Industri Sawit Dianggap Gagal Atasi Kemiskinan? Lihat Data Ini!

Industri sawit tidak berkontribusi dalam pengentasan kemiskinan di Indonesia (Mitos 4-04)

Pengentasan kemiskinan merupakan salah satu fokus dan tujuan pembangunan nasional. Bagaimana mengurangi kemiskinan dengan berbagai konfigurasinya menjadi target pembangunan sektoral, industri, daerah, hingga nasional.

Salah satu upaya pemerintah Indonesia untuk mencapai target dalam pengentasan kemiskinan adalah pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan sektor pertanian. Dalam sektor pertanian, pembangunan perkebunan kelapa sawit menjadi salah satu agenda Pemerintah Indonesia dalam rangka meningkatkan pembangunan pedesaan (rural development) dan pengentasan kemiskinan pedesaan (rural poverty alleviation).

Masyarakat miskin pedesaan sebagian besar berada pada daerah pelosok, pedalaman, terisolir dan pinggiran. Pada umumnya, perkebunan kelapa sawit menjadi kegiatan ekonomi pioner di daerah tersebut. Dengan berkembangnya perkebunan yang memproduksi minyak sawit sebagai komoditas unggulan ekspor dan bahan baku industri, diharapkan menjadi lokomotif pembangunan yang mampu menurunkan kemiskinan di wilayah tersebut.

Bukti empiris terkait kontribusi perkebunan kelapa sawit dalam menurunkan kemiskinan telah banyak diungkap oleh para peneliti. Pada level nasional, studi Susila dan Munadi (2008), Joni et al. (2012), dan PASPI (2014) mengungkapkan bahwa peningkatan produksi minyak sawit nasional mampu mengurangi kemiskinan. World Growth (2011) juga mengemukakan bahwa perkebunan kelapa sawit di Indonesia menjadi bagian penting dan signifikan dalam mengurangi kemiskinan.

Goenadi (2008) mengungkapkan bahwa lebih dari 6 juta orang yang terlibat dalam perkebunan kelapa sawit Indonesia keluar dari kemiskinan. Senada dengan studi tersebut, Edwards (2019) juga memperkirakan bahwa sekitar 2.6 juta masyarakat Indonesia terangkat dari kemiskinan. Selain kedua studi di atas, Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (2019) mengungkapkan sejak tahun 2000, sekitar 1.3 juta penduduk pedesaan dan sekitar 10 juta penduduk Indonesia berhasil keluar dari kemiskinan melalui pertumbuhan industri sawit.

Peranan perkebunan sawit dalam pengurangan kemiskinan juga signifikan terjadi di negara-negara produsen minyak sawit lainnya (World Bank, 2011) seperti di Malaysia (Norwana et al., 2011), Papua New Guinea (ITS Global, 2012), Nigeria (Adebo et al., 2015), Ghana (Ayodele, 2010), dan Kolombia (Castiblanco et al., 2015; Qaim et al., 2020; Porter, 2020). Hal ini menunjukkan bahwa perkebunan kelapa sawit telah menjadi salah satu driver pengurangan kemiskinan di negara-negara produsen minyak sawit dunia (PASPI Monitor, 2021aa).

Sementara itu pada level daerah, peningkatan produksi minyak sawit di sentra-sentra perkebunan kelapa sawit berkaitan erat dengan penurunan kemiskinan secara signifikan (PASPI, 2014; Syahza et al., 2019). Studi Alamsyah et al. (2020) mengungkapkan bahwa perkembangan perkebunan kelapa sawit di sepuluh provinsi sentra sawit Indonesia, terbukti secara signifikan menurunkan jumlah masyarakat miskin baik di wilayah pedesaan dan perkotaan. Studi tersebut juga mengungkapkan untuk menurunkan 1 persen jumlah orang miskin di wilayah pedesaan dan perkotaan, dibutuhkan ekspansi perkebunan kelapa sawit seluas 1.05 juta hektar. Sedangkan untuk menurunkan 1 persen jumlah orang miskin di pedesaan, dibutuhkan ekspansi perkebunan kelapa sawit seluas 959.7 ribu hektar.

Dengan pertumbuhan produksi minyak sawit, kapasitas perekonomian daerah juga meningkat dalam menghasilkan output, pendapatan, dan penyerapan tenaga kerja baik pada perkebunan kelapa sawit maupun pada sektor lain. Dampak multiplier pembangunan perkebunan kelapa sawit juga dinikmati oleh sektor modern lain di daerah tersebut seperti lembaga keuangan, restoran dan hotel, food processing, electric equipment, dan sektor manufaktur. Hal ini menunjukkan bahwa perkebunan kelapa sawit telah mendorong tumbuh berkembangnya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi yang mampu menurunkan tingkat kemiskinan di daerah tersebut.

Studi PASPI (2014), Kasryno (2015), dan Edwards (2019) mengungkapkan bahwa laju penurunan kemiskinan pada kabupaten- kabupaten yang memiliki kebun sawit terbesar (sentra sawit) lebih cepat dibandingkan dengan kabupaten-kabupaten yang tidak memiliki kebun sawit (Gambar 3).

Pada level pedesaan, kontribusi perkebunan kelapa sawit dalam pengentasan kemiskinan desa juga telah banyak diungkap. Studi Alwarritzi et al. (2015) mengungkapkan bahwa peningkatan pendapatan dari perkebunan kelapa sawit telah berhasil mengangkat rumah tangga petani sawit dari garis kemiskinan.

Studi Santika et al. (2019) mengungkapkan bahwa besarnya kontribusi perkebunan kelapa sawit dalam perbaikan tingkat kesejahteraan sosial ekonomi di pedesaan dapat mengentaskan kemiskinan di daerah pedesaan. Studi Syahza et al. (2020) juga mengungkapkan pembangunan perkebunan kelapa sawit telah menciptakan multiplier effect ekonomi di pedesaan dan meningkatkan indeks kesejahteraan masyarakat pedesaan.

Uraian di atas menunjukkan bahwa perkebunan kelapa sawit berperan dan berkontribusi besar dalam penurunan kemiskinan baik pada level desa, daerah, maupun nasional. Pengembangan perkebunan kelapa sawit yang tersebar di daerah pelosok, pinggiran, terisolir, telah mendorong tumbuh berkembangnya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi sehingga berdampak pada penurunan kemiskinan di daerah tersebut.

Sumber: Mitos & Fakta Kelapa Sawit – Edisi 4

Post View : 1459