpendapatan rendah (PASPI Monitor, 2021t). Harga minyak sawit yang lebih kompetitif (murah) juga menjadikan minyak sawit memiliki peran lain yakni sebagai peredam peningkatan harga yang berlebihan pada minyak nabati lainnya.

Hal ini berkaitan dengan hubungan substitusi antara minyak sawit dengan minyak nabati lain. Studi Kojima et al., (2016) mengungkapkan bahwa jika harga minyak kedelai (atau minyak rapeseed, minyak biji bunga matahari) mengalami kenaikan, masyarakat akan berpindah ke minyak sawit. Dengan mekanisme yang demikian, maka harga minyak nabati lainnya tidak akan meningkat secara berlebihan.

Uraian di atas menunjukkan bahwa kehadiran minyak sawit menguntungkan konsumen khususnya penduduk miskin atau berpendapatan rendah. Ketersediaan minyak sawit yang stabil sepanjang tahun dan dengan harga yang relatif murah akan meningkatkan ketersediaan (availability) dan keterjangkauan (affordability) masyarakat miskin terhadap sumber pangan baik berupa minyak sawit maupun produk- produk berbasis minyak sawit.

Sumber: Mitos & Fakta Kelapa Sawit – Edisi 4

Post View : 1180