Industri Sawit: Benarkah Hanya Memperburuk Ketimpangan Ekonomi?

Industri sawit memperburuk ketimpangan ekonomi (Mitos 4-05)

Ketimpangan ekonomi menjadi salah satu isu yang terjadi pada hampir setiap negara dalam proses pembangunan. Disparitas ekonomi antara sektor industri versus pertanian, kota versus desa, sektor modern versus tradisional, merupakan bagian dari ekspresi ketimpangan ekonomi. Apakah disparitas yang demikian merupakan cerminan dari ketimpangan ekonomi yang makin buruk, hal tersebut masih menjadi polemik diantara ahli pembangunan.

Sebagaimana yang telah diungkapkan sebelumnya bahwa perkebunan kelapa sawit dikembangkan di daerah pedalaman, terisolir, dan pinggiran. Daerah dimana tingkat perekonomian dan kesejahteraan masyarakatnya jauh tertinggal dibandingkan dengan daerah sekitarnya apalagi perkotaan.

Seiring dengan tumbuh kembangnya perkebunan kelapa sawit, roda- roda ekonomi daerah tersebut pun berputar lebih kencang, lebih luas serta menciptakan “kue ekonomi” yang semakin besar dan makin beragam sehingga tingkat ekonomi dan kesejahteraan masyarakatnya secara bertahap meningkat mengejar ketertinggalan dari daerah lain yang lebih dahulu maju.

Perkebunan kelapa sawit yang merupakan pioneering di daerah tersebut berhasil menggerakkan sektor-sektor ekonomi lain sehingga menciptakan pusat-pusat ekonomi baru di daerah pedesaan. Daerah-daerah sentra sawit yang tadinya daerah degraded economy berubah menjadi daerah maju dan lebih sejahtera.

Isu ketimpangan pada daerah sentra sawit menjadi isu yang saat ini banyak didiskusikan. Eksklusifisme pada perkebunan kelapa sawit yang dinilai hanya menciptakan pendapatan (income generating) bagi pihak yang terlibat secara langsung, ditengarai menjadi penyebab tingginya ketimpangan pendapatan.

Isu ketimpangan yang dikaitkan dengan perkebunan kelapa sawit terbagi menjadi dua yaitu: Pertama, ketimpangan perekonomian terjadi pada level provinsi dan kabupaten yakni antara daerah sentra sawit versus daerah non-sentra sawit. Kedua, ketimpangan pendapatan yang terjadi di level desa yakni antara masyarakat perkebunan kelapa sawit versus masyarakat non-perkebunan kelapa sawit.

Kehadiran perkebunan kelapa sawit sebagai agen pembangunan di wilayah pedesaan yang terisolir, terpinggirkan, dan degraded land, justru menjadi solusi untuk meningkatkan pertumbuhan sekaligus mengurangi ketimpangan. Perkebunan kelapa sawit menghasilkan multiplier effect yang besar dan luas (inklusif). Pertumbuhan perkebunan kelapa sawit bukan hanya meningkatkan pendapatan masyarakat yang terlibat langsung baik sebagai petani maupun karyawan perusahaan, tetapi juga masyarakat non- kebun yang bekerja di sektor lainnya (Gatto et al., 2017).

Secara umum, pembangunan perkebunan kelapa sawit tidak memiliki dampak yang signifikan terhadap ketimpangan pendapatan rumahtangga petani dan non-petani di pedesaan (Dib et al., 2018; Kubitza et al., 2018). Studi Alamsyah et al. (2020) juga mengungkapkan bahwa perkembangan perkebunan kelapa sawit memiliki dampak yang signifikan pada distribusi pendapatan khususnya di provinsi sentra sawit.

Selain itu, perkebunan kelapa sawit juga mampu menarik pendapatan di daerah non-sentra sawit melalui indirect effect (suplier barang konsumsi) dan induced consumption effect. Hal ini berdampak pada peningkatan pertumbuhan ekonomi baik di daerah sentra sawit maupun daerah non-sentra sawit. Studi Syahza et al. (2019; 2021) juga mengungkapkan bahwa pembangunan perkebunan kelapa sawit dapat mengurangi ketimpangan pendapatan antar golongan masyarakat dan mengurangi ketimpangan ekonomi antar kabupaten/kota.

Uraian di atas menunjukkan bahwa perkebunan kelapa sawit mampu memperbaiki tingkat ekonomi dan kesejahteraan penduduk dari sentra- sentra kemiskinan menjadi pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di pedesaan. Sehingga mempersempit kesenjangan ekonomi antara sektor pedesaan dan perkotaan. Lahirnya middle income class dari masyarakat pedesaan yang dihela oleh perkebunan kelapa sawit, mempersempit jurang ekonomi antara masyarakat petani dengan masyarakat sektor modern.

Sumber: Mitos & Fakta Kelapa Sawit – Edisi 4

Post View : 1232